Mengunjungi Makam Tan Malaka


Beberapa waktu belakangan ini heboh soal penemuan makam Tan Malaka di daerah Kediri, Jawa Timur yang merupakan hasil penyelidikan Harry A. Poeze, seorang ahli sejarah Indonesia asal Belanda. Nah menurut beliau, makam ini 90% positif milik Tan Malaka, hanya tinggal menunggu hasil tes DNA dari sebuah rumah sakit.

Berhubung sedang ada tugas dari kantor ke Kota Kediri, maka ada rasa penasaran ingin melihat langsung makam sang Bapak Republik yang terlupakan ini. Beberapa orang yang ditanyai di seputaran Kota Kediri mengaku tidak tahu mengenai lokasi makam tersebut. Berbekal pengetahuan yang minim mengenai lokasi makam tersebut, aku mengambil langkah nekat untuk menyewa sebuah mobil dan mulai berkelana mencarinya. Patokan arah yang kudapatkan dari hasil berkunjung ke beberapa blog adalah mencari desa Selopanggung kemudian mencari makam Mbah Selopanggung. Makam Tan Malaka terletak di sebelah makamnya Mbah Selopanggung.

Bermodalkan patokan arah tersebut akhirnya aku dan sang supir berangkat. Untungnya si om supir yang sedang giat bekerja itu adalah orang yang lahir dan besar di seputaran desa Selopanggung jadi sedikit banyak dia mengerti arah mana yang harus dituju. Tapi dia gak tau mengenai makam Tan Malaka atau makam Mbah Selopanggung. Dengan bermodalkan GPS (Gangguin Penduduk Sekitar) akhirnya kami mendapatkan titik terang mengenai lokasi makam dimaksud.

Untung saja pemandangan sekitar sangat enak dipandang sehingga perasaan bisa sedikit terhibur. Sawah dengan sistem terasering dan beberapa padang rumput juga menemani perjalanan.

Dari jalan utama desa di sebuah simpang tiga, kami berbelok masuk ke sebuah jalan dengan kondisi aspal rusak. Jalanan kecil menurun dengan sebelah kiri jurang dan kanan tebing kecil. Tak seberapa lama kami menjumpai sebuah mesjid tempat banyak anak kecil sedang mengaji. Turun dan bertanya kepada penduduk setempat, mereka langsung memberitahukan tempatnya dengan pasti. Dalam Bahasa Indonesia bercampur Jawa tentunya – yang mana aku sama sekali gak ngerti bahasa Jawa. Setelah beberapa kali bertanya yang mungkin bikin orang yang ditanya itu agak kesal akhirnya aku nekatkan diri lagi untuk maju. Tak jauh dari mesjid tersebut ada sebuah jembatan dengan sungai deras mengalir. Untunglah kami ketemu dengan seorang bapak baik budi yang bersedia mengantarkan kami ke tujuan. Dengan ditemani mendung dan sedikit becek, akhirnya sampai juga kami di dekat lokasi.

Oh ya… sangat disarankan untuk menggunakan motor kalau ingin berkunjung kemari. Jalanannya agak tidak layak untuk dilalui mobil. Harus tega mobil kotor dan agak bergores terkena ranting pohon di pinggir jalan. Bahkan di dekat lokasi makam, hanya ada jalan setapak berlumpur sehingga kalau tidak berhati-hati akan menjebak mobil.

Setelah memutar mobil di jalan sempit dan becek, serta berterimakasih dan mendengarkan sedikit cerita dari si Bapak pengantar (dalam bahasa Jawa fasih, aku cuma ikut ketawa kalo dia ketawa 😀 ) kami siap turun ke lokasi makam. Lokasi makam adalah rimbunan pohon seperti di foto pertama dan kedua berikut.

Perjalanan turun tidak terlalu jauh. Tapi jalanan setapak itu licin bukan main karena hujan yang baru turun siang tadi. Kalau gak percaya bisa lihat pada foto ketiga. Dengan menggunakan sandal yang sama licinnya akhirnya aku mulai bersusah payah turun. Lah udah kepalang tanggung. Target sudah di depan mata 😀 .

Beberapa belas meter turun, ada sebuah sungai kecil yang kelihatannya digunakan untuk mengairi sawah yang ada di bawahnya. Sebuah jembatan kecil dari dahan kayu harus diseberangi dengan bermodalkan sandal yang tapaknya sudah aus dan ditambahi dengan lumpur di sepanjang jalan turun tadi.

Akhirnya sampai juga ke tujuan. Setelah mengkhayalkan hal ini selama beberapa hari, akhirnya aku tiba juga di sini. Eh tapi makamnya yang mana ya? Rupanya tempat yang kami tuju itu adalah kompleks pemakaman umum desa Selopanggung. Berdasarkan keterangan dari si Bapak baik budi tadi, makam mbah Selopanggung terletak di bawah cungkup dan makam Tan Malaka ada di dekatnya. Jadi posisi makam Tan Malaka terletak disebelah belakang kiri jika kita berdiri menghadap cungkup Mbah Selopanggung.

Sungguh sederhana. Bahkan cenderung tak terurus. Semoga aja hasil tes DNA segera keluar sehingga makam ini beserta dengan jalan masuk untuk mengaksesnya bisa segera diperbaiki. Aneh rasanya buat sebuah bangsa yang katanya selalu mengingat jasa para pahlawan mereka tapi bisa melupakan salah satu Bapak Republik ini.

Walaupun belum puas mengambil foto-foto, hujan akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan lokasi makam. Berkejaran dengan hujan yang mulai membasahi baju akhirnya kami tiba kembali di atas tebing dan segera berlari ke mobil. Niat untuk mengambil titik GPS (yang ini beneran Global Positioning System) agar bisa menemukan kembali tempat ini agak terhalang karena aku cuma mengandalkan aplikasi Maps dari Android yang membutuhkan internet untuk mengakses petanya. Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya titik koordinat tersebut berhasil didapatkan.

Untuk mengunduh berkas .kmz untuk melihat lokasi di Google Earth bisa klik di sini semoga bisa bermanfaat untuk memandu mereka yang ingin berkunjung ke makam Tan Malaka.

Ngopi di Ambon


yak…… setelah suntuk gak tau ngapain, akhirnya hari ini ku putuskan untuk ngopi. Keputusan ini diambil setelah dua hari yang lalu gagal ngopi sewaktu masih ada gerombolan kantor 😀

Pertanyaan pertama tentu saja mau ngopi dimana? Ini Ambon bukan Banda Aceh yang aku hapal setiap sudut kotanya.

Pertanyaan ini ternyata terjawab dengan sangat mudah. Begitu melangkahkan kaki keluar dari hotel dan berjalan sejauh beberapa puluh meter ternyata ada dua rumah kopi. Orang-orang di Ambon menyebut warung kopi dengan rumah kopi, berbeda dengan daerah lain di Sumatera yang umumnya menyebut dengan warung kopi. Tapi apalah arti sebuah nama, yang terpenting adalah di tempat tersebut menjual kopi dan segala variasinya.

Perkenalan pertama dengan rumah kopi adalah di Jalan Said Perintah, tempat tersebut bernama Rumah Kopi Pangkalan. Secangkir kopi hitam pahit segera terhidang. Eh iya, kalau di Ambon namanya bukan kopi hitam pahit jika tidak memakai gula tapi kopi tawar. Sepiring cemilan yang berisikan empat potong kue terhidang di atas meja. Cangkir kopi berukuran agak tinggi, setidaknya lebih tinggi daripada gelas kopi pancung di Banda Aceh.

Ada hal yang unik di rumah kopi ini yaitu adanya live music. Lagunya juga bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Jadi kita gak cuma minum kopi sambil nonton tivi tapi juga sambil mendengarkan lagu yang dibawakan dengan sangat apik.

Kunjungan kedua adalah ke Rumah Kopi Senang Hati, nama itu terpampang pada sebuah papan kecil di depan sebuah rumah. Bertempat di jalan Sultan Hairun, Sirimau – Ambon, rumah kopi ini sangat padat pengunjungnya untuk ukuran jam 12 siang dengan matahari yang bersinar terik di luar. Tapi anehnya sebagian besar pengunjung justru memesan kopi panas untuk menghilangkan dahaga mereka.

Secangkir kopi dan sepiring kue segera dihidangkan oleh usi (panggilan untuk wanita dewasa alias kakak tapi bisa juga dipanggil ibu atau tante) yang bekerja di situ. Untuk soal kue, rumah kopi ini masih sama dengan hidangan kue di sejumlah warung kopi di Aceh. Lemper dan roti bohong. Yaaaahhh… standarlah…

Rumah kopi ketiga adalah rumah kopi Joas yang terletak di seberang Rumah Kopi Pangkalan. Rumah kopi ini bernama lengkap Rumah Kopi Tradisi Joas.

Ketika berkunjung sekitar jam 19:30 WIT, suasananya ramai dan hanya tersisa beberapa meja kosong. Beda seperti dua tempat sebelumnya, setelah memesan kopi tawar pengunjung akan ditanya jenis kue yang ingin dipesan. Beberapa pilihan yang tersedia adalah roti goreng, betatas (ubi), dan roti.

Selain secangkir kopi yang gelasnya hampir sebesar gelas normal, pengunjung juga disediakan segelas air putih untuk menetralkan rasa kopi. Rasa kopi di sini lebih pekat daripada rasa kopi di dua tempat sebelumnya. Mungkin karena itu Pak Joas merasa perlu untuk menambahkan segelas air putih sebagai pelengkap.

Di Ambon, kopi dibuat dengan menyeduh bubuk kopi sesuai dengan pesanan dan kemudian menyaringnya ke dalam gelas. Hal ini berbeda dengan warung kopi di Aceh yang umumnya mengangkat saringan kopi setinggi mungkin.

Satu hal yang menarik dari rumah kopi yang ada di Ambon adalah bentuk dan interiornya yang sangat sederhana. Tidak seperti warung kopi di Banda Aceh yang menyediakan Wi-Fi sebagai salah satu sarana menarik pelanggan, rumah kopi di Ambon hanya menyediakan kopi dan segala variasinya. Tanpa internet dan tanpat koran. Selain itu kursi dan meja juga sangat sederhana. Tidak terlihat berlebihan. Tapi hal itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung untuk ngopi.

Satu hal yang sudah pasti sama, rumah kopi dipakai sebagai tempat pertemuan tidak resmi bagi mereka-mereka yang ingin bertemu dengan teman atau saudara. Pengunjung umumnya berasal dari kalangan laki-laki, di ketiga rumah kopi itu tidak ku dapati wanita ngopi di sana. Apakah para wanita di Ambon tidak suka kopi? Entahlah…

——————————–

Rumah Kopi Senang Hati: 3°41’43″S 128°10’57″E

Rumah Kopi Pangkalan: 3°41’51″S 128°10’52″E

Rumah Kopi Tradisi Joas: 3°41’51″S 128°10’51″E

Makam Kandang XII – Kompleks Keraton Banda Aceh


Berkeliling kota Banda Aceh kali ini selain untuk menghabiskan waktu tapi juga sekalian nostalgia masa kecil di kawasan Keraton Banda Aceh. Di sini terdapat beberapa tempat menarik seperti komplek perumahan dan kantor tentara yang bangunannya berasal dari masa Belanda, menara air dari masa Belanda, tempat penampungan air pertama di Kota Banda Aceh tapi tujuanku kali ini adalah Makam Kandang XII.

Di dalam bahasa Aceh, kandang berarti makam atau kuburan. Jadi ini bukan kandang tempat hewan-hewan berteduh. Makam Kandang XII adalah sebuah komplek kecil tempat peristirahatan 12 orang sultan Aceh dan keluarga mereka. Tempat ini dikelilingi oleh kantor dan asrama tentara Zeni di daerah Keraton kota Banda Aceh.

Kalau kita masuk dari arah pendopo gubernur maka Makam Kandang ini terletak di sebelah kiri jalan, kira-kira 500 meter dari jalan masuk. Sebuah papan penunjuk arah ditancapkan dari depan gang kecil di depan mesjid Raya Baiturrahman, di sebelah tugu adipura. Papan penunjuk arah lainnya juga dapat dijumpai pada depan jalan di dekat pendopo gubernur Aceh.

Mungkin karena posisinya yang berada di dalam komplek tentara maka jarang ada yang berkunjung kemari. Kompleks pemakaman ini dinaungi oleh pohon-pohon besar dan sebuah bangunan tanpa dinding. Ini membuat suasana sejuk dan nyaman bahkan ketika siang hari dengan matahari terik membakar bumi.

Pada bagian depan terdapat papan pemberitahuan yang terbuat dari seng, berisikan nama-nama yang dikuburkan disini. Memang tidak semua penghuni dimasukkan ke dalam daftar nama pada papan ini, entah apa alasannya.

Satu hal yang menarik, salah satu nama yang tercantum pada papan tersebut bukanlah salah seorang sultan Aceh tapi seorang Kadhi Malikul Adil atau bisalah disamakan dengan seseorang yang menduduki posisi sebagai Jaksa Agung sekarang ini. Apakah sang Kadhi Malikul Adil adalah salah seorang kerabat kesultanan? Entahlah…

Masuk ke dalam komplek kita akan disambut dengan deretan nisan yang teratur rapi. Memang ada beberapa nisan yang kondisinya terlihat baru diperbaiki. Tapi sayangnya perbaikan itu terlihat sangat tidak rapi. Bekas semen untuk plasteran terlihat seperti dikerjakan asal-asalan.

Tetapi itu hanya menjadi sedikit nilai minus bagi komplek ini. Nilai minus lainnya adalah tidak adanya penjaga makam di sini. Hal ini mungkin karena pengunjungnya yang sepi sehingga fungsi penjaga yang bisa memberikan cerita menjadi tidak perlu. Untuk menyiasati hal ini seharusnya ada sebuah papan informasi yang memberikan cerita tentang para penghuni komplek makam ini secara ringkas. Tapi semua itu terbayar dengan keindahan ukiran yang menghias makam-makam tersebut.

Sekilas suasana Kandang XII bisa dilihat di sini. Posisi makam kandang pada peta berada pada titik N 05 32 56,2 dan E 095 19 09,4.

Kunjungan ke Makam Sultan Aceh Terakhir


Tuanku Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat adalah seorang sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau adalah seorang sultan yang tidak sempat mengenyam hidup enak seperti layaknya seorang raja dari sebuah kerajaan besar. Sejak dinobatkan pada tahun 1874 di Mesjid Indrapuri hingga menyerah pada 10 Januari 1903, sang Sultan praktis tidak pernah merasakan nikmatnya hidup di dalam istana. Istana beliau adalah medan perang tempat berkecamuknya Perang Aceh yang sangat fenomenal itu.

Menurut bacaan resmi yang beredar, beliau menyerah pada tentara Belanda karena keluarganya telah ditahan. Belanda menyebarkan isu bahwa keluarga yang ditahan itu telah disiksa dengan brutal sehingga Sultan menjadi sedih memikirkan keluarganya. Keputusan menyerah itu diambil dengan sangat berat hati karena dapat berpengaruh pada perjuangan rakyatnya.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal ketika membaca sejarah itu kembali beberapa tahun lalu. Seperti yang kita ketahui, beberapa raja yang menyerah kepada Belanda diberikan hak untuk kembali memerintah di negerinya. Bahkan para raja tersebut diberikan gaji dan bintang penghargaan oleh pemerintah Belanda. Pertanyaan yang ada di kepalaku saat itu adalah kenapa Raja Aceh justru dibuang setelah beliau menyerah? Bahkan beliau tidak hanya dibuang sekali tapi berpindah beberapa kali seperti layaknya seorang tahanan politik sekelas Bung Karno.

Pertanyaan itu terjawab setelah membaca beberapa artikel di internet. Rupanya sang Sultan hanya menyerahkan badannya saja ke tangan Belanda tetapi ia tidak menyerahkan negerinya. Terbukti dari beberapa catatan yang ada, Sultan masih mengorganisir perlawanan kepada Belanda ketika beliau berada di dalam tahanan kota. Beliau mengatur beberapa penyerbuan ke markas Belanda serta memberikan surat-surat yang berisikan kalimat-kalimat pembangun semangat kepada panglima perang dan rakyatnya. Bahkan ketika beliau berada di pembuangan beliau masih sempat mengirimkan surat kepada Kaisar Jepang untuk meminta bantuan. Beliau tidak pernah menyerah untuk berjuang demi negerinya hingga akhir hayatnya.

Minggu lalu, akhirnya aku berkesempatan berkunjung ke makam beliau di Pemakaman Umum Rawamangun Jakarta. Berbekal beberapa artikel yang kubaca di internet aku nekat mencari makam sang Sultan. Tak seperti layaknya kuburan seorang raja dari sebuah kerajaan besar, makam beliau hampir mirip dengan makam rakyat lainnya. Bahkan dibandingkan dengan makam rakyat biasa yang ada, makam Sultan cenderung kelihatan tak terurus. Rumput dan dedaunan kering terlihat menutupi makam tersebut.

Ketika aku datang, tiga orang pembersih makam buru-buru mencabuti rumput dengan asal-asalan. Selesai mencabuti rumput dan menyapu sekedarnya mereka kemudian pergi ke tempat yang teduh. Seluruh kegiatan itu menghabiskan waktu tak sampai sepuluh menit. Tak bisa disalahkan, mereka hanya mencari uang dari keluarga yang datang berkunjung ke makam sanak saudaranya. Selesai mengambil beberapa foto yang bisa dilihat di sini kemudian aku mengambil titik koordinat lokasi makam tersebut agar lebih gampang ditemui oleh orang lain yang ingin berkunjung.

Satu hal yang membuat miris adalah sangat terlihat tidak adanya perhatian yang cukup dari pemerintah daerah. Sudah dua gubernur yang berasal dari kelompok yang katanya berjuang demi marwah indatu, tapi sepertinya Sultan tidak termasuk ke dalam golongan indatu yang mereka maksudkan. Akibatnya makam salah satu pejuang  yang juga Sultan dari negeri yang mereka perjuangkan tentu saja dapat diabaikan keberadaannya.

Tautan lanjutan:

  1. Foto-foto makam Sultan Muhammad Daudsyah
  2. catatan berserakan : Jejak diplomasi Sulthan Muhammad Daud Syah
  3. Muhammad Daud Syah (wikipedia)
  4. Muhammad Daudsyah (opini di Serambi News)
  5. Kesultanan Aceh Darussalam
  6. Lokasi makam di Wikimapia

Tugu Kereta Api Aceh


Generasi baru Aceh (lahir tahun 1985 ke atas) mungkin tidak pernah merasakan era kereta api di Aceh. Bahkan aku yang lahir sebelum 1985 (ketauan umur dah :D) juga gak sempat merasakan era tersebut. Tapi biarpun begitu aku masih sempat merasakan suasana komplek PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang sekarang bernama PT. Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut. Waktu kecil aku masih sempat lari-larian di komplek tersebut dengan suasana rumah papan yang berdempetan diantara jalur rel kereta. Lokasi komplek tersebut berada di kompleks Pusat Perbelanjaan Barata dan Geunta Plaza (sudah tutup) sekarang ini. Klik di sini untuk melihat di Wikimapia.

ka

Tugu pada gambar di atas ini adalah sebuah lokomotif tua yang sempat lama terbengkalai sebelum dibuat panggung untuk dirinya 😀 Sebelum dibuatkan panggung, lokomotif ini menjadi tempat main kami anak-anak di sekitar komplek PJKA. Jika malam maka lokomotif ini berubah fungsi menjadi tempat tidur para gelandangan, PSK murahan pada saat itu serta menjadi tempat mabuk es menen (aceh: miras)

Konon ini adalah lokomotif terakhir dari sejarah kereta api di aceh yang tidak sempat dibawa ke Medan. Bagi para orang tua tentu mereka memiliki kenangan tersendiri ketika mereka menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju kota-kota di sepanjang pantai timur Aceh. Tetapi bagi para anak muda situs ini tidak memiliki makna khusus bahkan jarang diantara mereka yang mengetahui atau bahkan melirik ketika melewatinya.

Lokasi yang terletak di seberang Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tidak menjadikan situs ini menjadi tempat yang ramai dikunjungi warga. Malah situs yang terletak di pelataran parkir pusat perbelanjaan Barata ini cenderung tak terlirik dan tak terurus oleh Pemerintah Kota Banda Aceh yang kantornya hanya berjarak beberapa ratus meter dari situ.

Ketika aku mencoba naik, pintu untuk masuk terkunci tanpa tahu siapa yang memegang kuncinya. Dengan modal melongok dan memanjangkan leher dapat terlihat kondisi lokomotif yang sangat memprihatinkan. Beberapa bagian terutama lantai telah lama keropos terkena air hujan dan panas yang selalu mendera. Cat hitam yang membalur seluruh badan lokomotif juga telah terkelupas di beberapa bagian. Tak usahlah ditambah cerita tentang karat yang menggerogoti tubuh tua sang lokomotif.

Alangkah baiknya jika Pemko Banda Aceh membuat situs ini sedikit lebih terkenal dengan cara membuat taman untuk bermain dan bernostalgia 🙂 Sedikit papan informasi mengenai sejarah perkeretaapian di Aceh juga akan membuat tempat ini lebih menarik dikunjungi sehingga generasi muda Aceh juga ikut merasakan kejayaan masa itu.

OOT, ada warung bakso yang katanya enak diseputaran tugu ini, tapi aku belum pernah nyobain sih 😀

Lokasi: 5°33’6″N   95°19’9″E

Makam Teungku Chik di Tiro


Iseng gak tau kemana lagi di Banda Aceh? Ada satu tempat menarik yang pantas dikunjungi berkaitan dengan keindahan alam dan sejarahnya.

Terletak di tengah persawahan dan dikelilingi benteng alam dari jajaran bukit barisan, makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman merupakan tempat yang sangat pas untuk melepaskan penat. Mata dapat terhibur dengan bentangan hijau sawah dan dikejauhan terlihat jajaran bukit barisan yang seolah mengawal tempat tersebut. Di dalam areal makam sendiri terdapat banyak pohon besar yang berfungsi sebagai peneduh, selain itu juga terdapat beberapa tempat untuk duduk melepaskan lelah serta sebuah meunasah untuk menunaikan shalat. Sebuah warung kopi juga siap menyediakan minuman untuk melepaskan dahaga di sebuah tikungan sebelum makam.

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman adalah salah seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Aceh. Beliau adalah seorang ulama dan juga pejuang yang memimpin rakyatnya untuk melawan Belanda. Dibawah kepemimpinannya, Belanda memperoleh banyak kesulitan. Bahkan Kutaraja (sekarang Banda Aceh) sempat diserbu oleh para pejuang Aceh. Untuk menghentikan perjuangan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman maka Belanda mengirimkan seorang wanita dengan menghidangkan makanan yang telah diberikan racun. Beliau wafat di benteng Aneuk Galong dan dimakamkan disana. Tetapi perang tak lantas selesai, para keturunannya melanjutkan perjuangan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman hingga seluruh anak beliau wafat.

Areal makam ini sebenarnya bukan mutlak milik Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman tetapi telah menjelma menjadi kompleks kuburan keluarga Tiro. Selain Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang dimakamkan di kompleks ini ada beberapa keturunan beliau yang juga ikut dimakamkan disini. Tapi makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sendiri memiliki tempat terhormat di bawah sebuah cungkup bersama dengan seorang keturunannya serta seorang cucu jauh beliau yaitu Hasan Tiro.

Selain makam terdapat sebuah balee yang memajang foto dan penjelasan mengenai Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman dan beberapa keturunan beliau. Selain itu juga terdapat sebuah buku kecil yang berisikan perjuangan keluarga Tiro dalam Perang Aceh. Pengunjung dapat memperoleh satu buah buku dengan mengganti ongkos cetak sebesar sepuluh ribu rupiah. Sayangnya ketika itu tidak ada pengurus atau kuncen yang berjaga disitu sehingga buku tersebut tidak dapat kuperoleh.

Transportasi Menuju Ke Makam

Tidak ada transportasi umum seperti labi-labi (angkot alias angkutan kota) yang menuju ke makam. Sebagai alternatif, pengunjung dapat menggunakan becak atau menggunakan kendaraan pribadi. Dari simpang pasar Indrapuri, kita harus menempuh jarak sekitar enam kilometer dengan jalan sempit yang sudah beraspal. Di banyak tempat, para sapi seakan sedang melakukan razia dengan berdiri di tengah badan jalan sehingga kita harus berhati-hati. Pada umumnya disetiap persimpangan jalan telah diberikan petunjuk yang jelas ke arah mana kita harus menuju tetapi ada beberapa simpang yang tidak ada petunjuknya.

Lain-Lain

Ada dua hal yang sangat mengganggu bagiku.

Pertama: beton yang mengelilingi makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman telah dihancurkan pada salah satu sisi dan tidak direhab kembali. Penghancuran dinding ini dilakukan oleh pengikut Hasan Tiro ketika akan menguburkannya. Sangat aneh mengingat keturunan keluarga Tiro yang lain semuanya dimakamkan di luar cungkup tetapi masih di dalam kompleks pemakaman. Jika yang lain bisa tidak merusak makam moyang mereka kenapa Hasan Tiro harus diistimewakan?

Kedua: kuburan Hasan Tiro letaknya lebih tinggi daripada makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Secara adab, sangat aneh seorang cucu bisa memiliki kuburan lebih tinggi daripada kakeknya. Berdalih dengan alasan Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe juga tidak tepat. Makam Wali Nanggroe kedelapan lebih tinggi dari Wali Nanggroe Pertama? Tak masuk akal…

Semoga Pemerintah Aceh sekarang ini yang nota bene adalah pengikut Hasan Tiro dapat memperbaiki dinding makam tersebut sehingga tidak mengganggu mata ketika berziarah.

Lokasi:

N 05 24 52.5

E 95 28 29.45

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman di beberapa sumber:

  1. Wikipedia
  2. AcehPedia – Teungku Chik Di Tiro
  3. AcehPedia – Chik Di Tiro

Foto-Foto