the Journal

Archive for the ‘Raon’ Category

Tarif Taksi Bandara Sultan Iskandar Muda

leave a comment »


Tarif taksi dari bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Sekedar informasi, ada dua jenis taksi yang beredar di bandara SIM yaitu taksi yang bernaung di bawah koperasi TNI AU serta taksi yang bernaung di bawah koperasi desa setempat. Keduanya menggunakan plat hitam. Perbedaan dari keduanya hanya di seragam mereka saja.

Written by syahmins

Desember 27, 2016 at 15:44

Cara Mendapatkan Mileage Garuda Secara Gratis

with one comment


Mileage Garuda Indonesia atau biasa disingkat dengan GFF alias Garuda Frequent Flyer adalah salah satu layanan yang diberikan oleh Garuda Indonesia kepada pelanggannya. Layanan ini bisa didapatkan secara gratis dengan cara mendaftar di situs Garuda Miles. Pada tahap awal, kita akan diberikan status GFF Blue. Jika persyaratan jumlah terbang atau poin telah mencukupi maka secara otomatis akan dinaikkan ke Silver kemudian Gold dan terakhir Platinum. Semakin tinggi tingkatan yang diperoleh maka semakin banyak keistimewaan yang didapatkan.

Untuk mendapatkan poin GFF ada tiga cara yaitu terbang baik menggunakan Garuda Indonesia atau maskapai lain yang berafiliasi dengan Sky Team (daftar member bisa dilihat di sini), menggunakan kartu kredit yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia (pada saat tulisan ini dibuat hanya ada dua pilihan yaitu Citi Garuda atau BNI Garuda) atau cara terakhir adalah dengan menulis.

Tulisan kali ini akan membahas mengenai pilihan yang ketiga.

Menulis adalah momok mengerikan bagi sebagian orang. Tidak ada ide, tidak bisa menuangkan ide menjadi tulisan, struktur bahasa yang jelek dan segudang alasan lain membuat orang-orang malas menulis. Padahal menulis bisa menjadi salah satu penyaluran stres yang paling baik atau menjadi salah satu cara untuk “menjual” wisata suatu daerah.

Garuda Indonesia bekerjasama dengan Trip Advisor telah memberikan ruang untuk menulis sekaligus mendapatkan poin GFF. Tahun 2016 adalah tahun ketiga mereka bekerja sama. Setiap tahun kebijakan mengenai jumlah poin GFF yang dapat dikumpulkan selalu berubah. Pada tahun 2014 jumlah poin GFF maksimal dalam sebulan sebanyak 600 poin, kemudian pada tahun 2015 mengalami kenaikan signifikan menjadi 2500 poin GFF perbulan dan tahun 2016 ini turun kembali menjadi 1500 poin GFF perbulan. Sebagai gambaran, ketika tulisan ini dibuat, untuk penerbangan Banda Aceh – Medan bisa ditukarkan dengan 5.000 poin GFF sedangkan Banda Aceh – Jakarta bisa ditukarkan dengan 25.000 poin GFF.

Baiklah, hal yang harus dilakukan pertama sekali adalah mendaftarkan diri ke situs Trip Advisor setelah selesai mengisi formulir dan konfirmasi email kemudian klik di sini untuk memasukkan nomor keanggotaan GFF. Pastikan nama dan nomor anggota GFF sudah benar sebelum menyimpan.

Nah sekarang bagian yang menariknya.

Setelah login maka yang harus dilakukan pertama sekali adalah mencari nama kota yang ingin diulas.

tampilan awal

Sebagai contoh, saya mengetikkan “Banda Aceh” di bagian nama kota kemudian pilih nama kota tersebut dari pilihan yang tersedia. Selanjutnya, jika ingin melihat tempat-tempat yang bisa ditulis ulasannya silahkan klik pada “Ikhtisar tentang Banda Aceh”. Menu ini akan menyajikan seluruh tempat wisata, hotel, atau restoran yang ada di Banda Aceh. Cari salah satu objek yang akan ditulis ulasannya.

contoh satu

Perhatikan pada bagian kanan atas yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru. Jumlah poin yang ada di bagian tersebut adalah poin GFF yang akan didapatkan ketika kita selesai menulis ulasan. Poin ini akan diakumulasikan pada setiap awal bulan berikutnya lalu dimasukkan secara otomatis ke akun GFF kita.

Ulasan yang diminta tidak harus panjang lebar, minimal hanya 100 karakter. Bahkan titik juga dihitung sebagai satu karakter. Ulasan ini bisa berupa kesan ketika mengunjungi suatu objek seperti mengenai kebersihan, ketersediaan warung, ketersediaan tempat parkir dan lain sebagainya.

Selain poin GFF, kita juga akan mendapatkan poin Trip Advisor dari setiap ulasan yang akan meningkatkan level kita di Trip Advisor. Poin Trip Advisor juga bisa dikumpulkan dengan memberikan foto tentang suatu objek, memberikan penilaian kepada suatu ulasan atau memposting komen di forum Trip Advisor.

Ayo menuliskan keindahan Indonesia di Internet.

Written by syahmins

Februari 23, 2016 at 11:56

Nol Kilometer Bondowoso

leave a comment »


Terletak di depan kantor PDI Perjuangan Bondowoso, tidak jauh dari Palm Hotel.

Written by syahmins

Maret 10, 2015 at 11:35

Lawang Sewu – Gedung Sejarah Kereta Api

leave a comment »


Postingannya kembali ke Semarang 😀

Masih dalam rangka iseng dari kunjungan singkat ke Semarang bulan lalu, kali ini ingin cerita mengenai Lawang Sewu. Sebuah kompleks gedung museum kereta api yang pernah juga menjadi momok bagi para pejuang angkatan 45. Gedung ini pernah menjadi penjara bawah tanah ketika Jepang menjajah Indonesia. Akibat dari banyaknya pejuang yang tewas di penjara tersebut, konon bagian yang penjara itu sekarang menjadi tempat wisata uji nyali.

Untuk masuk ke kompleks gedung ini pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000. Jika membawa mobil maka bersiaplah untuk ribet mencari tempat parkir karena gedung ini tidak menyediakan tempat parkir. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu yang tersedia dengan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000 untuk menemani dan menceritakan sejarah gedung ini.

Jika tidak ingin menggunakan jasa pemandu wisata, kita juga dapat langsung mengelilingi kompleks gedung ini dengan menggunakan panduan peta yang terpampang besar di bagian depan kompleks gedung Lawang Sewu ini. Selain denah kompleks, kita juga dapat membawa sejarah singkat kompleks gedung tersebut.

Gedung ini sebenarnya sangat menarik dan indah karena itu gedung yang juga dikenal dengan gedung seribu pintu ini sering dijadikan tempat foto pre wedding. Untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat pre wedding tentu saja harus meminta izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik gedung.

Pada masanya, gedung ini digunakan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Jawa sebagai kantor operasional mereka. Ada dua bagian gedung ini yaitu kantor untuk golongan kulit putih, Tionghoa serta bangsawan dan satu bagian lagi untuk golongan pribumi Jawa.

Perbedaan kedua tempat ini dapat dilihat dari bahan baku bangunannya. Bangunan yang diperuntukkan bagi golongan pertama berbahan baku impor dengan kualitas terbaik. Bahkan marmer lantainya konon diimpor dari Belanda. Sedangkan bangunan yang diperuntukkan bagi pekerja pribumi dibangun dengan menggunakan bahan baku lokal. Contoh bata, semen, genteng dan beberapa engsel pintu dapat dilihat pada gedung pameran yang ada di kompleks gedung ini.

Salah satu selasar pada bagian yang diperuntukkan bagi golongan kulit putih

Pada bagian gedung yang berisikan contoh bahan bangunan asli Lawang Sewu ini juga terdapat satu poster yang berisikan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Salah satu periode sejarah yang ada adalah Atjeh Tram yang fotonya adalah peron di Banda Aceh. Dulunya peron ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman tapi sekarang sudah dihancurkan untuk perluasan Mesjid Raya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sisi bagian dalam gedung, hanya saja ketika ingin melihat penjara bawah tanah tidak diizinkan oleh pemandu yang mendampingi. Alasannya karena bagian gedung yang itu sedang dalam tahap renovasi sehingga tidak ada lampu untuk menerangi lokasi yang terletak di bawah tanah tersebut.

Selain melihat keindahan gedung, pengunjung juga dapat melihat sebuah trem listrik yang sudah tidak digunakan lagi di bagian belakang gedung. Sebuah lokomotif berbahan bakar uap juga terpajang di depan gedung tersebut untuk memperlihatkan masa jaya kereta api di Semarang.

Melihat gedung lama yang sarat sejarah dan terawat ini ada satu perasaan miris yang mampir karena membayangkan saudara tuanya yaitu Atjeh Tram yang berkantor di Banda Aceh sudah tidak terlihat lagi jejaknya. Hanya ada satu lokomotif tua yang terjemur matahari di depan sebuah pusat perbelanjaan di Banda Aceh, selebihnya tidak ada. Seolah kereta api di Aceh hanyalah sebuah dongeng pada zaman dahulu kala yang keberadaannya antara ada dan tiada.

Written by syahmins

Oktober 15, 2014 at 18:49

Mesjid Agung Jawa Tengah

with 2 comments


Mesjid Agung Jawa Tengah terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Semarang. Dengan menggunakan mobil kira-kira waktu yang diperlukan adalah 15 menit untuk menuju dari daerah Simpang Lima Semarang.

Masuk ke area mesjid, langsung disambut dengan mesin parkir modern a la pusat-pusat belanja besar. Cukup tekan tombol dan tiket parkir langsung keluar secara otomatis. Praktis dan yang aku senangi adalah adanya kesadaran pengurus mesjid untuk mengkomersialkan area mesjid untuk sesuatu yang bermanfaat sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemakmuran mesjid.

Halaman luas langsung terhampar di depan mata. Banyak pengunjung yang memanfaatkan halaman yang luas ini untuk melakukan rekreasi yang tidak selalu berupa kegiatan keagamaan. Ada yang melakukan olah raga sore, selfie, sekedar duduk sambil menikmati jajanan atau bermain sepatu roda. Bahkan pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh juga ada beberapa warung kecil di dalam kompleks mesjid. Dan mesjidnya itu dari jauh kelihatan luar biasa…

Menara 99 difoto dari arah serambi mesjid

Oleh supir taksi yang mendampingi perjalanan kali ini, aku diceritakan mengenai menara 99 yang berfungsi sebagai menara pandang serta sebuah restoran di atasnya. Melihat pemandangan kota dari atas memang selalu membuat penasaran, apakah bangunan-bangunan yang kita kenal dari bawah masih terlihat sama ketika dilihat dari atas? Atau apakah kita bisa mengenal bangunan-bangunan tersebut jika dilihat dari kejauhan? Itu barangkali beberapa pertanyaan yang terajut di dalam kepala.

Dengan membayar karcis tujuh ribu rupiah kita dapat naik ke menara mesjid tersebut. Sebenarnya ada tiga fungsi utama dari menara tersebut yaitu menara pandang pada tingkat sembilan, restoran putar pada tingkat delapan dan museum pada tingkat tiga. Hanya ketika aku datang, restoran dan museum sudah tutup sehingga hanya dapat naik ke tingkat sembilan saja.

Untuk melihat jarak jauh disediakan beberapa teropong yang dapat dioperasikan dengan menggunakan koin seribu rupiah. Kerennya, ada seorang penjaga resmi yang menyediakan koin tersebut untuk ditukarkan oleh pengunjung. Mantap…

Mesjid dari atas

Karena aku berkunjung dengan dengan waktu magrib maka selain mendapatkan pemandangan kota Semarang dari atas, aku juga mendapatkan bonus berupa pemandangan matahari terbenam. Melihat matahari tenggelam tanda hari mulai malam itu memang selalu memberikan inspirasi *halah sok puitis*

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat dari atas, perjalanan dilanjutkan dengan menjelajahi mesjid dari dekat. Keunikan mesjid ini adalah bentuk pelatarannya yang dihiasi dengan tiang-tiang yang dihubungkan dengan kaligrafi indah.

Dari pelataran halaman dalam mesjid juga bisa terlihat bahwa bangunan mesjid ini didesain dengan sangat indah dan anggun. Salut buat perancangnya.

Tiang di bagian kiri dan kanan pada pelataran halaman dapat dibuka seperti payung sehingga jamaah tidak kehujanan atau kepanasan ketika sedang salat. Perpaduan seni modern yang sangat bagus karena tidak hanya indah tapi juga memberikan fungsi yang bermanfaat kepada jamaah.

Dari serambi belakang mesjid, selain terlihat menara 99 juga terlihat hamparan halaman yang luas.

Sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya…

Masuk ke dalam mesjid, sebuah Quran raksasa menyambut. Quran ini ditulis oleh seorang dosen di Semarang dan kemudian disumbangkan ke mesjid ini. Mungkin karena untuk menjaga keawetan maka Quran ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu dan digembok sehingga tidak semua orang dapat melihatnya secara sembarangan.

Akhirnya karena azan berkumandang maka aku buru-buru pulang agar tidak terbakar berwudhu dan salat magrib.

Menurutku ini adalah salah satu mesjid terindah dan terbaik pengelolaannya di beberapa daerah yang pernah kukunjungi.

Written by syahmins

Agustus 31, 2014 at 13:46

Kelenteng Agung Sam Poo Kong

leave a comment »


Hari sudah menjelang sore ketika kaki dengan gatalnya ingin diajak jalan. Hasil dari pencarian di Internet, ada beberapa tautan yang menyarankan untuk berjalan ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Hasil pencarian di peta milik Google menunjukkan kalau lokasinya ternyata lumayan jauh untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah malas karena langit sudah gelap dan takutnya kelenteng itu sudah tutup.

Tanya sana-sini dengan petugas hotel dan supir taksi, akhirnya rasa malas itu hilang sendiri 😀

Kelenteng ini buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul sepuluh malam. Pengunjung yang datang menggunakan kendaraan dapat memarkir kendaraannya di halaman parkir yang luas. Ongkos parkir sebesar Rp. 3000 untuk mobil dan Rp. 1000 untuk sepeda motor dibayarkan ketika membeli tiket masuk sebesar Rp. 3000 perorang.

Kompleks ini sendiri terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian yang bisa diakses oleh umum dengan menggunakan tiket masuk di depan serta bagian altar sembahyang yang dikhususkan bagi para pengunjung yang ingin sembahyang. Pengunjung yang tidak ingin bersembahyang tapi ingin masuk ke bagian altar sembahyang harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp. 20.000.

Masuk ke dalam kita langsung disambut sebatang pohon besar yang menaungi sebuah kios. Di kios tersebut pengunjung dapat menyewa pakaian adat Tiongkok untuk berfoto di seputaran kelenteng. Sebuah lapangan terlihat dengan panggung utama yang sangat besar. Berdiri di tengah lapangan sendirian jadi serasa aneh 😀

Beberapa objek menarik dan tak boleh terlewatkan di kelenteng ini adalah:

Lapangan Utama

Dari lapangan ini terlihat sebagian besar isi kompleks kelenteng ini. Ada sebuah tribun yang tiangnya dihiasi dengan ukiran-ukiran indah. Selain itu ada enam buah patung yang seolah menjaga tribun di sisi kanan dan kiri.

Patung Laksamana Zheng He

Terletak di dekat pintu keluar di sisi kiri tribun utama, patung ini berdiri tegak menghadap matahari terbit. Patung raksasa ini merepresentasikan sang Laksamana dan di bagian bawah patung terdapat cerita singkat mengenai sang Laksamana.

Dari cerita penjaga aku baru sadar kalau Laksamana Zheng He adalah yang biasa ku kenal dengan nama Laksamana Cheng Ho.

Altar Sembahyang

Ada beberapa altar sembahyang untuk dewa-dewi yang berbeda di kompleks ini. Beberapa yang kuingat adalah Dewa Bumi dan Dewi Laut tapi altar paling besar adalah altar untuk Sam Poo Kong sendiri. Semua altar tersebut berdiri menghadap ke arah timur tempat terbitnya matahari dan secara kebetulan juga menghadap ke arah tribun utama. Untuk masuk ke altar sembahyang ini, pengunjung harus membayar tiket lagi sebesar Rp. 20.000. Jumlah ini sebanding dengan beberapa hal yang bisa dilihat di dalam kompleks altar sembahyang.

Relief Cerita Sam Poo Kong

Pada bagian ini diceritakan mengenai perjalanan Sam Poo Kong. Ada cerita ketika dia mendarat di Malaya, Jawa, Samudera Pasai, dan lainnya. Satu hal yang unik, ada satu bagian relief yang bercerita mengenai ekspedisi tersebut mampir ke Mekah untuk menunaikan haji. Bagian ini hanya tergambar saja tidak tertulis seperti cerita yang lainnya.

Gua Batu

Ada dua gua batu yang baru dan lama. Gua batu baru terletak di bagian atas altar sembahyang diantara relief cerita berisikan sebuah altar dengan beberapa patung se. Menurut cerita dari penjaganya, patung-patung tersebut salah satunya adalah patung Sam Poo Kong alias Laksamana Cheng Ho.

Gua batu lama terletak di bagian bawah. Gua batu lama ini adalah bangunan asli di kompleks ini. Menurut cerita ini adalah tempat pasukan Sam Poo Kong meletakkan altar sembahyang ketika mereka mendarat di daerah Semarang. Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam gua, tetapi bisa mengintip saja melalui jeruji yang ada di pintu masuk.

Replika Perahu dan Pohon Rantai

Replika perahu terletak di bagian bawah di sebelah altar sembahyang utama. Pada bagian ini kita dapat melihat sebuah replika perahu dari beton dengan sebatang pohon di tengahnya. Masih menurut cerita dari penjaga, konon pohon itu adalah pohon paling tua di dalam kompleks kelenteng ini.

Selain pohon tersebut, ada satu lagi pohon unik yang sulurnya menyerupai rantai. Konon sulur itu yang dipakai untuk mengikat tiang di kapal. Daun pohon yang lebat tersebut menaungi sebuah gundukan yang dulunya merupakan tempat untuk membersihkan pusaka kelenteng. Pusaka-pusaka tersebut adalah peninggalan dari ekspedisi Sam Poo Kong di Semarang.

Makam Kiai Jangkar

Terletak pada sebuah cungkup di dekat replika perahu, bagian ini menampilkan sebuah jangkar kapal yang konon adalah jangkar dari salah satu kapal ekspedisi Sam Poo Kong. Jangkar ini dibalut dengan kain berwarna merah serta diberikan kalungan bunga melati untuk memuliakannya.

Di sebelahnya ada satu cungkup lagi yang konon berisikan beberapa benda pusaka peninggalan ekspedisi Sam Poo Kong.

Satu hal yang jelas, untuk mengunjungi kelenteng ini sangat tidak disarankan untuk datang pada malam hari. Anda tidak akan dapat menikmati keindahannya secara tuntas pada malam hari.

Kebanyakan foto-foto di kamera hilang karena memori kamera kebetulan error. Hiks… Tapi beberapa yang berhasil diselamatkan bisa dilihat di bawah ini.

Papan nama kompleks Kelenteng Agung Sam Poo Kong.

Beranda di salah satu pintu masuk, ini adalah satu-satunya bangunan bergaya Jawa di kompleks ini.

Salah satu bangunan kecil yang ada di sisi lapangan utama.

Denah Kompleks kelenteng.

Tribun utama pada malam hari.

Written by syahmins

Agustus 24, 2014 at 10:22

Raon ke Pekan Raya Jakarta

leave a comment »


Pekan Raya Jakarta atau PRJ adalah ajang tahunan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Jakarta. Ajang ini termasuk ke dalam acara pameran terbesar dan terlama di Indonesia.

Sebagai anak daerah, selama ini aku cuma bisa liat di tivi, baca di koran atau melihat dari internet. Ada rasa ingin tahu dan ingin lihat bagaimana sih sebenarnya keadaan PRJ ini. Tahun lalu karena kesibukan kerja akhirnya gak sempat ikut meramaikan sedangkan tahun ini sebenarnya agak malas, tapi karena ajakan beberapa teman kantor maka akhirnya jadi juga ke PRJ…. yiiiihaaaaa

Sejarah PRJ sendiri bisa dibaca di sini.

Hal pertama yang ku perhatikan adalah harga tiket. Harga tiketnya lumayan mahal untuk ukuran orang daerah yaitu antara 20.000 – 30.000 tergantung pada hari kunjungan. Bayangkan aja kalau yang datang serombongan bisa berapa penghasilan panitia… Kemudian yang terbersit dipikiran adalah dengan harga segitu pengunjung bakal mendapatkan apa? Rupanya harga tiket segitu sebanding dengan apa yang didapatkan oleh pengunjung.

Tempat sampah dan petugas kebersihan selalu menjaga di setiap sudut. Dengan demikian, bisa dipastikan kondisi arena pameran relatif bersih dari sampah yang berserakan. Rata-rata pengunjung dengan kesadaran sendiri membuang sampah mereka ke dalam tong sampah yang disediakan.

Tong sampah itu sendiri bukan sebuah benda mahal berbentuk bagus, tetapi tong sampah di arena ini hanya sebuah drum yang di dalamnya dilapisi plastik hitam. Karena tersebar dimana-mana akhirnya pengunjung juga dengan gampangnya membuang sampah pada tempatnya. Salut…

Tapi walaupun begitu, tetap saja ada pengunjung yang bebal dan membuang sampahnya secara sembarangan. Nah untuk mengantisipasi hal inilah para petugas kebersihan selalu siap sedia. Dengan bersenjatakan sebuah sapu lidi mereka dengan sigap akan menyapu sampah yang terlihat di sekitar area kerja mereka.

Jika tong sampah tersebut penuh, maka ada petugas lain lagi yang akan menggantikan plastik di dalam drum untuk selanjutnya mengumpulkan plastik yang sudah penuh dengan sampah itu ke tempat penampungan sementara. Selanjutnya sebuah mobil pick up akan mengangkut kantong-kantong tersebut ke tempat pembuangan yang lebih besar.

Hal selanjutnya yang paling penting dari penyelenggaraan sebuah acara besar adalah toilet. Toilet ini sangat penting karena acara ini sendiri akan dihadiri oleh ribuan orang setiap harinya selama 31 hari. Gak kebayang kalau lagi di arena pameran trus kebelet dan harus keliling jauh untuk cari toilet. Untuk urusan yang satu ini, panitia juga perlu diacungkan jempol. Toilet bertebaran di dalam arena. Walaupun tingkat penggunaan yang cukup tinggi tapi tidak ada satupun toilet yang aku datangi dalam kondisi berantakan. Semuanya dalam kondisi siap pakai.

Selanjutnya adalah mushala, sebuah lokasi untuk menunaikan salat bagi kaum muslim. Fasilitas ini juga tersebar di beberapa tempat. Walaupun berkondisi seadanya tapi mushala ini cukuplah untuk sekedar menunaikan ibadah lima waktu.

Pengunjung yang sangat banyak ini hebatnya tidak membuat masalah keamanan yang berarti. Para pengunjung dapat melakukan transaksi (mengeluarkan dompet) dimana saja di dalam arena pameran. Selain itu mereka juga bisa dengan mudahnya mengeluarkan ponsel untuk berkirim pesan kepada temannya. Tak terlihat rasa takut dicopet atau dirampok karena para petugas keamanan terlihat di setiap pojok arena pameran. Bahkan ketika hujan turun dan pengunjung berdesakan di dalam gedung pameran tetap saja tak ada keributan yang berarti.

Untuk seseorang yang berasal dari daerah, ini adalah pameran terbesar dan terlama yang pernah kudatangi. Tak terbayangkan berapa uang yang berputar serta berapa banyaknya transaksi yang terjadi selama pameran. Dan rekor pribadi untuk kelayapan selama ini terpecahkan, dan sepertinya sulit untuk dilampaui lagi secara pribadi. Bayangkan saja, 12 jam berkeliling dengan jeda buka puasa dan istirahat sejenak. Mungkin secara total ada 10 jam berjalan kaki keliling arena pameran 😀

Written by syahmins

Juli 8, 2014 at 18:58