Tarif Taksi Bandara Sultan Iskandar Muda Tahun 2019


Foto di bawah ini adalah tarif taksi Bandara Sultan Iskandar Muda pada tahun 2019. Untuk beberapa lokasi, tarifnya masih sama seperti pada postingan tahun 2016.

Untuk informasi saja, di bandara ini tidak ada taksi online. Walaupun di kota Banda Aceh sendiri telah beroperasi dua taksi online tapi untuk beberapa kawasan masih tidak diperbolehkan. Beberapa kawasan itu seperti bandara, pelabuhan, dan terminal bus.

Untuk mengakali larangan tersebut, cobalah untuk memesan ketika anda akan naik pesawat. Beberapa supir taksi online biasanya menerima orderan tersebut dengan catatan tidak melalui aplikasi. Jadi ketika sudah deal nanti anda akan diminta untuk membatalkan pesanan tersebut. Jangan lupa menyimpan nomor telepon supir dan plat nomor kendaraannya. Ketika dijemput berpura-pura saja itu adalah teman anda. Jangan khawatir mengenai tarif karena tarif yang dibayarkan tetap sesuai dengan yang tertera pada aplikasi taksi online anda.

Welcome to Aceh – Selamat datang di Aceh.

 

Tarif Taksi Bandara Sultan Iskandar Muda


Tarif taksi dari bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Sekedar informasi, ada dua jenis taksi yang beredar di bandara SIM yaitu taksi yang bernaung di bawah koperasi TNI AU serta taksi yang bernaung di bawah koperasi desa setempat. Keduanya menggunakan plat hitam. Perbedaan dari keduanya hanya di seragam mereka saja.

Jak Tajak U Medan…


Foto di atas adalah salah satu spanduk yang terpasang di Simpang Surabaya beberapa bulan lalu. Sekilas memang tak ada yang salah dengan spanduk tersebut, hanya memberikan informasi mengenai adanya diskon sebuah hotel di kota Medan jika tamunya mendaftar dengan menggunakan KTP Aceh.

Kalau tak ada yang aneh lalu kenapa dijadikan postingan?

Kalau mau kritis, sebenarnya keanehan justru ada pada fenomena getolnya masyarakat Aceh untuk berlibur ke Medan. Jika mau memperhatikan bisa dilihat pada setiap akhir pekan, masyarakat Aceh berbondong-bondong ke Medan. Baik yang menggunakan jalan darat maupun menggunakan pesawat dengan berbagai keperluan seperti bisnis, keluarga atau hanya untuk berwisata. Sehingga ada candaan bahwa sekarang kota Medan sudah menjadi salah satu kabupaten di Aceh karena ramainya warga Aceh yang main ke Medan pada akhir pekan.

Imbas dari ramainya kunjungan ke Medan sudah tentu membuat hotel-hotel yang ada membuat banyak promosi untuk menggaet para wisatawan ini agar menginap di tempat mereka. Mulai diskon menginap jika memiliki KTP Aceh hingga potongan harga jika berbelanja oleh-oleh di tempat tertentu. Tak ada yang salah dari sisi ini.

Permasalahan terbesar dan sering kali tidak diperdulikan oleh rakyat dan pemerintah Aceh adalah efek ekonomisnya. Dengan banyaknya kunjungan ke Medan untuk urusan wisata maka banyak pula uang yang mengalir ke provinsi tetangga tersebut. Dengan banyaknya uang yang mengalir maka ekonomi di daerah tersebut akan semakin bergairah sedangkan daerah asal uang tersebut akan semakin kering.

Sebenarnya ngapain aja sih kalau ke Medan?

Ada banyak pilihan  hiburan di Medan mulai dari yang hiburan keluarga hingga ke hiburan esek-esek. Untuk urusan yang esek-esek sepertinya masyarakat Aceh sudah diberikan cap jelek bahwa sebagian besar dari mereka suka dengan hiburan lendir ini. Kalau tak percaya, silahkan naik taksi atau becak dan ajak ngobrol dengan menggunakan aksen Aceh yang agak kental. Pasti tak lama kemudian akan ditawari hiburan lendir itu. Kalau mau lebih dikorek lagi maka akan terbuka cerita mengenai kelakuan mayoritas penumpang taksi atau becak yang berasal dari Aceh. Tapi itu bukan bahasan di postingan kali ini, silahkan melakukan investigasi sendiri ke Medan 😀

Hiburan keluarga ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi seperti sejumlah bioskop yang sudah pasti tidak ada di Aceh, pusat-pusat perbelanjaan yang diklaim lebih murah daripada harga di Aceh, sejumlah kolam renang, pusat buku bekas, warung jajanan atau warung kopi hingga museum satwa. Itu hanya yang ada di seputaran kota Medan. Kalau mau lebih keluar kota maka akan didapatkan wisata alam Danau Toba, Berastagi, Taman Wisata Iman di Dairi, air terjun Sipiso-piso dan banyak lagi.

Intinya banyak tempat wisata di seputaran Medan serta banyak pula uang yang dikeluarkan untuk menikmatinya. Lalu apakah di Aceh tidak ada tempat wisata yang sama? Sebenarnya hanya ada beberapa saja yang tidak ada di Aceh seperti museum satwa, kebun binatang, pusat buku bekas, serta bioskop. Selebihnya semua ada dan tersedia walaupun fasilitas pendukungnya masih sangat minim.

Tapi bukankah dengan kita berkunjung maka harapannya fasilitas akan semakin lengkap? Selain itu ekonomi masyarakat sekitar tentunya juga akan semakin bergairah. Lalu kenapa kita harus memberikan sumbangan penghasilan kepada provinsi tetangga tapi membiarkan rakyat sendiri hidup susah?

Kiban, Pajan ta jak u Medan?

Lawang Sewu – Gedung Sejarah Kereta Api


Postingannya kembali ke Semarang 😀

Masih dalam rangka iseng dari kunjungan singkat ke Semarang bulan lalu, kali ini ingin cerita mengenai Lawang Sewu. Sebuah kompleks gedung museum kereta api yang pernah juga menjadi momok bagi para pejuang angkatan 45. Gedung ini pernah menjadi penjara bawah tanah ketika Jepang menjajah Indonesia. Akibat dari banyaknya pejuang yang tewas di penjara tersebut, konon bagian yang penjara itu sekarang menjadi tempat wisata uji nyali.

Untuk masuk ke kompleks gedung ini pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000. Jika membawa mobil maka bersiaplah untuk ribet mencari tempat parkir karena gedung ini tidak menyediakan tempat parkir. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu yang tersedia dengan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000 untuk menemani dan menceritakan sejarah gedung ini.

Jika tidak ingin menggunakan jasa pemandu wisata, kita juga dapat langsung mengelilingi kompleks gedung ini dengan menggunakan panduan peta yang terpampang besar di bagian depan kompleks gedung Lawang Sewu ini. Selain denah kompleks, kita juga dapat membawa sejarah singkat kompleks gedung tersebut.

Gedung ini sebenarnya sangat menarik dan indah karena itu gedung yang juga dikenal dengan gedung seribu pintu ini sering dijadikan tempat foto pre wedding. Untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat pre wedding tentu saja harus meminta izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik gedung.

Pada masanya, gedung ini digunakan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Jawa sebagai kantor operasional mereka. Ada dua bagian gedung ini yaitu kantor untuk golongan kulit putih, Tionghoa serta bangsawan dan satu bagian lagi untuk golongan pribumi Jawa.

Perbedaan kedua tempat ini dapat dilihat dari bahan baku bangunannya. Bangunan yang diperuntukkan bagi golongan pertama berbahan baku impor dengan kualitas terbaik. Bahkan marmer lantainya konon diimpor dari Belanda. Sedangkan bangunan yang diperuntukkan bagi pekerja pribumi dibangun dengan menggunakan bahan baku lokal. Contoh bata, semen, genteng dan beberapa engsel pintu dapat dilihat pada gedung pameran yang ada di kompleks gedung ini.

Salah satu selasar pada bagian yang diperuntukkan bagi golongan kulit putih

Pada bagian gedung yang berisikan contoh bahan bangunan asli Lawang Sewu ini juga terdapat satu poster yang berisikan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Salah satu periode sejarah yang ada adalah Atjeh Tram yang fotonya adalah peron di Banda Aceh. Dulunya peron ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman tapi sekarang sudah dihancurkan untuk perluasan Mesjid Raya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sisi bagian dalam gedung, hanya saja ketika ingin melihat penjara bawah tanah tidak diizinkan oleh pemandu yang mendampingi. Alasannya karena bagian gedung yang itu sedang dalam tahap renovasi sehingga tidak ada lampu untuk menerangi lokasi yang terletak di bawah tanah tersebut.

Selain melihat keindahan gedung, pengunjung juga dapat melihat sebuah trem listrik yang sudah tidak digunakan lagi di bagian belakang gedung. Sebuah lokomotif berbahan bakar uap juga terpajang di depan gedung tersebut untuk memperlihatkan masa jaya kereta api di Semarang.

Melihat gedung lama yang sarat sejarah dan terawat ini ada satu perasaan miris yang mampir karena membayangkan saudara tuanya yaitu Atjeh Tram yang berkantor di Banda Aceh sudah tidak terlihat lagi jejaknya. Hanya ada satu lokomotif tua yang terjemur matahari di depan sebuah pusat perbelanjaan di Banda Aceh, selebihnya tidak ada. Seolah kereta api di Aceh hanyalah sebuah dongeng pada zaman dahulu kala yang keberadaannya antara ada dan tiada.

Nol Kilometer Ngabang – Kabupaten Landak – Kalimantan Barat


Ngabang adalah nama sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari kabupaten Landak – Kalimantan Barat. Berjarak hanya empat jam dari kota Pontianak, kabupaten ini adalah salah satu daerah penghasil intan terbesar di Kalimantan Barat. Posisinya yang dekat dengan perbatasan Malaysia di daerah Entikong serta adanya suku-suku Melayu menjadikan daerah ini memiliki budaya Dayak dan Melayu yang kental. Kalau ngobrol dengan orang setempat bisa berasa sedang nonton Upin-Ipin secara langsung 😀

Patok nol kilometer ini terpasang di depan terminal Landak atau di depan pasar tradisional mereka, sehingga tidak begitu sulit untuk ditemukan.

Btw, budaya ngopi mereka juga mirip dengan Aceh. Segelas kopi pancung dapat dinikmati berjam-jam bersama dengan teman-teman sambil ngobrol sana-sini. Bedanya dengan kopi di Aceh adalah cara penyeduhannya. Kopi di Landak adalah kopi tubruk sehingga bubuk kopinya masih tertinggal di cangkir sebanyak lebih kurang sepertiga cangkir, sedangkan kopi Aceh disaring dan dapat dihabiskan hingga gelas kering.

Mesjid Agung Jawa Tengah


Mesjid Agung Jawa Tengah terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Semarang. Dengan menggunakan mobil kira-kira waktu yang diperlukan adalah 15 menit untuk menuju dari daerah Simpang Lima Semarang.

Masuk ke area mesjid, langsung disambut dengan mesin parkir modern a la pusat-pusat belanja besar. Cukup tekan tombol dan tiket parkir langsung keluar secara otomatis. Praktis dan yang aku senangi adalah adanya kesadaran pengurus mesjid untuk mengkomersialkan area mesjid untuk sesuatu yang bermanfaat sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemakmuran mesjid.

Halaman luas langsung terhampar di depan mata. Banyak pengunjung yang memanfaatkan halaman yang luas ini untuk melakukan rekreasi yang tidak selalu berupa kegiatan keagamaan. Ada yang melakukan olah raga sore, selfie, sekedar duduk sambil menikmati jajanan atau bermain sepatu roda. Bahkan pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh juga ada beberapa warung kecil di dalam kompleks mesjid. Dan mesjidnya itu dari jauh kelihatan luar biasa…

Menara 99 difoto dari arah serambi mesjid

Oleh supir taksi yang mendampingi perjalanan kali ini, aku diceritakan mengenai menara 99 yang berfungsi sebagai menara pandang serta sebuah restoran di atasnya. Melihat pemandangan kota dari atas memang selalu membuat penasaran, apakah bangunan-bangunan yang kita kenal dari bawah masih terlihat sama ketika dilihat dari atas? Atau apakah kita bisa mengenal bangunan-bangunan tersebut jika dilihat dari kejauhan? Itu barangkali beberapa pertanyaan yang terajut di dalam kepala.

Dengan membayar karcis tujuh ribu rupiah kita dapat naik ke menara mesjid tersebut. Sebenarnya ada tiga fungsi utama dari menara tersebut yaitu menara pandang pada tingkat sembilan, restoran putar pada tingkat delapan dan museum pada tingkat tiga. Hanya ketika aku datang, restoran dan museum sudah tutup sehingga hanya dapat naik ke tingkat sembilan saja.

Untuk melihat jarak jauh disediakan beberapa teropong yang dapat dioperasikan dengan menggunakan koin seribu rupiah. Kerennya, ada seorang penjaga resmi yang menyediakan koin tersebut untuk ditukarkan oleh pengunjung. Mantap…

Mesjid dari atas

Karena aku berkunjung dengan dengan waktu magrib maka selain mendapatkan pemandangan kota Semarang dari atas, aku juga mendapatkan bonus berupa pemandangan matahari terbenam. Melihat matahari tenggelam tanda hari mulai malam itu memang selalu memberikan inspirasi *halah sok puitis*

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat dari atas, perjalanan dilanjutkan dengan menjelajahi mesjid dari dekat. Keunikan mesjid ini adalah bentuk pelatarannya yang dihiasi dengan tiang-tiang yang dihubungkan dengan kaligrafi indah.

Dari pelataran halaman dalam mesjid juga bisa terlihat bahwa bangunan mesjid ini didesain dengan sangat indah dan anggun. Salut buat perancangnya.

Tiang di bagian kiri dan kanan pada pelataran halaman dapat dibuka seperti payung sehingga jamaah tidak kehujanan atau kepanasan ketika sedang salat. Perpaduan seni modern yang sangat bagus karena tidak hanya indah tapi juga memberikan fungsi yang bermanfaat kepada jamaah.

Dari serambi belakang mesjid, selain terlihat menara 99 juga terlihat hamparan halaman yang luas.

Sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya…

Masuk ke dalam mesjid, sebuah Quran raksasa menyambut. Quran ini ditulis oleh seorang dosen di Semarang dan kemudian disumbangkan ke mesjid ini. Mungkin karena untuk menjaga keawetan maka Quran ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu dan digembok sehingga tidak semua orang dapat melihatnya secara sembarangan.

Akhirnya karena azan berkumandang maka aku buru-buru pulang agar tidak terbakar berwudhu dan salat magrib.

Menurutku ini adalah salah satu mesjid terindah dan terbaik pengelolaannya di beberapa daerah yang pernah kukunjungi.