the Journal

Archive for the ‘i s e n g’ Category

Cara Mendapatkan Mileage Garuda Secara Gratis

with one comment


Mileage Garuda Indonesia atau biasa disingkat dengan GFF alias Garuda Frequent Flyer adalah salah satu layanan yang diberikan oleh Garuda Indonesia kepada pelanggannya. Layanan ini bisa didapatkan secara gratis dengan cara mendaftar di situs Garuda Miles. Pada tahap awal, kita akan diberikan status GFF Blue. Jika persyaratan jumlah terbang atau poin telah mencukupi maka secara otomatis akan dinaikkan ke Silver kemudian Gold dan terakhir Platinum. Semakin tinggi tingkatan yang diperoleh maka semakin banyak keistimewaan yang didapatkan.

Untuk mendapatkan poin GFF ada tiga cara yaitu terbang baik menggunakan Garuda Indonesia atau maskapai lain yang berafiliasi dengan Sky Team (daftar member bisa dilihat di sini), menggunakan kartu kredit yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia (pada saat tulisan ini dibuat hanya ada dua pilihan yaitu Citi Garuda atau BNI Garuda) atau cara terakhir adalah dengan menulis.

Tulisan kali ini akan membahas mengenai pilihan yang ketiga.

Menulis adalah momok mengerikan bagi sebagian orang. Tidak ada ide, tidak bisa menuangkan ide menjadi tulisan, struktur bahasa yang jelek dan segudang alasan lain membuat orang-orang malas menulis. Padahal menulis bisa menjadi salah satu penyaluran stres yang paling baik atau menjadi salah satu cara untuk “menjual” wisata suatu daerah.

Garuda Indonesia bekerjasama dengan Trip Advisor telah memberikan ruang untuk menulis sekaligus mendapatkan poin GFF. Tahun 2016 adalah tahun ketiga mereka bekerja sama. Setiap tahun kebijakan mengenai jumlah poin GFF yang dapat dikumpulkan selalu berubah. Pada tahun 2014 jumlah poin GFF maksimal dalam sebulan sebanyak 600 poin, kemudian pada tahun 2015 mengalami kenaikan signifikan menjadi 2500 poin GFF perbulan dan tahun 2016 ini turun kembali menjadi 1500 poin GFF perbulan. Sebagai gambaran, ketika tulisan ini dibuat, untuk penerbangan Banda Aceh – Medan bisa ditukarkan dengan 5.000 poin GFF sedangkan Banda Aceh – Jakarta bisa ditukarkan dengan 25.000 poin GFF.

Baiklah, hal yang harus dilakukan pertama sekali adalah mendaftarkan diri ke situs Trip Advisor setelah selesai mengisi formulir dan konfirmasi email kemudian klik di sini untuk memasukkan nomor keanggotaan GFF. Pastikan nama dan nomor anggota GFF sudah benar sebelum menyimpan.

Nah sekarang bagian yang menariknya.

Setelah login maka yang harus dilakukan pertama sekali adalah mencari nama kota yang ingin diulas.

tampilan awal

Sebagai contoh, saya mengetikkan “Banda Aceh” di bagian nama kota kemudian pilih nama kota tersebut dari pilihan yang tersedia. Selanjutnya, jika ingin melihat tempat-tempat yang bisa ditulis ulasannya silahkan klik pada “Ikhtisar tentang Banda Aceh”. Menu ini akan menyajikan seluruh tempat wisata, hotel, atau restoran yang ada di Banda Aceh. Cari salah satu objek yang akan ditulis ulasannya.

contoh satu

Perhatikan pada bagian kanan atas yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru. Jumlah poin yang ada di bagian tersebut adalah poin GFF yang akan didapatkan ketika kita selesai menulis ulasan. Poin ini akan diakumulasikan pada setiap awal bulan berikutnya lalu dimasukkan secara otomatis ke akun GFF kita.

Ulasan yang diminta tidak harus panjang lebar, minimal hanya 100 karakter. Bahkan titik juga dihitung sebagai satu karakter. Ulasan ini bisa berupa kesan ketika mengunjungi suatu objek seperti mengenai kebersihan, ketersediaan warung, ketersediaan tempat parkir dan lain sebagainya.

Selain poin GFF, kita juga akan mendapatkan poin Trip Advisor dari setiap ulasan yang akan meningkatkan level kita di Trip Advisor. Poin Trip Advisor juga bisa dikumpulkan dengan memberikan foto tentang suatu objek, memberikan penilaian kepada suatu ulasan atau memposting komen di forum Trip Advisor.

Ayo menuliskan keindahan Indonesia di Internet.

Written by syahmins

Februari 23, 2016 at 11:56

Banda Aceh Kota Wisata Islami

leave a comment »


Entah kenapa kalau baca urusan wisata di Banda Aceh suka jadi uring-uringan sendiri 🙂

Padahal menurut berita yang ada di sini, situ dan sana kota Banda Aceh sudah mengukuhkan dirinya menjadi World Islamic Tourism yang dikukuhkan di Jakarta pada 31 Maret 2015 lalu. Dari segi sejarah dan keinginan tentu saja ini sangat menggembirakan. Inisiatif sebesar ini bisa terwujud dan bahkan dihadiri oleh orang nomor satu di kota Banda Aceh tentu saja patut kita hargai.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah selanjutnya bagaimana? Apakah dengan mengukuhkan diri menjadi kota tujuan wisata islami lantas akan membuat para turis datang? Apa saja pengembangan yang dapat dilakukan di Banda Aceh agar benar-benar pantas menjadi kota tujuan wisata islami dunia?

Ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dikembangkan agar daerah ini benar-benar dapat menjadi tujuan utama wisatawan.

Sarana transportasi umum.

Ini adalah salah satu hal yang paling penting yang tidak diperhatikan oleh pelaku wisata di Banda Aceh. Ambil contoh ketika baru mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda dan ingin menuju ke kota Banda Aceh, alternatif angkutan umum yang tersedia adalah bus Damri yang jam operasionalnya tidak terdata dengan jelas. Tidak ada petunjuk bahwa ada bus Damri yang bisa dijadikan tumpangan untuk menuju pusat kota. Para supir taksi gelap berkerumun di depan pintu kedatangan dan berebut untuk menawarkan jasa mereka dengan tarif yang lumayan. Untuk menuju ke pusat kota Banda Aceh kita harus merogoh kocek antara 85 ribu hingga 100 ribu rupiah. Beberapa supir yang nakal bahkan akan mengambil tarif yang lebih tinggi kepada wisatawan asing.

Jika kita menumpangi bus Damri hingga tiba di depan Mesjid Raya Baiturrahman, tidak ada petunjuk lanjutan bagaimana bisa mencapai tujuan selanjutnya. Tidak ada angkot atau taksi resmi untuk mengantar ke tujuan, hanya ada becak yang tarifnya terkadang suka keterlaluan mahalnya. Padahal sudah ada peraturan walikota yang mengatur besaran ongkos becak berdasarkan kilometer, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh banyak bagi pengendara becak.

Solusi: perbanyak angkutan umum, jika perlu berikan subsidi kepada para pemilik angkutan umum agar mereka bersemangat buat narik dan cari penumpang. Selain memudahkan para wisatawan juga akan membantu mengurai macet yang mulai melanda kota Banda Aceh pada jam-jam tertentu.

Peta/Papan Petunjuk Arah

Kalau mau ke pantai Ulee Lheu dari depan Mesjid Raya Baiturrahman itu lewat mana ya? Kalau tidak membawa orang lokal, tidak menggunakan GPS atau malas nanya maka dipastikan anda akan tiba sangat terlambat ditujuan. Papan penunjuk arah ke beberapa titik wisata memang ada di beberapa pojok jalan, tapi itu sangat kecil dan hanya ke titik wisata tertentu saja. Selebihnya tidak ada dan harus mengandalkan beberapa alat bantu yang tersedia.

Solusi: perbanyak dan perbesar papan penunjuk arah di setiap persimpangan jalan. Di beberapa titik strategis seperti depan Mesjid Raya Baiturrahman, Pantai Ulee Lheu, Musium Tsunami, dan Kapal Apung perlu dipasang baliho peta lokasi wisata, hotel dan tempat kuliner di Banda Aceh.

Hiburan

Setiap akhir pekan ada pentas seni rutin di Taman Putroe Phang, selain itu bagi yang beragama Islam bisa mengikuti zikir akbar yang rutin dilakukan setiap malam jumat di Mesjid Raya Baiturrahman. Selebihnya sepanjang pengetahuan saya tidak ada pentas seni rutin di kota ini.

Kuliner malam hari juga masih terbatas pada beberapa tempat tertentu seperti Rex Peunayong dan banyak warung kopi yang tersebar di seluruh penjuru kota. Tapi tempat duduk dan ngobrol di alam terbuka masih sangat terbatas.

Solusi: Daerah sepanjang pantai Ulee Lheu dapat dikembangkan menjadi wisata kuliner malam untuk menikmati jagung bakar atau ikan bakar sambil mendengar suara ombak. Agar tidak ruwet dan sumpek, kendaraan dapat diparkir di luar lokasi kuliner. Beberapa daerah memiliki satu jalan yang ditutup pada waktu malam hari untuk keperluan wisata kuliner ini, sebut saja misalnya kota Kupang yang memiliki pusat kuliner malam berupa aneka makanan laut segar. Harganya tentu saja harus murah meriah agar dapat dinikmati semua kalangan. Hal terpenting lainnya jika ini terwujud adalah memperbanyak tempat sampah agar tidak ada sampah yang dibuang sembarangan. Kebersihan sebagian dari iman ya kan?

Untuk mengurangi kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat diperbanyak pemasangan lampu jalan sehingga tidak ada daerah gelap lagi sepanjang jalan. Agar biaya pemasangan lampu jalan ini tidak membebani APBD, pemko dapat melakukan pendekatan kepada perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya agar dana CSR dapat dialihkan untuk pengadaan lampu jalan tenaga surya. Lombok sudah melakukan ini disepanjang pantai Senggigi menuju ke arah Lombok Utara dengan menggunakan dana CSR PLN.

Selain itu para WH juga dapat disiagakan untuk berpatroli rutin pada tempat tersebut sehingga bisa lebih mencegah terjadinya pelanggaran syariat.

Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan, tapi yang terutama harus dilakukan adalah mengubah mental warga kota agar dapat lebih ramah melayani pendatang dan memperbanyak pengetahuan warga tentang sejarah kota mereka sendiri.

Written by syahmins

April 9, 2015 at 16:00

Jak Tajak U Medan…

leave a comment »


Foto di atas adalah salah satu spanduk yang terpasang di Simpang Surabaya beberapa bulan lalu. Sekilas memang tak ada yang salah dengan spanduk tersebut, hanya memberikan informasi mengenai adanya diskon sebuah hotel di kota Medan jika tamunya mendaftar dengan menggunakan KTP Aceh.

Kalau tak ada yang aneh lalu kenapa dijadikan postingan?

Kalau mau kritis, sebenarnya keanehan justru ada pada fenomena getolnya masyarakat Aceh untuk berlibur ke Medan. Jika mau memperhatikan bisa dilihat pada setiap akhir pekan, masyarakat Aceh berbondong-bondong ke Medan. Baik yang menggunakan jalan darat maupun menggunakan pesawat dengan berbagai keperluan seperti bisnis, keluarga atau hanya untuk berwisata. Sehingga ada candaan bahwa sekarang kota Medan sudah menjadi salah satu kabupaten di Aceh karena ramainya warga Aceh yang main ke Medan pada akhir pekan.

Imbas dari ramainya kunjungan ke Medan sudah tentu membuat hotel-hotel yang ada membuat banyak promosi untuk menggaet para wisatawan ini agar menginap di tempat mereka. Mulai diskon menginap jika memiliki KTP Aceh hingga potongan harga jika berbelanja oleh-oleh di tempat tertentu. Tak ada yang salah dari sisi ini.

Permasalahan terbesar dan sering kali tidak diperdulikan oleh rakyat dan pemerintah Aceh adalah efek ekonomisnya. Dengan banyaknya kunjungan ke Medan untuk urusan wisata maka banyak pula uang yang mengalir ke provinsi tetangga tersebut. Dengan banyaknya uang yang mengalir maka ekonomi di daerah tersebut akan semakin bergairah sedangkan daerah asal uang tersebut akan semakin kering.

Sebenarnya ngapain aja sih kalau ke Medan?

Ada banyak pilihan  hiburan di Medan mulai dari yang hiburan keluarga hingga ke hiburan esek-esek. Untuk urusan yang esek-esek sepertinya masyarakat Aceh sudah diberikan cap jelek bahwa sebagian besar dari mereka suka dengan hiburan lendir ini. Kalau tak percaya, silahkan naik taksi atau becak dan ajak ngobrol dengan menggunakan aksen Aceh yang agak kental. Pasti tak lama kemudian akan ditawari hiburan lendir itu. Kalau mau lebih dikorek lagi maka akan terbuka cerita mengenai kelakuan mayoritas penumpang taksi atau becak yang berasal dari Aceh. Tapi itu bukan bahasan di postingan kali ini, silahkan melakukan investigasi sendiri ke Medan 😀

Hiburan keluarga ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi seperti sejumlah bioskop yang sudah pasti tidak ada di Aceh, pusat-pusat perbelanjaan yang diklaim lebih murah daripada harga di Aceh, sejumlah kolam renang, pusat buku bekas, warung jajanan atau warung kopi hingga museum satwa. Itu hanya yang ada di seputaran kota Medan. Kalau mau lebih keluar kota maka akan didapatkan wisata alam Danau Toba, Berastagi, Taman Wisata Iman di Dairi, air terjun Sipiso-piso dan banyak lagi.

Intinya banyak tempat wisata di seputaran Medan serta banyak pula uang yang dikeluarkan untuk menikmatinya. Lalu apakah di Aceh tidak ada tempat wisata yang sama? Sebenarnya hanya ada beberapa saja yang tidak ada di Aceh seperti museum satwa, kebun binatang, pusat buku bekas, serta bioskop. Selebihnya semua ada dan tersedia walaupun fasilitas pendukungnya masih sangat minim.

Tapi bukankah dengan kita berkunjung maka harapannya fasilitas akan semakin lengkap? Selain itu ekonomi masyarakat sekitar tentunya juga akan semakin bergairah. Lalu kenapa kita harus memberikan sumbangan penghasilan kepada provinsi tetangga tapi membiarkan rakyat sendiri hidup susah?

Kiban, Pajan ta jak u Medan?

Written by syahmins

Maret 18, 2015 at 16:54

Ditulis dalam Foto, i s e n g, Opini

Nol Kilometer Bondowoso

leave a comment »


Terletak di depan kantor PDI Perjuangan Bondowoso, tidak jauh dari Palm Hotel.

Written by syahmins

Maret 10, 2015 at 11:35

Lawang Sewu – Gedung Sejarah Kereta Api

leave a comment »


Postingannya kembali ke Semarang 😀

Masih dalam rangka iseng dari kunjungan singkat ke Semarang bulan lalu, kali ini ingin cerita mengenai Lawang Sewu. Sebuah kompleks gedung museum kereta api yang pernah juga menjadi momok bagi para pejuang angkatan 45. Gedung ini pernah menjadi penjara bawah tanah ketika Jepang menjajah Indonesia. Akibat dari banyaknya pejuang yang tewas di penjara tersebut, konon bagian yang penjara itu sekarang menjadi tempat wisata uji nyali.

Untuk masuk ke kompleks gedung ini pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000. Jika membawa mobil maka bersiaplah untuk ribet mencari tempat parkir karena gedung ini tidak menyediakan tempat parkir. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu yang tersedia dengan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000 untuk menemani dan menceritakan sejarah gedung ini.

Jika tidak ingin menggunakan jasa pemandu wisata, kita juga dapat langsung mengelilingi kompleks gedung ini dengan menggunakan panduan peta yang terpampang besar di bagian depan kompleks gedung Lawang Sewu ini. Selain denah kompleks, kita juga dapat membawa sejarah singkat kompleks gedung tersebut.

Gedung ini sebenarnya sangat menarik dan indah karena itu gedung yang juga dikenal dengan gedung seribu pintu ini sering dijadikan tempat foto pre wedding. Untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat pre wedding tentu saja harus meminta izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik gedung.

Pada masanya, gedung ini digunakan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Jawa sebagai kantor operasional mereka. Ada dua bagian gedung ini yaitu kantor untuk golongan kulit putih, Tionghoa serta bangsawan dan satu bagian lagi untuk golongan pribumi Jawa.

Perbedaan kedua tempat ini dapat dilihat dari bahan baku bangunannya. Bangunan yang diperuntukkan bagi golongan pertama berbahan baku impor dengan kualitas terbaik. Bahkan marmer lantainya konon diimpor dari Belanda. Sedangkan bangunan yang diperuntukkan bagi pekerja pribumi dibangun dengan menggunakan bahan baku lokal. Contoh bata, semen, genteng dan beberapa engsel pintu dapat dilihat pada gedung pameran yang ada di kompleks gedung ini.

Salah satu selasar pada bagian yang diperuntukkan bagi golongan kulit putih

Pada bagian gedung yang berisikan contoh bahan bangunan asli Lawang Sewu ini juga terdapat satu poster yang berisikan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Salah satu periode sejarah yang ada adalah Atjeh Tram yang fotonya adalah peron di Banda Aceh. Dulunya peron ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman tapi sekarang sudah dihancurkan untuk perluasan Mesjid Raya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sisi bagian dalam gedung, hanya saja ketika ingin melihat penjara bawah tanah tidak diizinkan oleh pemandu yang mendampingi. Alasannya karena bagian gedung yang itu sedang dalam tahap renovasi sehingga tidak ada lampu untuk menerangi lokasi yang terletak di bawah tanah tersebut.

Selain melihat keindahan gedung, pengunjung juga dapat melihat sebuah trem listrik yang sudah tidak digunakan lagi di bagian belakang gedung. Sebuah lokomotif berbahan bakar uap juga terpajang di depan gedung tersebut untuk memperlihatkan masa jaya kereta api di Semarang.

Melihat gedung lama yang sarat sejarah dan terawat ini ada satu perasaan miris yang mampir karena membayangkan saudara tuanya yaitu Atjeh Tram yang berkantor di Banda Aceh sudah tidak terlihat lagi jejaknya. Hanya ada satu lokomotif tua yang terjemur matahari di depan sebuah pusat perbelanjaan di Banda Aceh, selebihnya tidak ada. Seolah kereta api di Aceh hanyalah sebuah dongeng pada zaman dahulu kala yang keberadaannya antara ada dan tiada.

Written by syahmins

Oktober 15, 2014 at 18:49

Nol Kilometer Ngabang – Kabupaten Landak – Kalimantan Barat

leave a comment »


Ngabang adalah nama sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari kabupaten Landak – Kalimantan Barat. Berjarak hanya empat jam dari kota Pontianak, kabupaten ini adalah salah satu daerah penghasil intan terbesar di Kalimantan Barat. Posisinya yang dekat dengan perbatasan Malaysia di daerah Entikong serta adanya suku-suku Melayu menjadikan daerah ini memiliki budaya Dayak dan Melayu yang kental. Kalau ngobrol dengan orang setempat bisa berasa sedang nonton Upin-Ipin secara langsung 😀

Patok nol kilometer ini terpasang di depan terminal Landak atau di depan pasar tradisional mereka, sehingga tidak begitu sulit untuk ditemukan.

Btw, budaya ngopi mereka juga mirip dengan Aceh. Segelas kopi pancung dapat dinikmati berjam-jam bersama dengan teman-teman sambil ngobrol sana-sini. Bedanya dengan kopi di Aceh adalah cara penyeduhannya. Kopi di Landak adalah kopi tubruk sehingga bubuk kopinya masih tertinggal di cangkir sebanyak lebih kurang sepertiga cangkir, sedangkan kopi Aceh disaring dan dapat dihabiskan hingga gelas kering.

Written by syahmins

September 26, 2014 at 12:29

Ditulis dalam Foto, i s e n g

Tagged with ,

Mesjid Agung Jawa Tengah

with 2 comments


Mesjid Agung Jawa Tengah terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Semarang. Dengan menggunakan mobil kira-kira waktu yang diperlukan adalah 15 menit untuk menuju dari daerah Simpang Lima Semarang.

Masuk ke area mesjid, langsung disambut dengan mesin parkir modern a la pusat-pusat belanja besar. Cukup tekan tombol dan tiket parkir langsung keluar secara otomatis. Praktis dan yang aku senangi adalah adanya kesadaran pengurus mesjid untuk mengkomersialkan area mesjid untuk sesuatu yang bermanfaat sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemakmuran mesjid.

Halaman luas langsung terhampar di depan mata. Banyak pengunjung yang memanfaatkan halaman yang luas ini untuk melakukan rekreasi yang tidak selalu berupa kegiatan keagamaan. Ada yang melakukan olah raga sore, selfie, sekedar duduk sambil menikmati jajanan atau bermain sepatu roda. Bahkan pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh juga ada beberapa warung kecil di dalam kompleks mesjid. Dan mesjidnya itu dari jauh kelihatan luar biasa…

Menara 99 difoto dari arah serambi mesjid

Oleh supir taksi yang mendampingi perjalanan kali ini, aku diceritakan mengenai menara 99 yang berfungsi sebagai menara pandang serta sebuah restoran di atasnya. Melihat pemandangan kota dari atas memang selalu membuat penasaran, apakah bangunan-bangunan yang kita kenal dari bawah masih terlihat sama ketika dilihat dari atas? Atau apakah kita bisa mengenal bangunan-bangunan tersebut jika dilihat dari kejauhan? Itu barangkali beberapa pertanyaan yang terajut di dalam kepala.

Dengan membayar karcis tujuh ribu rupiah kita dapat naik ke menara mesjid tersebut. Sebenarnya ada tiga fungsi utama dari menara tersebut yaitu menara pandang pada tingkat sembilan, restoran putar pada tingkat delapan dan museum pada tingkat tiga. Hanya ketika aku datang, restoran dan museum sudah tutup sehingga hanya dapat naik ke tingkat sembilan saja.

Untuk melihat jarak jauh disediakan beberapa teropong yang dapat dioperasikan dengan menggunakan koin seribu rupiah. Kerennya, ada seorang penjaga resmi yang menyediakan koin tersebut untuk ditukarkan oleh pengunjung. Mantap…

Mesjid dari atas

Karena aku berkunjung dengan dengan waktu magrib maka selain mendapatkan pemandangan kota Semarang dari atas, aku juga mendapatkan bonus berupa pemandangan matahari terbenam. Melihat matahari tenggelam tanda hari mulai malam itu memang selalu memberikan inspirasi *halah sok puitis*

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat dari atas, perjalanan dilanjutkan dengan menjelajahi mesjid dari dekat. Keunikan mesjid ini adalah bentuk pelatarannya yang dihiasi dengan tiang-tiang yang dihubungkan dengan kaligrafi indah.

Dari pelataran halaman dalam mesjid juga bisa terlihat bahwa bangunan mesjid ini didesain dengan sangat indah dan anggun. Salut buat perancangnya.

Tiang di bagian kiri dan kanan pada pelataran halaman dapat dibuka seperti payung sehingga jamaah tidak kehujanan atau kepanasan ketika sedang salat. Perpaduan seni modern yang sangat bagus karena tidak hanya indah tapi juga memberikan fungsi yang bermanfaat kepada jamaah.

Dari serambi belakang mesjid, selain terlihat menara 99 juga terlihat hamparan halaman yang luas.

Sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya…

Masuk ke dalam mesjid, sebuah Quran raksasa menyambut. Quran ini ditulis oleh seorang dosen di Semarang dan kemudian disumbangkan ke mesjid ini. Mungkin karena untuk menjaga keawetan maka Quran ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu dan digembok sehingga tidak semua orang dapat melihatnya secara sembarangan.

Akhirnya karena azan berkumandang maka aku buru-buru pulang agar tidak terbakar berwudhu dan salat magrib.

Menurutku ini adalah salah satu mesjid terindah dan terbaik pengelolaannya di beberapa daerah yang pernah kukunjungi.

Written by syahmins

Agustus 31, 2014 at 13:46