the Journal

Archive for the ‘Jas Merah’ Category

Melawan Lupa

leave a comment »


screenshot-from-2016-10-27-07-42-22

Gambar di atas sedang banyak beredar saat ini berkaitan dengan pilkada 2017 dimana salah satu cagub DKI melakukan blunder yang kemudian terkenal dengan kasus Al Maidah 51.

Setidaknya ada tiga hal yang disorot dalam keterangan foto tersebut yaitu sebagai berikut:

Tidak ada orang yang berani melecehkan Islam pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Silahkan menggunakan mesin pencari untuk membaca kasus Priok (1984), Kasus Talangsari (1989), Kasus Sirnagalih (1993), kasus Aceh (1978-2004). Jangan lupa juga untuk mencari siapa yang sedang menjabat sebagai presiden pada tahun-tahun tersebut.

Tidak ada orang yang berani mempermasalahkan suara azan pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Kasus suara azan itu awalnya diributkan karena wakil presiden Jusuf Kalla yang juga merangkap sebagai ketua Dewan Mesjid Indonesia meminta agar mesjid-mesjid hanya memutar pengajian tidak terlalu lama pada saat menjelang waktu salat. Hal ini disampaikan pada pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015). Tapi apakah benar itu hanya diributkan pada era presiden Jokowi menjabat?

Terkait dengan polusi suara yang diakibatkan oleh suara kaset orang mengaji itu sudah lama diatur melalui Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla. Silahkan menggunakan mesin pencari untuk mengetahui apa isi dari instruksi tersebut.

Ngomong-ngomong tahun 1978 itu siapa yang sedang menjabat sebagai presiden?

Tidak ada orang yang berani menistakan Al Quran pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Salah satu kasus menarik adalah mengenai pemilu tahun 1971 dimana partai politik yang terlibat saling jualan ayat Quran untuk melegitimasi partai mereka. Salah satu artikel menarik tentang ini bisa dibaca di sini.

Iklan

Written by syahmins

Oktober 27, 2016 at 08:31

Ditulis dalam Bacaan, Jas Merah, Opini, Protes

Tagged with ,

Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI

leave a comment »


Tulisan ini adalah hasil copas.

“Walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta dan Bukittinggi jatuh ke tangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak pernah tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI. Sebuah benang merah sejarah yang terputus…”

Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendopo Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa nyana, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah,di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.

Kedatangan presiden pertama RI itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen,yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar itu, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.
Kedatangan rombongan presidendi sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.

Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu mukadan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasaikembali Sumatera Timur(Sumatera Utara) sekarang.

Asal Muasal Sebutan Bireuen Sebagai Kota Juang

Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang). Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.

Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. Di zaman Revolusi 1945, kemiliteran Aceh dipusatkan di Bireuen.Di bawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen. Pendopo Bupati Bireuen sekarang adalah sebagai kantor DivisiX dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef. Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.

Kemiliteran Aceh yang sebelumnya di Kutaradja, kemudian dipusatkan di Juli Keude Dua (Sekitar tiga kilometer jaraknya sebelah selatan Bireuen-red) di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel HusseinJoesoef, yang membawahi Komandemen Sumatera, Langkat danTanah Karo. Dipilihnya Bireuen sebagaipusat kemiliteran Aceh, lantaran letaknya yang sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur.

Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. Sekarang dia sudah Purnawirawan dan bertempat tinggal di Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Menurut Yusuf Tank, waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank. Peralatan perang itu merupakan hasil rampasantank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua.

Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama di zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh di pusatkan di Juli Keude Dua.

Kendati usianya sudah uzur, Yusuf Tank masih dapat mengingat berbagai semua peristiwa sukaduka perjuangannya masa silam. Salah satu diantaranya tentang peranan Radio Rimba Raya milik DivisiX Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, belanda dan bahasa Arab. Dikatakan, “Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia 20 Desember 1948 untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda di Batavia yang yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda.

Dengan mengudaranya Radio Rimba Raya ke seluruh dunia, masyarakat dunia sudah mengetahui secara jelas bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulanJuni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbangCot Gapu, Soekarno mengatakan,Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia. Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja. Di Kutaradja Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh. Dia menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Ace hmenyumbang dua pesawat terbang untuk Republik.

Presiden Soekarno sempat mogok makan siang alias Ngambek sebelum Abu Beureu’eh memberi jawaban, menyetujui permintaannya itu agar Aceh menyumbang dua pesawat terbang. Kesepakatan para saudagarAceh dengan Abu Daud Beureu’eh, mereka bersedia menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik. Dengan sumber dana obligasi rakyat Aceh, yakni Pesawat Seulawah I dan Seulawah II. Kedua pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh itu adalah sebagai cikal bakal pesawat Garuda Indonesia Airways saat ini. Sedangkan Radio Rimba Raya adalah sebagai cikal bakal Radio RRI sekarang.

Written by syahmins

Agustus 17, 2016 at 13:42

Ditulis dalam Jas Merah

Lawang Sewu – Gedung Sejarah Kereta Api

leave a comment »


Postingannya kembali ke Semarang 😀

Masih dalam rangka iseng dari kunjungan singkat ke Semarang bulan lalu, kali ini ingin cerita mengenai Lawang Sewu. Sebuah kompleks gedung museum kereta api yang pernah juga menjadi momok bagi para pejuang angkatan 45. Gedung ini pernah menjadi penjara bawah tanah ketika Jepang menjajah Indonesia. Akibat dari banyaknya pejuang yang tewas di penjara tersebut, konon bagian yang penjara itu sekarang menjadi tempat wisata uji nyali.

Untuk masuk ke kompleks gedung ini pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000. Jika membawa mobil maka bersiaplah untuk ribet mencari tempat parkir karena gedung ini tidak menyediakan tempat parkir. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu yang tersedia dengan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000 untuk menemani dan menceritakan sejarah gedung ini.

Jika tidak ingin menggunakan jasa pemandu wisata, kita juga dapat langsung mengelilingi kompleks gedung ini dengan menggunakan panduan peta yang terpampang besar di bagian depan kompleks gedung Lawang Sewu ini. Selain denah kompleks, kita juga dapat membawa sejarah singkat kompleks gedung tersebut.

Gedung ini sebenarnya sangat menarik dan indah karena itu gedung yang juga dikenal dengan gedung seribu pintu ini sering dijadikan tempat foto pre wedding. Untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat pre wedding tentu saja harus meminta izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik gedung.

Pada masanya, gedung ini digunakan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Jawa sebagai kantor operasional mereka. Ada dua bagian gedung ini yaitu kantor untuk golongan kulit putih, Tionghoa serta bangsawan dan satu bagian lagi untuk golongan pribumi Jawa.

Perbedaan kedua tempat ini dapat dilihat dari bahan baku bangunannya. Bangunan yang diperuntukkan bagi golongan pertama berbahan baku impor dengan kualitas terbaik. Bahkan marmer lantainya konon diimpor dari Belanda. Sedangkan bangunan yang diperuntukkan bagi pekerja pribumi dibangun dengan menggunakan bahan baku lokal. Contoh bata, semen, genteng dan beberapa engsel pintu dapat dilihat pada gedung pameran yang ada di kompleks gedung ini.

Salah satu selasar pada bagian yang diperuntukkan bagi golongan kulit putih

Pada bagian gedung yang berisikan contoh bahan bangunan asli Lawang Sewu ini juga terdapat satu poster yang berisikan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Salah satu periode sejarah yang ada adalah Atjeh Tram yang fotonya adalah peron di Banda Aceh. Dulunya peron ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman tapi sekarang sudah dihancurkan untuk perluasan Mesjid Raya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sisi bagian dalam gedung, hanya saja ketika ingin melihat penjara bawah tanah tidak diizinkan oleh pemandu yang mendampingi. Alasannya karena bagian gedung yang itu sedang dalam tahap renovasi sehingga tidak ada lampu untuk menerangi lokasi yang terletak di bawah tanah tersebut.

Selain melihat keindahan gedung, pengunjung juga dapat melihat sebuah trem listrik yang sudah tidak digunakan lagi di bagian belakang gedung. Sebuah lokomotif berbahan bakar uap juga terpajang di depan gedung tersebut untuk memperlihatkan masa jaya kereta api di Semarang.

Melihat gedung lama yang sarat sejarah dan terawat ini ada satu perasaan miris yang mampir karena membayangkan saudara tuanya yaitu Atjeh Tram yang berkantor di Banda Aceh sudah tidak terlihat lagi jejaknya. Hanya ada satu lokomotif tua yang terjemur matahari di depan sebuah pusat perbelanjaan di Banda Aceh, selebihnya tidak ada. Seolah kereta api di Aceh hanyalah sebuah dongeng pada zaman dahulu kala yang keberadaannya antara ada dan tiada.

Written by syahmins

Oktober 15, 2014 at 18:49

Kelenteng Agung Sam Poo Kong

leave a comment »


Hari sudah menjelang sore ketika kaki dengan gatalnya ingin diajak jalan. Hasil dari pencarian di Internet, ada beberapa tautan yang menyarankan untuk berjalan ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Hasil pencarian di peta milik Google menunjukkan kalau lokasinya ternyata lumayan jauh untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah malas karena langit sudah gelap dan takutnya kelenteng itu sudah tutup.

Tanya sana-sini dengan petugas hotel dan supir taksi, akhirnya rasa malas itu hilang sendiri 😀

Kelenteng ini buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul sepuluh malam. Pengunjung yang datang menggunakan kendaraan dapat memarkir kendaraannya di halaman parkir yang luas. Ongkos parkir sebesar Rp. 3000 untuk mobil dan Rp. 1000 untuk sepeda motor dibayarkan ketika membeli tiket masuk sebesar Rp. 3000 perorang.

Kompleks ini sendiri terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian yang bisa diakses oleh umum dengan menggunakan tiket masuk di depan serta bagian altar sembahyang yang dikhususkan bagi para pengunjung yang ingin sembahyang. Pengunjung yang tidak ingin bersembahyang tapi ingin masuk ke bagian altar sembahyang harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp. 20.000.

Masuk ke dalam kita langsung disambut sebatang pohon besar yang menaungi sebuah kios. Di kios tersebut pengunjung dapat menyewa pakaian adat Tiongkok untuk berfoto di seputaran kelenteng. Sebuah lapangan terlihat dengan panggung utama yang sangat besar. Berdiri di tengah lapangan sendirian jadi serasa aneh 😀

Beberapa objek menarik dan tak boleh terlewatkan di kelenteng ini adalah:

Lapangan Utama

Dari lapangan ini terlihat sebagian besar isi kompleks kelenteng ini. Ada sebuah tribun yang tiangnya dihiasi dengan ukiran-ukiran indah. Selain itu ada enam buah patung yang seolah menjaga tribun di sisi kanan dan kiri.

Patung Laksamana Zheng He

Terletak di dekat pintu keluar di sisi kiri tribun utama, patung ini berdiri tegak menghadap matahari terbit. Patung raksasa ini merepresentasikan sang Laksamana dan di bagian bawah patung terdapat cerita singkat mengenai sang Laksamana.

Dari cerita penjaga aku baru sadar kalau Laksamana Zheng He adalah yang biasa ku kenal dengan nama Laksamana Cheng Ho.

Altar Sembahyang

Ada beberapa altar sembahyang untuk dewa-dewi yang berbeda di kompleks ini. Beberapa yang kuingat adalah Dewa Bumi dan Dewi Laut tapi altar paling besar adalah altar untuk Sam Poo Kong sendiri. Semua altar tersebut berdiri menghadap ke arah timur tempat terbitnya matahari dan secara kebetulan juga menghadap ke arah tribun utama. Untuk masuk ke altar sembahyang ini, pengunjung harus membayar tiket lagi sebesar Rp. 20.000. Jumlah ini sebanding dengan beberapa hal yang bisa dilihat di dalam kompleks altar sembahyang.

Relief Cerita Sam Poo Kong

Pada bagian ini diceritakan mengenai perjalanan Sam Poo Kong. Ada cerita ketika dia mendarat di Malaya, Jawa, Samudera Pasai, dan lainnya. Satu hal yang unik, ada satu bagian relief yang bercerita mengenai ekspedisi tersebut mampir ke Mekah untuk menunaikan haji. Bagian ini hanya tergambar saja tidak tertulis seperti cerita yang lainnya.

Gua Batu

Ada dua gua batu yang baru dan lama. Gua batu baru terletak di bagian atas altar sembahyang diantara relief cerita berisikan sebuah altar dengan beberapa patung se. Menurut cerita dari penjaganya, patung-patung tersebut salah satunya adalah patung Sam Poo Kong alias Laksamana Cheng Ho.

Gua batu lama terletak di bagian bawah. Gua batu lama ini adalah bangunan asli di kompleks ini. Menurut cerita ini adalah tempat pasukan Sam Poo Kong meletakkan altar sembahyang ketika mereka mendarat di daerah Semarang. Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam gua, tetapi bisa mengintip saja melalui jeruji yang ada di pintu masuk.

Replika Perahu dan Pohon Rantai

Replika perahu terletak di bagian bawah di sebelah altar sembahyang utama. Pada bagian ini kita dapat melihat sebuah replika perahu dari beton dengan sebatang pohon di tengahnya. Masih menurut cerita dari penjaga, konon pohon itu adalah pohon paling tua di dalam kompleks kelenteng ini.

Selain pohon tersebut, ada satu lagi pohon unik yang sulurnya menyerupai rantai. Konon sulur itu yang dipakai untuk mengikat tiang di kapal. Daun pohon yang lebat tersebut menaungi sebuah gundukan yang dulunya merupakan tempat untuk membersihkan pusaka kelenteng. Pusaka-pusaka tersebut adalah peninggalan dari ekspedisi Sam Poo Kong di Semarang.

Makam Kiai Jangkar

Terletak pada sebuah cungkup di dekat replika perahu, bagian ini menampilkan sebuah jangkar kapal yang konon adalah jangkar dari salah satu kapal ekspedisi Sam Poo Kong. Jangkar ini dibalut dengan kain berwarna merah serta diberikan kalungan bunga melati untuk memuliakannya.

Di sebelahnya ada satu cungkup lagi yang konon berisikan beberapa benda pusaka peninggalan ekspedisi Sam Poo Kong.

Satu hal yang jelas, untuk mengunjungi kelenteng ini sangat tidak disarankan untuk datang pada malam hari. Anda tidak akan dapat menikmati keindahannya secara tuntas pada malam hari.

Kebanyakan foto-foto di kamera hilang karena memori kamera kebetulan error. Hiks… Tapi beberapa yang berhasil diselamatkan bisa dilihat di bawah ini.

Papan nama kompleks Kelenteng Agung Sam Poo Kong.

Beranda di salah satu pintu masuk, ini adalah satu-satunya bangunan bergaya Jawa di kompleks ini.

Salah satu bangunan kecil yang ada di sisi lapangan utama.

Denah Kompleks kelenteng.

Tribun utama pada malam hari.

Written by syahmins

Agustus 24, 2014 at 10:22

Museum Negeri Aceh

leave a comment »


Museum Negeri Aceh adalah sebuah kompleks bangunan yang terdiri dari satu Rumoh Aceh, satu gedung pameran utama, satu gedung pameran sementara, dan beberapa gedung lain yang tidak diketahui apa isi dan kegunaannya. Jujur saja, untuk ukuran orang Aceh dan terutama Banda Aceh, museum ini tidak menarik perhatian sedikitpun. Bahkan walaupun kompleks bangunan ini terletak di salah satu jalan utama yang menghubungkan antara Mesjid Raya Baiturahman yang terkenal itu dengan pendopo Gubernur Aceh dan sering dilalui oleh warga kota Banda Aceh.

Hal itu sering jadi pertanyaanku kepada teman-teman yang sering duduk di warung kopi, kapan terakhir ke museum?. Dari seluruh responden (jangan mengira yang ditanya itu banyak ya… namanya juga teman minum kopi) semua menjawab terakhir berkunjung ke museum ketika ada kunjungan wajib dari SD yang mana itu adalah sekitar 15 tahun lalu. Pertanyaan balik dari mereka adalah “memang mau melihat apa di museum?”, yang lain nanya “memang gak ada tempat lain yang lebih menarik? ngapain ke sana?”

Untuk menjawab pertanyaan itu maka aku ajaklah anak-anakku main ke museum ketika mereka libur beberapa bulan yang lalu. Yup ini sebenarnya adalah cerita basi beberapa bulan lalu 😀

Sumber: prettyindonesia.com

Perjalanan menjelajah museum dimulai dengan membeli tiket masuk seharga total Rp. 7500 untuk satu orang dewasa dan dua anak-anak. Dengan penuh heran aku membayar sejumlah itu untuk masuk ke ruang pameran utama. Heran karena itu terlalu murah untuk sebuah gedung penyimpan benda-benda bersejarah. Sekedar informasi tiket untuk masuk ke Rumoh Aceh dijual terpisah.

Sekitar 15 tahun lalu ada patung replika manusia purba sebagai salah satu sajian yang dapat dinikmati, kemudian ada replika beberapa peralatan yang biasa digunakan di dalam Rumoh Aceh. Tapi kini tak terlihat tapi sebagai gantinya ada sebuah prasasti yang disebut juga sebagai Prasasti Neusu Aceh. Entah apa tulisan yang ada di prasasti tersebut karena tidak ada penjelasan mengenai isinya, hanya ada nama dan keterangan tempat ditemukan saja. Selain itu juga ada beberapa guci dan senjata tradisional yang dipamerkan di lantai satu. Hanya itu saja. Lalu kemana semua bahan pameran dulu itu? Termasuk replika perkembangan Mesjid Raya Baiturahman dari masa ke masa itu hilang kemana?

Perjalanan singkat di lantai satu kemudian dilanjutkan ke lantai dua. Disini pengunjung dapat melihat sebuah replika makam Ratu Nahrisyah yaitu seorang sultanah pada kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara sekarang ini. Selain itu juga ada beberapa lukisan mengenai wilayah kerajaan Aceh pada zaman dahulu kala.

That’s it…itu saja… dan selesailah kunjungan di ruang pameran utama Museum Aceh.

Terngiang kembali pertanyaan temanku “memangnya mau lihat apa di sana?”

Tur dilanjutkan ke halaman museum. ada beberapa makam Sultan yang pernah memerintah Aceh tergeletak pasrah tak berdaya di halaman. Rumput terlihat baru saja dipangkas tapi tetap saja terlihat kesan tidak terpelihara dengan baik. Tempat ini hanya sebentar dikunjungi, bisa dikatakan hanya sambil lewat saja.

Kunjungan selanjutnya adalah ke sebuah bangunan kecil yang berisikan satu benda saja yaitu lonceng Cakradonya. Konon ini adalah lonceng yang dipasang di kapal Cakradonya, sebuah kapal perang yang sangat megah pada masanya. Kondisi lonceng ini lumayan memprihatinkan. Karat mulai terlihat di beberapa tempat. Tulisan yang konon ada di pinggiran lonceng sudah tidak terlihat sama sekali.

Selanjutnya yang terakhir adalah kolong Rumoh Aceh. Rumoh Aceh sendiri ketika itu ditutup karena petugasnya sedang keluar. Di bawah Rumoh Aceh ini ada sebuah potongan kayu yang konon adalah sisa dari pohon Kohler, yaitu pohon yang diyakini sebagai tempat Jenderal Kohler tertembak oleh salah satu pejuang Aceh ketika hendak merebut Mesjid Raya Baiturahman. Selain itu ada sebuah gerobak dan sebuah alat penumbuk padi.

Hanya itu benda yang dipamerkan…

Memang beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca di harian Serambi Indonesia bahwa museum saat ini sangat minim dana. Dana yang diberikan oleh pemerintah melalui APBD sangat tidak mencukupi. Pertanyaannya apakah kalimat sakti matee aneuk meupat jeurat matee adat pat tamita (mati anak diketahui kuburnya tapi mati adat mau cari kemana) itu sudah tidak relevan lagi sekarang ini? Museum sebagai salah satu instansi yang juga bertugas menjaga peninggalan sejarah sebagai bagian dari adat harusnya mendapatkan porsi anggaran yang cukup besar untuk pemeliharaan koleksi benda-benda bersejarah.

Jadi ngapain ke museum, apa yang mau dilihat di sana?

Written by syahmins

Juni 17, 2014 at 12:31

Mengunjungi Makam Tan Malaka

with 2 comments


Beberapa waktu belakangan ini heboh soal penemuan makam Tan Malaka di daerah Kediri, Jawa Timur yang merupakan hasil penyelidikan Harry A. Poeze, seorang ahli sejarah Indonesia asal Belanda. Nah menurut beliau, makam ini 90% positif milik Tan Malaka, hanya tinggal menunggu hasil tes DNA dari sebuah rumah sakit.

Berhubung sedang ada tugas dari kantor ke Kota Kediri, maka ada rasa penasaran ingin melihat langsung makam sang Bapak Republik yang terlupakan ini. Beberapa orang yang ditanyai di seputaran Kota Kediri mengaku tidak tahu mengenai lokasi makam tersebut. Berbekal pengetahuan yang minim mengenai lokasi makam tersebut, aku mengambil langkah nekat untuk menyewa sebuah mobil dan mulai berkelana mencarinya. Patokan arah yang kudapatkan dari hasil berkunjung ke beberapa blog adalah mencari desa Selopanggung kemudian mencari makam Mbah Selopanggung. Makam Tan Malaka terletak di sebelah makamnya Mbah Selopanggung.

Bermodalkan patokan arah tersebut akhirnya aku dan sang supir berangkat. Untungnya si om supir yang sedang giat bekerja itu adalah orang yang lahir dan besar di seputaran desa Selopanggung jadi sedikit banyak dia mengerti arah mana yang harus dituju. Tapi dia gak tau mengenai makam Tan Malaka atau makam Mbah Selopanggung. Dengan bermodalkan GPS (Gangguin Penduduk Sekitar) akhirnya kami mendapatkan titik terang mengenai lokasi makam dimaksud.

Untung saja pemandangan sekitar sangat enak dipandang sehingga perasaan bisa sedikit terhibur. Sawah dengan sistem terasering dan beberapa padang rumput juga menemani perjalanan.

Dari jalan utama desa di sebuah simpang tiga, kami berbelok masuk ke sebuah jalan dengan kondisi aspal rusak. Jalanan kecil menurun dengan sebelah kiri jurang dan kanan tebing kecil. Tak seberapa lama kami menjumpai sebuah mesjid tempat banyak anak kecil sedang mengaji. Turun dan bertanya kepada penduduk setempat, mereka langsung memberitahukan tempatnya dengan pasti. Dalam Bahasa Indonesia bercampur Jawa tentunya – yang mana aku sama sekali gak ngerti bahasa Jawa. Setelah beberapa kali bertanya yang mungkin bikin orang yang ditanya itu agak kesal akhirnya aku nekatkan diri lagi untuk maju. Tak jauh dari mesjid tersebut ada sebuah jembatan dengan sungai deras mengalir. Untunglah kami ketemu dengan seorang bapak baik budi yang bersedia mengantarkan kami ke tujuan. Dengan ditemani mendung dan sedikit becek, akhirnya sampai juga kami di dekat lokasi.

Oh ya… sangat disarankan untuk menggunakan motor kalau ingin berkunjung kemari. Jalanannya agak tidak layak untuk dilalui mobil. Harus tega mobil kotor dan agak bergores terkena ranting pohon di pinggir jalan. Bahkan di dekat lokasi makam, hanya ada jalan setapak berlumpur sehingga kalau tidak berhati-hati akan menjebak mobil.

Setelah memutar mobil di jalan sempit dan becek, serta berterimakasih dan mendengarkan sedikit cerita dari si Bapak pengantar (dalam bahasa Jawa fasih, aku cuma ikut ketawa kalo dia ketawa 😀 ) kami siap turun ke lokasi makam. Lokasi makam adalah rimbunan pohon seperti di foto pertama dan kedua berikut.

Perjalanan turun tidak terlalu jauh. Tapi jalanan setapak itu licin bukan main karena hujan yang baru turun siang tadi. Kalau gak percaya bisa lihat pada foto ketiga. Dengan menggunakan sandal yang sama licinnya akhirnya aku mulai bersusah payah turun. Lah udah kepalang tanggung. Target sudah di depan mata 😀 .

Beberapa belas meter turun, ada sebuah sungai kecil yang kelihatannya digunakan untuk mengairi sawah yang ada di bawahnya. Sebuah jembatan kecil dari dahan kayu harus diseberangi dengan bermodalkan sandal yang tapaknya sudah aus dan ditambahi dengan lumpur di sepanjang jalan turun tadi.

Akhirnya sampai juga ke tujuan. Setelah mengkhayalkan hal ini selama beberapa hari, akhirnya aku tiba juga di sini. Eh tapi makamnya yang mana ya? Rupanya tempat yang kami tuju itu adalah kompleks pemakaman umum desa Selopanggung. Berdasarkan keterangan dari si Bapak baik budi tadi, makam mbah Selopanggung terletak di bawah cungkup dan makam Tan Malaka ada di dekatnya. Jadi posisi makam Tan Malaka terletak disebelah belakang kiri jika kita berdiri menghadap cungkup Mbah Selopanggung.

Sungguh sederhana. Bahkan cenderung tak terurus. Semoga aja hasil tes DNA segera keluar sehingga makam ini beserta dengan jalan masuk untuk mengaksesnya bisa segera diperbaiki. Aneh rasanya buat sebuah bangsa yang katanya selalu mengingat jasa para pahlawan mereka tapi bisa melupakan salah satu Bapak Republik ini.

Walaupun belum puas mengambil foto-foto, hujan akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan lokasi makam. Berkejaran dengan hujan yang mulai membasahi baju akhirnya kami tiba kembali di atas tebing dan segera berlari ke mobil. Niat untuk mengambil titik GPS (yang ini beneran Global Positioning System) agar bisa menemukan kembali tempat ini agak terhalang karena aku cuma mengandalkan aplikasi Maps dari Android yang membutuhkan internet untuk mengakses petanya. Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya titik koordinat tersebut berhasil didapatkan.

Untuk mengunduh berkas .kmz untuk melihat lokasi di Google Earth bisa klik di sini semoga bisa bermanfaat untuk memandu mereka yang ingin berkunjung ke makam Tan Malaka.

Written by syahmins

Februari 17, 2014 at 18:15

Tentang Film Soekarno

leave a comment »


Setelah seminggu lebih film Soekarno tayang di bioskop, akhirnya aku tertarik juga untuk nonton. Jujur aja, awalnya aku sama sekali tidak tertarik untuk nonton film ini. Trailer yang beredar jujur aja sangat tidak menarik minat untuk menonton.

Terlepas dari segala kontroversi yang melibatkan beberapa tokoh dan keluarga Presiden Soekarno, film ini memang layak untuk ditonton bersama keluarga. Apalagi dengan membawa anak kecil agar mereka mendapatkan gambaran mengenai presiden pertama negara ini.

Film ini dimulai dengan sebuah himbauan di layar bioskop agar para penonton berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kaget juga pada awalnya. Ragu apakah ada yang akan berdiri dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan atau tidak. Setelah dipancing dengan satu orang penonton berdiri di barisan paling belakang, perlahan semua penonton mulai bangkit dari duduknya dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana khidmat. Tapi yang terbayang di benakku justru sebuah penggalan cerita dari Balada si Roy yang bercerita tentang pengalamannya nonton di sebuah bioskop di Thailand. Pada cerita tersebut dikisahkan bahwa sebelum film diputar, para penonton diwajibkan untuk berdiri hormat dan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin menarik juga bila ini dibuat di Indonesia, menumbuhkan nasionalisme secara lebih modern.

Jalan cerita film ini sendiri agak datar. Banyak tokoh yang beredar tapi tak ada yang menjadi spesial, bahkan tokoh Soekarno, Inggit, Fatmawati, dan Hatta yang notabene adalah tokoh-tokoh utama di film ini terasa kurang kuat. Tapi kalau ditanya apa yang kurang, aku juga gak bisa jawab 😀 Pokoknya aja!

Untuk ukuran film bioskop, film ini berdurasi lumayan panjang. Hampir 3 jam penuh penonton disuguhi dengan jalan cerita mengenai sebagian kecil perjuangan Soekarno hingga ia menjadi salah seorang proklamator kemerdekaan.

Salah satu cerita kontroversial yang berhasil tertangkap adalah ketika Bung Karno berhasil membujuk tetua daerah agar mengizinkan untuk mendatangkan para pelacur dari tanah jawa. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasukan Jepang menculik dan memperkosa para wanita setempat. Salah satu konsep kebijaksanaan awal para pendiri negeri ini 😀

Cerita kontoversial lainnya menyangkut poster Bung Karno yang mengajak rakyat untuk ikut serta dalam PUTERA. Rasanya berbeda membaca kekejaman Jepang ketika itu dengan melihat rekonstruksi kejadiannya di film ini. Lebih terasa sadisnya 😦

Trus yang lainnya? Nonton segera ke bioskop terdekat mumpung masih diputar. Pastinya akan ada warna lain di film Indonesia yang satu ini daripada hanya menjual tubuh dan hantu 😀

Written by syahmins

Desember 24, 2013 at 12:04

Ditulis dalam i s e n g, Jas Merah

Tagged with