Cold Brew Kopi Kapal Api


Postingan ini tidak disponsori oleh Kopi Kapal Api.

Oke, jadi seperti tulisan yang sudah ditebalkan di atas, postingan kali ini tidak disponsori oleh Kopi Kapal Api. Saya menyebut nama merek karena merek tersebut yang saya jadikan bahan percobaan. Jujur saja, metode ini saya tiru dari https://youtu.be/W-KThEmlicI dengan sedikit modifikasi.

Latar belakang cerita dulu ya.

Awalnya di masa karantina karena virus Korona ini, saya merasa kesulitan menemukan tempat ngopi yang lumayan enak baik dari segi rasa maupun harga. Kebetulan status saya saat ini sedang ngekos dengan uang yang agak ngepas. Nah, pada awalnya saya beli kopi merek ini karena penasaran dengan bungkusnya yang kecil sehingga terlihat praktis dan murah. Hahaha. Penjual di toko grosiran biasanya menyebutnya dengan Kapal Api imut karena bungkusnya yang kecil. Harga kopi ini satu renceng (10 bungkus) hanya Rp.5.000 saja di toko grosir. Selain karena bungkusnya, saya beli merek ini juga karena kopi ini ada ampasnya. Paling tidak ini sedikit meredam perasaan bersalah saya bahwa ini bukan kopi instan.

Menurut petunjuk yang tertulis di bungkus bagian belakang, satu bungkus digunakan untuk membuat satu cangkir kopi. Isinya 6,5 gram kopi untuk 200 mililiter air.

 

Seperti biasa, metode awal yang saya buat itu adalah kopi tubruk. Tapi setelah habis satu renceng, saya mulai merasa bosan dengan metode kopi tubruk ini karena menurut saya rasa kopinya kurang nendang. Iseng cari di Google dan akhirnya menemukan video Youtube ini kemudian saya memutuskan untuk mencoba membuat versi modifikasi dari video tersebut. Untuk yang penasaran tapi sedang fakir kuota untuk nonton Youtube silakan ikuti langkah-langkah berikut.

Persiapkan air dengan suhu kamar.

Bukan air panas atau air dari kulkas ya. Cukup air dari dispenser biasa. Karena di kos saya hanya punya tumbler maka saya siapkan air satu tumbler.

air_putih

Tumbler yang saya pakai ini berkapasitas 450 mililiter air. Isinya saya kurangi sedikit agar tidak tumpah ketika ditambahkan bubuk kopi. Untuk wadah air yang digunakan, kalau bisa jangan menggunakan wadah dari plastik karena ditakutkan bau plastik akan menempel di kopi.

Masukkan bubuk kopi.

Jika di video tadi takaran kopinya 30 gram untuk 300 mililiter air maka saya memodifikasi dengan menggunakan 450 mililiter (kurang sedikit, tapi pastinya nggak tahu) dan 19,5 gram kopi atau setara dengan tiga bungkus Kapal Api imut. Langsung dimasukkan ke dalam air yang sudah disiapkan tadi.

kopi

Pengurangan ini saya lakukan karena di kolom komentar pada video tersebut, beberapa kali disebutkan kalau hasilnya itu pahit jika menggunakan takaran 30 gram kopi : 300 mililiter air.

Aduk rata.

aduk

Metode aduk ini menurut saya bebas, boleh pakai sendok logam, sendok plastik, atau lidi. Aduk dan pastikan semua bubuk kopinya sudah terendam.

Tutup dan biarkan di suhu kamar selama 12 jam.

Saya diamkan selama hampir empat belas jam. Tanpa alasan tertentu sih cuma karena saya salah memulai waktu menyeduh kopinya. Fyi, dua belas jam setelah saya rendam kopi itu sekitar jam 7 pagi, dan saya biasanya ngopi paling awal itu sekitar jam 9 pagi.

12 jam kemudian.

Karena di kamar kos saya tidak ada saringan dan saya tidak tega jika harus menyaring dengan pakaian yang ada di lemari, maka kopi itu langsung saya tuang dari tumbler ke gelas.

kopi_jadi

Lagi-lagi karena keterbatasan di kamar kos, maka yang tersedia hanya gelas plastik. Untuk porsi 450 mililiter air (kurang sedikit), saya mendapatkan satu setengah gelas kopi. Lumayan.

Saya juga membuat sebuah eksperimen lain, satu bungkus Kapal Api imut dicampur dengan satu gelas air dengan metode cold brew itu juga masih terasa enak. Gelas yang saya gunakan adalah gelas bening yang ada gagangnya, biasa digunakan di warteg sebagai gelas teh.


Dari segi rasa, kopi ini tidak kalah dengan kopi versi kafe. Paling tidak untuk lidah saya yang tidak manja dengan varian kopi tertentu. Pahitnya pas untuk lidah saya.

Kekurangan kopi versi ini adalah memerlukan persiapan yang lumayan lama. Selain itu karena ini bukan kopi panas jadinya malah rasanya cuma seperti numpang lewat saja. Pas menjelang sore hari saya sudah agak linglung “eh tadi pagi ada ngopi gak ya?” Hahaha.