the Journal

Archive for the ‘Bacaan’ Category

Melawan Lupa

leave a comment »


screenshot-from-2016-10-27-07-42-22

Gambar di atas sedang banyak beredar saat ini berkaitan dengan pilkada 2017 dimana salah satu cagub DKI melakukan blunder yang kemudian terkenal dengan kasus Al Maidah 51.

Setidaknya ada tiga hal yang disorot dalam keterangan foto tersebut yaitu sebagai berikut:

Tidak ada orang yang berani melecehkan Islam pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Silahkan menggunakan mesin pencari untuk membaca kasus Priok (1984), Kasus Talangsari (1989), Kasus Sirnagalih (1993), kasus Aceh (1978-2004). Jangan lupa juga untuk mencari siapa yang sedang menjabat sebagai presiden pada tahun-tahun tersebut.

Tidak ada orang yang berani mempermasalahkan suara azan pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Kasus suara azan itu awalnya diributkan karena wakil presiden Jusuf Kalla yang juga merangkap sebagai ketua Dewan Mesjid Indonesia meminta agar mesjid-mesjid hanya memutar pengajian tidak terlalu lama pada saat menjelang waktu salat. Hal ini disampaikan pada pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015). Tapi apakah benar itu hanya diributkan pada era presiden Jokowi menjabat?

Terkait dengan polusi suara yang diakibatkan oleh suara kaset orang mengaji itu sudah lama diatur melalui Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla. Silahkan menggunakan mesin pencari untuk mengetahui apa isi dari instruksi tersebut.

Ngomong-ngomong tahun 1978 itu siapa yang sedang menjabat sebagai presiden?

Tidak ada orang yang berani menistakan Al Quran pada saat presiden Soeharto masih menjabat

Salah satu kasus menarik adalah mengenai pemilu tahun 1971 dimana partai politik yang terlibat saling jualan ayat Quran untuk melegitimasi partai mereka. Salah satu artikel menarik tentang ini bisa dibaca di sini.

Written by syahmins

Oktober 27, 2016 at 08:31

Ditulis dalam Bacaan, Jas Merah, Opini, Protes

Tagged with ,

Buku: Tuhan, Maaf Engkau Ku Madu

with one comment


Awal ketertarikan dengan buku ini karena ada embel-embel “sebuah novel sufistik”. Selain itu nama Aguk Irawan yang bukunya pernah ku baca seperti Haji Backpacker dan beberapa tulisannya mengenai petualangan mengarungi beberapa daerah di Timur Tengah. Jadi dengan harapan tinggi akan mendapatkan sebuah cerita berkualitas maka buku itu masuk ke dalam keranjang belanja.

Sayangnya harapan itu pupus justru di beberapa lembar pertama. Kata pengantar yang terlalu panjang is okay lah… soalnya bisa dilewatkan saja. Tapi beberapa salah eja (?) justru menjadikan cerita tersebut menjadi aneh buatku. Sebut saja misalnya ada kata sepeda montor atau rangsel — yaaahhh mungkin aku aja yang terlalu sensitif, karena kenyataannya rangsel masuk ke dalam KBBI Daring walaupun akhirnya dipadankan dengan kata ransel. Selain itu nama seorang tokoh berubah dari Irwan pada awal cerita menjadi Irawan kemudian kembali menjadi Irwan pada akhir cerita.

Selanjutnya yang bikin agak menghilangkan gairah membaca adalah cara bercerita yang terkadang melompat gak tentu arah. Ketika sedang menceritakan tentang seorang pemandu wisata yang menerangkan mengenai tiang-tiang yang ada di Luxor, tiba-tiba saja kata ganti orang pertama tunggal (saya) nyelip. Jadi entah itu masih dalam keterangannya si pemandu wisata atau malah keterangan tambahan dari penulis sendiri. Beberapa kali hal ini terjadi dengan variasi kata ganti (saya atau kami) yang berbeda.

Jalan cerita pada awalnya juga membosankan. Malah terkesan seperti novel cinta pada umumnya. Kemanapun si tokoh utama pergi maka dia akan secara kebetulan menjumpai si tokoh wanita. Terkesan terlalu dipaksakan. Terlalu banyak menggambarkan cerita cinta dan pertemuan mereka secara ala kadar, gak terlalu dapat mengenai apa yang mau dibagi dengan kejadian itu.

Sampai di pertengahan, konflik sudah mulai terlihat. Jalan cerita juga jadi lebih enak diikuti, tidak terlalu berkesan terlalu banyak kebetulan. Mulai banyak kutipan-kutipan sufisme maupun beberapa filsafat. Dialog juga lebih tertata dan urutan waktu jadi lebih runut. Hingga tiba di akhir cerita yang terkesan dibuat misterius dan pembaca harus meraba lagi.

Secara keseluruhan, novel ini layak untuk dibaca dengan kesabaran dan kemampuan untuk melupakan segala masalah yang ku ceritakan tadi. Tapi novel ini gak termasuk daftar buku yang mau aku baca ulang. Bahkan jika gak ada buku lain yang harus dibaca 😀

Written by syahmins

Januari 8, 2014 at 19:42

Ditulis dalam Bacaan, i s e n g, Opini

Tagged with ,

Napoleon Dari Tanah Rencong

with 2 comments


Seminggu yang lalu waktu jalan-jalan ke Gramedia, buku ini menarik minatku untuk mengambilnya dari rak buku baru. Tumben… biasanya juga nyarinya buku diskonan 🙂

Bergambar sebuah rencong di sampul depannya dan tulisan berjudul: Napolen Dari Tanah Rencong dengan latar belakang polos, sekilas buku ini tidak menarik perhatian untuk dijamah. Sampul buku ini seolah sama dan serupa dengan beberapa buku sejarah tentang Aceh lainnya, kosong dengan satu objek identik; rencong, rumoh aceh atau kopiah meukutop. Awalnya aku mengira buku ini akan membahas sejarah perjuangannya Daud Beureueh sang Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo yang dikuburkan di Beureunun, tetapi rupanya persepsiku salah. Buku itu bukan hanya sebuah buku sejarah tapi sebuah novel sejarah yang berkaitan dengan masa DI/TII Aceh. Novel ini lebih menitikberatkan pada perjuangan Hasan Saleh sebagai Panglima Perang yang menjadi otak di balik segala strategi perang DI/TII Aceh ketika itu.

Dengan gaya bercerita yang bebas, Akmal Nasery Basral sang pengarang berhasil menceritakan beberapa kelucuan yang terjadi di seputar kehidupan pribadi Hasan Saleh. Cerita mengenai cara Hasan Saleh melakukan pendekatan dengan wanita yang kemudian akan menjadi istrinya diceritakan dengan sangat baik. Kemudian juga beberapa cerita ketika Hasan Saleh melakukan tugas menumpas pemberontakan RMS serta bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan alat perang yang layak bagi pasukannya dan mengembalikan pasukannya ke bawah komando TT I/Bukit Barisan.

Tidak hanya bercerita tentang kehidupan pribadi Hasan Saleh, buku ini juga mengupas beberapa kejadian yang berkaitan dengan DI/TII Aceh mulai dari awal pemberontakan hingga selesai serta beberapa konflik antar tokoh-tokoh yang melakukan pergerakan. Selain itu kita juga akan mendapatkan beberapa pandangan baru mengenai kejadian itu serta beberapa alasan yang dikemukakan mengenai mengapa Hasan Saleh dan Dewan Revolusi NII Aceh menerima uluran perdamaian dari Pemerintah RI melalui misi Hardi (gambaran lengkap mengenai misi Wakil Perdana Menteri Hardi bisa di lihat di sini).

Satu kisah yang menarik yang tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjuangan DI/TII Aceh tetapi juga berkaitan dengan pemberontakan GAM adalah cerita ketika Daud Beureueh memerintahkan untuk mengirimkan sejumlah uang kepada Hasan Tiro yang saat itu menjadi mahasiswa di Amerika Serikat. Di buku ini diceritakan bagaimana Hasan Tiro telah berhasil mengelabui dengan mengirimkan kabar palsu mengenai pengiriman senjata itu. Ada beberapa kali berita itu disampaikan oleh Daud Beureueh kepada Hasan Saleh dan pasukannya sehingga mereka mempersiapkan tempat untuk pendaratan senjata tersebut. Setelah ditunggu beberapa lama senjata-senjata tersebut tak pernah sampai ke tangan para tentara DI/TII Aceh.

Buku setebal 536 halaman ini memang tidak dimaksudkan untuk menjadi buku pegangan sejarah. Hal ini diakui oleh sang pengarang yang menganggap riset yang dilakukannya belumlah seilmiah riset yang dilakukan oleh para sejarawan yang memang ahli dibidangnya. Tapi dengan bentuk novelisasi sejarah ini justru membuat roman sejarah jadi terbayang lebih nyata daripada hanya sekedar fakta dan tanggal dari sebuah kejadian di masa lalu. Dengan gaya novelisasi ini jadi tak sadar waktu ketika membaca sehingga buku yang tebal itu habis dalam tiga malam saja 😀

Buku ini layak dibeli jika ingin mengetahui beberapa cerita di balik sejarah DI/TII Aceh. Selain di toko buku terdekat, buku ini juga sudah dijual di toko buku online atau jika ingin membeli versi digitalnya dengan harga yang lebih murah dari versi cetaknya bisa klik di sini.

————-

Foto diambil dari bukukita.com

Written by syahmins

Agustus 25, 2013 at 14:15

Yogya Dalam Angka 2012

leave a comment »


Penerbit: Bappeda DIY dan BPS DIY

Tahun terbit 2012

Cara penggunaan:

karena masih bersifat file mentah hasil download dari website BPS Yogya, setelah di download kemudian diekstrak ke folder yang diinginkan. Buka file page1.html kemudian klik Table of Contents pada bagian kanan atas halaman. Silahkan menjelajah dari halaman tersebut.

Download Yogya Dalam Angka 2012.

————————————

Dapatkan space gratis sebesar 15GB sekarang!

Written by syahmins

Juni 6, 2013 at 11:35

Gresik Dalam Angka

leave a comment »


Gresik Dalam Angka 2010

Gresik Dalam Angka 2011

Kerjasama Bappeda Gresik dan BPS Gresik.

—————————

Dapatkan space gratis sebesar 15GB sekarang!

Written by syahmins

Mei 29, 2013 at 11:21

Ditulis dalam Bacaan, Kerjaan

Tagged with ,

Banten Dalam Angka 2012

leave a comment »


Banten Dalam Angka 2012 adalah hasil kerjasama Bappeda Banten dan BPS Banten.

Tahun terbit 2012

Tahun data 2011

Download.

————————

Dapatkan space gratis sebesar 15GB sekarang!

Written by syahmins

Mei 24, 2013 at 11:19

Sekali Lagi Tentang Ucapan Selamat Natal

leave a comment »


Boleh atau gak?

Menurut pendapat pribadiku mengucapkan selamat natal atau hari besar keagamaan lainnya bagi yang non muslim adalah mubah. Alasanku adalah ucapan selamat untuk perayaan hari besar keagamaan tidak ada hubungannya dengan anggapan kalau kita juga mengakui dan beriman pada agama mereka.

Sempat dapat beberapa hujatan karena berlawanan dengan arus tapi show must go on 🙂

Akhirnya hari ini ada yang posting di Facebook mengenai hal ini dengan memberikan link ke situs ini. Intinya adalah: boleh hukumnya mengucapkan selamat natal atau ucapan selamat lainnya selama tidak mengikuti ritual keagamaan mereka. Fatwa ini didukung oleh:

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi
  2. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’
  3. Dr. Wahbah Zuhayli
  4. Dr. M. Quraish Shihab
  5. Fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) dan Buya Hamka
  6. Dr. Din Syamsuddin 
  7. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah
  8. Isi Fatwa MUI 1981 Seperti Dikutip Eramuslim.com

Nah jadi mau ikut yang mana?

Intinya mengucapkan atau tidak tapi yang terpenting adalah tidak anarkis 😀

Written by syahmins

Desember 20, 2012 at 12:06

Ditulis dalam Bacaan, Opini

Tagged with ,