the Journal

Archive for the ‘Kuliner’ Category

Ngopi di Ambon

leave a comment »


yak…… setelah suntuk gak tau ngapain, akhirnya hari ini ku putuskan untuk ngopi. Keputusan ini diambil setelah dua hari yang lalu gagal ngopi sewaktu masih ada gerombolan kantor 😀

Pertanyaan pertama tentu saja mau ngopi dimana? Ini Ambon bukan Banda Aceh yang aku hapal setiap sudut kotanya.

Pertanyaan ini ternyata terjawab dengan sangat mudah. Begitu melangkahkan kaki keluar dari hotel dan berjalan sejauh beberapa puluh meter ternyata ada dua rumah kopi. Orang-orang di Ambon menyebut warung kopi dengan rumah kopi, berbeda dengan daerah lain di Sumatera yang umumnya menyebut dengan warung kopi. Tapi apalah arti sebuah nama, yang terpenting adalah di tempat tersebut menjual kopi dan segala variasinya.

Perkenalan pertama dengan rumah kopi adalah di Jalan Said Perintah, tempat tersebut bernama Rumah Kopi Pangkalan. Secangkir kopi hitam pahit segera terhidang. Eh iya, kalau di Ambon namanya bukan kopi hitam pahit jika tidak memakai gula tapi kopi tawar. Sepiring cemilan yang berisikan empat potong kue terhidang di atas meja. Cangkir kopi berukuran agak tinggi, setidaknya lebih tinggi daripada gelas kopi pancung di Banda Aceh.

Ada hal yang unik di rumah kopi ini yaitu adanya live music. Lagunya juga bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Jadi kita gak cuma minum kopi sambil nonton tivi tapi juga sambil mendengarkan lagu yang dibawakan dengan sangat apik.

Kunjungan kedua adalah ke Rumah Kopi Senang Hati, nama itu terpampang pada sebuah papan kecil di depan sebuah rumah. Bertempat di jalan Sultan Hairun, Sirimau – Ambon, rumah kopi ini sangat padat pengunjungnya untuk ukuran jam 12 siang dengan matahari yang bersinar terik di luar. Tapi anehnya sebagian besar pengunjung justru memesan kopi panas untuk menghilangkan dahaga mereka.

Secangkir kopi dan sepiring kue segera dihidangkan oleh usi (panggilan untuk wanita dewasa alias kakak tapi bisa juga dipanggil ibu atau tante) yang bekerja di situ. Untuk soal kue, rumah kopi ini masih sama dengan hidangan kue di sejumlah warung kopi di Aceh. Lemper dan roti bohong. Yaaaahhh… standarlah…

Rumah kopi ketiga adalah rumah kopi Joas yang terletak di seberang Rumah Kopi Pangkalan. Rumah kopi ini bernama lengkap Rumah Kopi Tradisi Joas.

Ketika berkunjung sekitar jam 19:30 WIT, suasananya ramai dan hanya tersisa beberapa meja kosong. Beda seperti dua tempat sebelumnya, setelah memesan kopi tawar pengunjung akan ditanya jenis kue yang ingin dipesan. Beberapa pilihan yang tersedia adalah roti goreng, betatas (ubi), dan roti.

Selain secangkir kopi yang gelasnya hampir sebesar gelas normal, pengunjung juga disediakan segelas air putih untuk menetralkan rasa kopi. Rasa kopi di sini lebih pekat daripada rasa kopi di dua tempat sebelumnya. Mungkin karena itu Pak Joas merasa perlu untuk menambahkan segelas air putih sebagai pelengkap.

Di Ambon, kopi dibuat dengan menyeduh bubuk kopi sesuai dengan pesanan dan kemudian menyaringnya ke dalam gelas. Hal ini berbeda dengan warung kopi di Aceh yang umumnya mengangkat saringan kopi setinggi mungkin.

Satu hal yang menarik dari rumah kopi yang ada di Ambon adalah bentuk dan interiornya yang sangat sederhana. Tidak seperti warung kopi di Banda Aceh yang menyediakan Wi-Fi sebagai salah satu sarana menarik pelanggan, rumah kopi di Ambon hanya menyediakan kopi dan segala variasinya. Tanpa internet dan tanpat koran. Selain itu kursi dan meja juga sangat sederhana. Tidak terlihat berlebihan. Tapi hal itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung untuk ngopi.

Satu hal yang sudah pasti sama, rumah kopi dipakai sebagai tempat pertemuan tidak resmi bagi mereka-mereka yang ingin bertemu dengan teman atau saudara. Pengunjung umumnya berasal dari kalangan laki-laki, di ketiga rumah kopi itu tidak ku dapati wanita ngopi di sana. Apakah para wanita di Ambon tidak suka kopi? Entahlah…

——————————–

Rumah Kopi Senang Hati: 3°41’43″S 128°10’57″E

Rumah Kopi Pangkalan: 3°41’51″S 128°10’52″E

Rumah Kopi Tradisi Joas: 3°41’51″S 128°10’51″E

Iklan

Written by syahmins

Oktober 27, 2013 at 10:25

Bungong Jeumpa: restoran Aceh di Yogyakarta

leave a comment »


Udah hampir sebulan gak ketemu dengan yang namanya kopi Aceh dan aneka masakan Aceh lainnya sampai hampir lupa gimana rasanya mie Aceh dan kopi Aceh. Yup, ini perasaan lebai yang gak ketulungan 😀

Iseng berselancar dan nyari sampe menemukan sebuah warung yang bernama Bungong Jeumpa dan mengklaim sebagai rumah makan khas Aceh. Sebuah klaim yang cukup berani apalagi dengan beberapa kalimat yang kubaca bahwa bumbu dan kopinya diimpor langsung dari Aceh. Okelah… setelah hampir sebulan ini ngerasain makanan manis a la Jawa inilah saatnya mengingatkan kembali lidah ini dengan rasa makanan Aceh 😀

Terletak di pojok jalan Walter Monginsidi di persimpangan jalan Magelang kota Yogyakarta. Pas di bawah lampu lalu lintas bercokollah sebuah warung dengan warna merah yang dominan di papan namanya.

Dengan semangat 45 aku langsung masuk dan minta daftar menu dengan nafsu membara seolah semuanya ingin dipesan. Langsung aja nulis kopi Aceh dan mie goreng sebagai makan malam. Tapi waktu dikonfirmasi ke mbak yang jaga dan juga ke abang yang bermuka sangat Aceh sekali itu mereka gak tau gimana cara membuat kopinya. Waktu kutanya itu kopi yang dibuat a la Aceh dengan cara ditarik ke atas waktu nyaringnya mereka malah mengira aku mau pesan kopi tarik 😦 Untuk mempersingkat waktu karena perut juga udah keroncongan aku terpaksa ngalah dengan minta kopi Aceh walaupun gak tau bagaimana cara mereka membuat kopinya.

Wujud si kopi ketika tiba begitu meyakinkan. Tidak seperti kopi a la Jawa yang rada transparan, kopi ini berwarna lebih pekat. Langsung sesendok kopi berangkat ke mulut dan langsung kecewa. Rasanya agak hambar tak seperti kopi yang biasa kuminum di Aceh yang nendang di sendok pertama.

Tapi perasaan kecewa itu terobati dengan mie goreng yang enak 🙂

mie

Bumbu rempahnya begitu terasa sehingga serasa gak sedang makan di kota orang tapi sedang makan mie di Banda Aceh. Pedasnya pas, porsinya pas dan acarnya juga pas. Secara keseluruhan bisalah tertutup rasa kecewa karena si kopi tadi.

Mengenai harga kayaknya gak terlalu mahal. Untuk secangkir kopi dan mie tadi cuma perlu bayar Rp. 21.000 saja.

Eh kalo menurut spanduk yang dipasang di depan warungnya, katanya warung ini termasuk salah satu tempat rekomendasinya Bondan Winarno.

Buat yang penasaran ni lokasinya di Wikimapia.

Written by syahmins

April 28, 2013 at 22:30

Soto Kesawan Yang Bikin Sawan

with 2 comments


Setelah sekian lama bolak-balik Medan-Banda Aceh akhirnya berhasil juga ngerasain cita rasa Soto Kesawan 🙂

Soto Kesawan ini sebenarnya termasuk salah satu makanan legendaris kota Medan. Buat para pencinta kuliner rasanya gak afdhal pergi ke Medan kalau gak mencicipinya. Setelah tiga bulan bermukim di Medan, barulah aku berhasil ikut mencicipi sang soto legendaris.

Awal diajak, kukira lokasinya ada di daerah Kesawan tempat yang dulu pernah dijadikan pusat jajanan malam di Medan. Biar gak ngeres, jajanan yang dimaksudkan adalah makanan dan minuman khas Medan dan juga khas daerah lainnya. Dulunya ada satu ruas jalan yang ditutup kalau malam sampai pagi. Di jalan itulah para pedagang dan penikmat kuliner kota Medan berkumpul. Rupanya lokasi yang kami tuju siang itu bukan di Jalan Kesawan tetapi di Jalan Sei Batang Hari.

Karena perut lapar dan sebagai orang yang menumpang mobil maka aku ikut aja deh. Mobil diarahkan untuk parkir ke halaman Wisma Hari Kita, salah satu wisma syariah yang ada di Medan. Nyali udah mulai agak menciut karena sebagaimana kita tau, makanan hotel/wisma/penginapan itu jarang yang enak dan harganya juga kurang bersahabat dengan kantong di akhir bulan. Setelah mengutarakan pertanyaan di dalam dada (cuih bahasanya) akhirnya dijelaskan kalau kita cuma numpang parkir aja. Napas lega segera kudengar dari peserta makan siang lain 😀

Turun dari mobil, kami berjalan ke sebelah kiri wisma dan segera terlihat sebuah warung makan. Tapi langkah kaki kembali ragu karena melihat ada yang aneh ditulisan selamat datang di pintu warung. Tertulis Soto Kesawan, Mangat That… Nyan Asli…

Keraguan itu muncul karena dua kalimat dalam bahasa Aceh itu. Mangat that yang artinya enak sekali dan nyan asli yang artinya ini yang asli. Sambil senyum kami menuju ke warung. Dalam bayangan kami sebelumnya, soto kesawan itu yang jual adalah orang cina atau jawa bukan berbahasa Aceh. Sekedar informasi aja, diantara kami udah ada kesepakatan sebelumnya kalau udah sampe Medan akan mengurangi makan di rumah makan Aceh. Bukannya mau lari dari adat, tapi rasanya rugi udah sampe ke kota lain gak mencicipi cita rasa daerah setempat.

Menu

Menu yang ada disini adalah soto dengan berbagai macam varian. Ada soto ayam, daging, udang, paru dan jeroan. Kalau gak selera makan soto disini juga ada yang menjual mie Aceh.

Minuman yang tersedia cukup beragam: air putih, teh, kopi, jus atau minuman botolan serta minuman sachet.

Harga

Soto ayam: Rp. 15.000

Soto Campur Udang, Paru, Hati: Rp. 20.000

Berhubung baru sempat mencicipi dua varian itu maka harga yang bisa diberikan hanya untuk dua itu saja. Harga tersebut telah termasuk satu piring nasi. Minuman dan makanan ringan lainnya diluar harga tersebut.

Lokasi

Seperti pengantar ngaco diatas, lokasi soto ini adalah di Jalan Sei Batang Hari nomor 67. Lokasi di Wikimapia bisa dilihat di sini.

Efek Samping

Efek samping dari makan soto disini adalah ngantuk yang amat sangat. Sebagai orang Aceh maka kami langsung bisa menebak asal-usul dari efek samping ini 😀

Written by syahmins

September 24, 2012 at 15:16

Blang Padang: Alun-Alun Kota Banda Aceh

with 11 comments


Di bumi kita alun-alun sudah jadi ciri khas kota tradisional. Apalagi untuk kota kabupaten, alun-alun adalah jantung kota. Coba kalian telusuri kota-kota di khatulistiwa ini, pasti yang pertama ditanyakan, “Alun-alun sebelah mana, ya?” Karena di sanalah semua kegiatan terpusat. Mulai dari kantor bupati, kantor pos, bank, mesjid, gereja, dan perkantoran lainnya. Alun-alun juga bisa berfungsi sebagai pusat kebudayaan kota. Setiap hari nasional atau hari besar, alun-alun akan ramai oleh beragam kegiatan. Apalagi Lebaran. Wah, semua orang tumplek ke sana. Lantas kita sholat Ied sambil ngeceng!

– Balada si Roy –

Seperti kutipan novel Balada si Roy, Blang Padang adalah sebuah lapangan yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Lapangan ini dulunya adalah alun-alun kerajaan Aceh Darussalam. Di sini biasanya diadakan latihan baris-berbaris, latihan perang-perangan serta tempat untuk menambatkan gajah kerajaan pada saat itu.

Sebelum tsunami pada tahun 2004, lapangan ini biasanya digunakan warga kota Banda Aceh untuk melakukan kegiatan olah raga seperti joging dan sepak bola selain kegiatan upacara pada hari-hari tertentu. Pada saat itu lapangan masih dalam kondisi apa adanya. Pemeliharaan rutin hanya dilakukan ala kadarnya dengan cara memotong rumput liar yang memanjang.

Pada saat tsunami melanda Banda Aceh, di lapangan ini tengah diadakan acara olah raga mingguan yang rutin diadakan setiap hari minggu pagi. Senam Jantung Sehat dan lari pagi adalah contohnya. Hari itu tempat ini menjadi tempat warga sekitarnya berlari menyelamatkan diri dari kemungkinan bangunan rubuh. Banyak orang yang panik ketika air datang dari beberapa arah sehingga pada saat itu banyak yang meninggal di tempat ini.

Saat ini lapangan Blang Padang masih tetap mempertahankan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau bagi masyarakat kota Banda Aceh. Selain sebagai tempat berolahraga, lapangan ini juga menjadi ajang wisata kuliner khususnya makanan Jawa Barat seperti bubur ayam, siomay dan mie ayam. Tapi jangan mencari makanan berat berupa nasi disini. Kalau cuma sekedar mie dan jajanan ringan bolehlah datang dan duduk disini. Dengan mengusung jajanan ala kaki lima tempat ini layak dipertimbangkan bagi para pemburu kuliner. Murah meriah dengan cita rasa yang lumayan.

Sambil duduk kita bisa menikmati hamparan rumput hijau serta melihat orang yang lalu lalang berolahraga di lapangan. Ini adalah tempat yang tepat untuk sekedar cuci mata dan menghabiskan waktu sambil jajan.

Kita juga bisa berkunjung ke monumen RI – 001 Seulawah yang terletak di salah satu pojok lapangan. Monumen ini sebagai salah satu bentuk penghargaan dan ucapan terima kasih dari pemerintah kepada rakyat Aceh atas bantuan dua buah pesawat ketika zaman mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu kita juga dapat melihat monumen Thanks to the World yang dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada negara-negara yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Ucapan terima kasih ini juga dapat dilihat dari prasasti yang tersebar di sekeliling lapangan di pinggir jogging track. Prasasti ini memuat ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa negara-negara yang terlibat kegiatan tersebut.

Sayangnya tempat ini hanya dibuka dari pagi hingga menjelang maghrib saja. Selepas maghrib tempat ini bagaikan tak ada yang memiliki. Tak ada penerangan yang memadai. Padahal beberapa tahun yang lalu lapangan ini memiliki penerangan yang cukup baik pada malam hari sehingga warga kota dapat duduk menikmati aneka jajanan di dekat monumen RI-001. Mungkin karena kebersihan yang tidak terjaga menjadikan lapangan ini ditutup pada malam hari. Karena gelap inilah beberapa pasangan muda menjadikan tempat ini salah satu tempat favorit untuk pacaran 😀 Padahal jika lampu penerangan dihidupkan lapangan ini bisa jadi tempat alternatif bermain keluarga.

Peralatan listrik tenaga surya bukanlah barang mahal untuk saat ini. Selain menghemat anggaran listrik yang diambil dari masyarakat setiap bulannya,  listrik tenaga surya juga menghemat penggunaan listrik dari PLN sehingga memperkecil defisit listrik pada jam tertentu. Dengan adanya penerangan bertenaga surya, orang-orang yang ingin berolahraga pada malam hari tentunya tidak akan takut dengan masalah keamanan atau tuduhan berkhalwat. Secara otomatis juga akan memperkecil jumlah orang berpacaran pada malam hari. Pacaran ditempat terang tentu tidak semua orang dapat menikmatinya kan 😀 Jangan sampai isu syariat jadi membuat warga kehilangan haknya untuk mendapatkan tempat bersantai yang murah meriah. Jika ada anggaran ada baiknya dipergunakan untuk kemaslahatan warga, daripada hanya dipakai untuk uang sidang dan jalan-jalan pejabat.

Pemko Banda Aceh bisa saja mengutip iuran bagi para pedagang yang berjualan di sekitar atau di dalam lapangan ketika malam serta dari para pengunjung. Uangnya digunakan untuk membayar tenaga kebersihan untuk membersihkan lapangan dari sampah. Selain itu juga dapat dilakukan penyadaran kepada para pedagang untuk membereskan lapak jualan mereka ketika mereka tutup sehingga kerja para tukang sampah tidak terlalu berat kerjanya.

Posisi lapangan ini terletak pada Lat:   5°32’59.95″N Long:  95°18’50.52″E.

Foto-foto bisa diliat disini.

Written by syahmins

Februari 29, 2012 at 17:47

Tempat Makan (Lumayan) Enak di Sigli

leave a comment »


Sudah tiga bulan ini aku tinggal secara intensif di Sigli. Sebuah kota berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Banda Aceh.

Seperti pendatang lainnya setelah semua urusan tempat tinggal hal yang terpenting adalah dimana tempat makan yang (lumayan) enak. Raon (Aceh: keliling aka. jalan-jalan) kota Sigli dan nanya kiri kanan akhirnya ada beberapa tempat yang layak direkomendasikan untuk mampir dan duduk-duduk sambil makan-makan (Aceh: meuramin).

Beberapa tempat tersebut adalah:

  1. Mie Aceh – Warkop Taufik (****) – Jl. Banda Aceh – Medan sebelah Bank BRI cabang Sigli
  2. Rumah Makan Dua Berlian (**) – Dekat kantor Telkom
  3. Rumah Makan Ulee Tutue – Tutue Ara (****) – Jl. Banda Aceh – Medan sebelum masuk kota Sigli
  4. Sate Matang Alun – Alun (***) – Sudut jalan sebelum alun – alun
  5. Rumah Makan Santai (****) – Jl. Banda Aceh – Medan simpang terminal Sigli

Untuk sementara ini cuma enam tempat itu yang bisa direkom untuk tempat makan yang (lumayan) enak di Sigli. Kalo ada masukan boleh deh tinggalin komen.

Written by syahmins

April 24, 2011 at 11:51

Ditulis dalam Kuliner