Lawang Sewu – Gedung Sejarah Kereta Api


Postingannya kembali ke Semarang 😀

Masih dalam rangka iseng dari kunjungan singkat ke Semarang bulan lalu, kali ini ingin cerita mengenai Lawang Sewu. Sebuah kompleks gedung museum kereta api yang pernah juga menjadi momok bagi para pejuang angkatan 45. Gedung ini pernah menjadi penjara bawah tanah ketika Jepang menjajah Indonesia. Akibat dari banyaknya pejuang yang tewas di penjara tersebut, konon bagian yang penjara itu sekarang menjadi tempat wisata uji nyali.

Untuk masuk ke kompleks gedung ini pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000. Jika membawa mobil maka bersiaplah untuk ribet mencari tempat parkir karena gedung ini tidak menyediakan tempat parkir. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu yang tersedia dengan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000 untuk menemani dan menceritakan sejarah gedung ini.

Jika tidak ingin menggunakan jasa pemandu wisata, kita juga dapat langsung mengelilingi kompleks gedung ini dengan menggunakan panduan peta yang terpampang besar di bagian depan kompleks gedung Lawang Sewu ini. Selain denah kompleks, kita juga dapat membawa sejarah singkat kompleks gedung tersebut.

Gedung ini sebenarnya sangat menarik dan indah karena itu gedung yang juga dikenal dengan gedung seribu pintu ini sering dijadikan tempat foto pre wedding. Untuk menggunakan gedung ini sebagai tempat pre wedding tentu saja harus meminta izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik gedung.

Pada masanya, gedung ini digunakan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Jawa sebagai kantor operasional mereka. Ada dua bagian gedung ini yaitu kantor untuk golongan kulit putih, Tionghoa serta bangsawan dan satu bagian lagi untuk golongan pribumi Jawa.

Perbedaan kedua tempat ini dapat dilihat dari bahan baku bangunannya. Bangunan yang diperuntukkan bagi golongan pertama berbahan baku impor dengan kualitas terbaik. Bahkan marmer lantainya konon diimpor dari Belanda. Sedangkan bangunan yang diperuntukkan bagi pekerja pribumi dibangun dengan menggunakan bahan baku lokal. Contoh bata, semen, genteng dan beberapa engsel pintu dapat dilihat pada gedung pameran yang ada di kompleks gedung ini.

Salah satu selasar pada bagian yang diperuntukkan bagi golongan kulit putih

Pada bagian gedung yang berisikan contoh bahan bangunan asli Lawang Sewu ini juga terdapat satu poster yang berisikan sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Salah satu periode sejarah yang ada adalah Atjeh Tram yang fotonya adalah peron di Banda Aceh. Dulunya peron ini terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman tapi sekarang sudah dihancurkan untuk perluasan Mesjid Raya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sisi bagian dalam gedung, hanya saja ketika ingin melihat penjara bawah tanah tidak diizinkan oleh pemandu yang mendampingi. Alasannya karena bagian gedung yang itu sedang dalam tahap renovasi sehingga tidak ada lampu untuk menerangi lokasi yang terletak di bawah tanah tersebut.

Selain melihat keindahan gedung, pengunjung juga dapat melihat sebuah trem listrik yang sudah tidak digunakan lagi di bagian belakang gedung. Sebuah lokomotif berbahan bakar uap juga terpajang di depan gedung tersebut untuk memperlihatkan masa jaya kereta api di Semarang.

Melihat gedung lama yang sarat sejarah dan terawat ini ada satu perasaan miris yang mampir karena membayangkan saudara tuanya yaitu Atjeh Tram yang berkantor di Banda Aceh sudah tidak terlihat lagi jejaknya. Hanya ada satu lokomotif tua yang terjemur matahari di depan sebuah pusat perbelanjaan di Banda Aceh, selebihnya tidak ada. Seolah kereta api di Aceh hanyalah sebuah dongeng pada zaman dahulu kala yang keberadaannya antara ada dan tiada.

Tugu Kereta Api Aceh


Generasi baru Aceh (lahir tahun 1985 ke atas) mungkin tidak pernah merasakan era kereta api di Aceh. Bahkan aku yang lahir sebelum 1985 (ketauan umur dah :D) juga gak sempat merasakan era tersebut. Tapi biarpun begitu aku masih sempat merasakan suasana komplek PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang sekarang bernama PT. Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut. Waktu kecil aku masih sempat lari-larian di komplek tersebut dengan suasana rumah papan yang berdempetan diantara jalur rel kereta. Lokasi komplek tersebut berada di kompleks Pusat Perbelanjaan Barata dan Geunta Plaza (sudah tutup) sekarang ini. Klik di sini untuk melihat di Wikimapia.

ka

Tugu pada gambar di atas ini adalah sebuah lokomotif tua yang sempat lama terbengkalai sebelum dibuat panggung untuk dirinya 😀 Sebelum dibuatkan panggung, lokomotif ini menjadi tempat main kami anak-anak di sekitar komplek PJKA. Jika malam maka lokomotif ini berubah fungsi menjadi tempat tidur para gelandangan, PSK murahan pada saat itu serta menjadi tempat mabuk es menen (aceh: miras)

Konon ini adalah lokomotif terakhir dari sejarah kereta api di aceh yang tidak sempat dibawa ke Medan. Bagi para orang tua tentu mereka memiliki kenangan tersendiri ketika mereka menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju kota-kota di sepanjang pantai timur Aceh. Tetapi bagi para anak muda situs ini tidak memiliki makna khusus bahkan jarang diantara mereka yang mengetahui atau bahkan melirik ketika melewatinya.

Lokasi yang terletak di seberang Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tidak menjadikan situs ini menjadi tempat yang ramai dikunjungi warga. Malah situs yang terletak di pelataran parkir pusat perbelanjaan Barata ini cenderung tak terlirik dan tak terurus oleh Pemerintah Kota Banda Aceh yang kantornya hanya berjarak beberapa ratus meter dari situ.

Ketika aku mencoba naik, pintu untuk masuk terkunci tanpa tahu siapa yang memegang kuncinya. Dengan modal melongok dan memanjangkan leher dapat terlihat kondisi lokomotif yang sangat memprihatinkan. Beberapa bagian terutama lantai telah lama keropos terkena air hujan dan panas yang selalu mendera. Cat hitam yang membalur seluruh badan lokomotif juga telah terkelupas di beberapa bagian. Tak usahlah ditambah cerita tentang karat yang menggerogoti tubuh tua sang lokomotif.

Alangkah baiknya jika Pemko Banda Aceh membuat situs ini sedikit lebih terkenal dengan cara membuat taman untuk bermain dan bernostalgia 🙂 Sedikit papan informasi mengenai sejarah perkeretaapian di Aceh juga akan membuat tempat ini lebih menarik dikunjungi sehingga generasi muda Aceh juga ikut merasakan kejayaan masa itu.

OOT, ada warung bakso yang katanya enak diseputaran tugu ini, tapi aku belum pernah nyobain sih 😀

Lokasi: 5°33’6″N   95°19’9″E