Kontroversi Tes Masuk SD


Buat para orang tua yang anaknya akan masuk ke sekolah dasar pada tahun ajaran ini, bulan Mei adalah bulan yang sangat mendebarkan. Betapa tidak, untuk orang tua yang bercita-cita menyekolahkan anaknya maka pada bulan ini akan sangat padat menemani anaknya untuk ikut ujian masuk sekolah dasar. Yup…masuk SD bagus sekarang ini susah. Dengan embel-embel Sekolah Standar Nasional (SSN) atau Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) akan membuat si sekolah panen siswa baru. Jika sudah begini maka sistem tes tentu akan diberlakukan. Tak usahlah bercerita tentang koneksi yang ada di dalam, karena dengan kenalan dan segepok uang maka tes itu hanya menjadi formalitas belaka. Yang membuat cemas para orang tua tentu saja jika mereka gak punya koneksi dan segepok uang. Ikut tes menjadi satu-satunya jalan untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah yang (katanya) bagus.

Maka terlihatlah anak-anak yang sedang waktunya bermain terpotong waktu mainnya. Mereka dicekoki dengan pelajaran membaca dan menghafal beberapa ayat pendek (untuk yang beragama islam) serta pelajaran berhitung. Pagi bersekolah TK kemudian dilanjutkan dengan les tambahan sampai jam 12 siang. Pulang ke rumah makan kemudian bersiap lagi untuk les. Ketika malam tiba mulailah si anak mengulang hafalan yang tak seberapa itu. Jika lulus ujian masuk maka si anak akan bergabung dengan puluhan anak terpilih lainnya di SD unggulan.

Trus masalahnya dimana?

Masalahnya adalah kebanggaan semu para orang tua yang bangga anaknya bersekolah di sekolah unggulan. Sekolah yang berisikan anak-anak pintar sarat prestasi. Kemudian ada juga permasalahan si anak yang terenggut kebahagiaannya karena harus belajar mati-matian demi dibilang pintar dan menuruti obsesi orang tua.

Kalau dilihat lebih lanjut maka wajar saja sekolah yang menaruh label SSN atau RSBI menjadi sekolah unggulan. Untuk masuknya saja sudah melalui berbagai tes, jadi yang bersekolah disitu adalah anak-anak pintar. Nah, sekolah yang berisikan anak-anak pintar wajar saja kalau mereka berprestasi dibanding sekolah yang membebaskan (calon) siswanya dari ujian masuk. Wajar anak-anak dari sekolah unggulan kemudian menjadi juara dibandingkan sekolah biasa. Mereka sudah bisa membaca ketika teman mereka masih mengeja huruf. Mereka sudah mengerjakan perkalian ketika teman-temannya masih berkutat dengan perhitungan sangat sederhana. Gak ada yang spesial dengan hal itu. Justru jika mereka tidak menjadi sekolah unggulan karena kurang prestasi maka dipertanyakan. Cuma menerima anak pintar aja tapi gak bisa mengembangkan kepintaran si anak? Gak wajar…

Dari sisi si anak yang dipaksa untuk mengikuti segala macam les dan kemudian ujian juga harus dilihat lebih lanjut. Ada anak yang menikmati kegiatan belajar ini, tentunya jika didukung oleh guru yang pintar mengambil hati dan metode belajar yang bagus. Untuk anak yang seperti ini hanya perlu diperhatikan mengenai tumbuh kembang dan daya sosialisasinya dengan teman sebaya serta jangan sampai mengganggu istirahat mereka. Jangan sampai karena kesibukannya ikut les ini dan itu maka dia menjadi anak yang anti sosial dan gak bisa bergaul dengan teman sebayanya. Sedangkan untuk anak yang kelihatannya tidak menyenangi kegiatan ini bahkan setelah dimarahi (:D) maka ada baiknya para orang tua memikirkan kembali obsesi mereka untuk memasukkan anak mereka ke sekolah yang katanya unggulan.

Kayaknya lebih membanggakan melihat sang anak berkembang wajar dan memahami pelajarannya daripada cuma menjadi alat perekam dari para pengajar. Anak yang paham dengan pelajarannya akan mengeluarkan banyak pertanyaan kritis yang menuntut para orang tua untuk jungkir balik menjawab pertanyaan mereka. Tak ada batasan mengenai pertanyaan tersebut, mulai dari kejadian di lingkungan sekitar hingga sesuatu yang bagi orang dewasa tabu untuk ditanyakan. Misal: kalo di Indonesia ada enam agama jadi tuhan itu sebenarnya agamanya apa?

Tantangan besar untuk menjawab pertanyaan tabu itu dan tantangan yang lebih besar lagi untuk mempersiapkan anak yang cerdas, memahami apa yang dia kerjakan dan berani untuk bertanya dan mencari jawabannya.

Bacaan lanjutan:

  1. Masuk SD Harus Bisa Baca, Tulis & Hitung, Patut Was-was!
  2. ‘Harus Punya Ijazah TK untuk Masuk SD? Itu Salah’
  3. Mencari Paradigma Pengajaran Baru
  4. Surat Edaran Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas
  5. Apa Sebenarnya yang Mau Dituju oleh Kurikulum Indonesia?

Bahasa Indonesia Kita


Hari ini baca berita di Detik yang judulnya Bahasa Indonesia Vs Bahasa Inggris di Persimpangan Jalan yang sebenarnya kelanjutan dari berita sebelumnyamengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal ini mengingatkan aku sama rancangan tulisan ini yang terbengkalai lebih dari tiga bulan lamanya 😀 Disadari atau tidak, kecenderungan kita untuk menggunakan bahasa asing lebih banyak daripada menggunakan istilah – istilah Bahasa Indonesia. Jangankan berbahasa indonesia yang baku, bahkan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baku juga malas kita gunakan. Gak usah menyalahkan orang lain, aku juga lebih suka nulis beberapa istilah komputer dalam Bahasa Inggris daripada menggunakan istilah baku Bahasa Indonesia. Sebagai pembenaran aku selalu memakai alasan bahwa untuk bahasa teknis itu gak masalah 😀 Kalau mau liat lebih jauh lagi, banyak program dan acara pemerintah yang menggunakan Bahasa Inggris daripada menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak hanya pemerintah daerah tapi juga pemerintah pusat ikut terkena tren ini. Lihat saja beberapa program pemerintah berikut ini:

  1. INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprints Identification System)
  2. NTMC (National Traffic Management Center)
  3. e-KTP (electronic KTP)

Selain itu juga dapat dilihat pada berita-berita yang ditayangkan oleh televisi dan radio serta beberapa situs di internet. Parahnya lagi situs tersebut adalah situs resmi dari sebuah kegiatan pemerintah. Coba lihat gambar berikut:

Gambar tersebut diambil dari sebuah halaman di situs resmi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. Ada dua kata yang mencolok mata yaitu venue dan countdown. Ketika mengecek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Pusat Bahasa Kemendiknas, kedua kata tersebut tidak ditemukan. Hal ini mengandung arti bahwa kata-kata tersebut belum diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Kata venue terutama dipopulerkan oleh televisi ketika ada acara olahraga sebagai pengganti kata tempat pertandingan atau stadion. Kata ini kemudian populer hingga menjadi serapan tak resmi dalam media berita kita. Selain dari media pemberitaan, hal lainnya yang membuat rusak gaya berbahasa kita adalah keinginan para pejabat untuk terlihat pintar di mata rakyatnya. Mereka menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing untuk menjelaskan suatu kebijakan pemerintah. Simak saja berita di Tempo ini.

Pada berita itu disebutkan bahwa Presiden SBY menggunakan istilah Bahasa Inggris sebanyak 24 kali dalam 30 menit atau hampir satu istilah permenit. Sekali lagi, memang ada beberapa istilah yang kalau diterjemahkan jadi jaka sembung naik perahu, tapi gak sampe segitunya… Apalagi ini adalah pidato presiden yang pasti disusun dan diperiksa oleh beberapa orang sebelum diserahkan ke Presiden untuk dibaca.

Dilingkungan sekitarku juga ada beberapa orang yang terlalu memaksakan diri untuk menggunakan istilah asing. Beberapa kali hal ini terasa lucu namun setelah berulangkali jadinya eneg. Untuk istilah-istilah yang telah memiliki padanan yang familiar di telinga aku cenderung untuk memakai padanan di dalam Bahasa Indonesia walaupun itu lebih panjang. Tapi untuk beberapa istilah yang masih terasa sukar dicari padanannya atau padanannya masih terasa asing maka aku menggunakan istilah aslinya. Gak konsisten juga 😀

Selain padanan bahasa, sering juga kita jumpai singkatan yang terkesan dipaksakan hanya untuk menghemat tempat. Ambil contoh singkatan cabor yang merupakan kependekan dari cabang olah raga. Singkatan ini awalnya kubaca di koran lokal ketika sedang berlangsung Piala AFF tahun lalu. Setelah membaca berita tersebut secara utuh barulah sadar bahwa cabor adalah cabang olah raga.

Dua masalah diatas kayaknya adalah masalah terbesar dalam penggunaan bahasa kita. Tapi rugi juga kalau harus meninggalkan bahasa ini hanya demi mengejar gengsi gak jelas agar kelihatan intelek 😀

Horeeee Gaji PNS Naik…


Sekali ini judul postingan ngikutin pakemnya Detik.com 😀 Berkaitan dengan postingan yang lalu mengenai kenaikan BBM yang akan diwujudkan pada awal April nanti, seorang kawan menaikkan status cicak-cicak di dinding buku muka miliknya.

Walopun banyak kesalahan ketik, tapi bisa ditangkap kalo si kawan ini merasa kesal (?) karena gajinya cuma naik sedikit 😀

Syukurlah berita mengenai naiknya gaji PNS ini gak begitu gila-gilaan karena tertutupi oleh berita kenaikan harga BBM. Dengan begitu dampak kenaikan harga agak bisa dikurangi. Cuma yang tau aja yang naikin harga dua kali dengan alasan naik gaji PNS dan naik harga BBM 😀

Kenaikan BBM dan Provokasi Televisi Itu


Udah seminggu lebih pemberitaan di Indonesia tertuju pada satu berita pokok: kenaikan harga BBM sebesar 1.500 rupiah. Semua orang yang dianggap atau mengaku sebagai pakar diwawancanda diwawancara sama berbagai stasiun tivi. Menurut pengamatanku yang udah mulai berpantang nonton tipi ini, kebanyakan mereka yang dipanggil sok ahli itu dan pembawa acaranya lebih banyak mengompori masyarakat melalui acara mereka.

Pernah nonton waktu sedang wawancara Kwik Kian Gie dan Anggito Abimanyu disalah satu tv swasta. Waktu itu mereka berdua mengeluarkan pernyatan mendukung kenaikan BBM dengan segala kalkulasi rasionalnya. Ketika itu si pewawancara selalu mengarahkan kedua nara sumber untuk mengeluarkan pernyataan untuk menjelekkan pemerintah.

Aku memang bukan pendukung setia pemerintah, pun bukan juga orang yang oposisi. Tapi kayaknya keterlaluan kalau tiap hari berita yang ada itu hanya soal gosok menggosok berita BBM ini. Apa sih susahnya bahas kenaikan itu secara rasional anggaran? Hadirkan mereka-mereka yang terlibat dalam penyusunan kebijakan tentang naiknya harga BBM ini. Minta mereka paparkan rumus – rumus njelimet mereka. Hadirkan juga mereka yang kontra dengan kenaikan BBM tapi memiliki kapasitas untuk membahas rumus-rumus njelimet tadi.

Undang juga pihak-pihak yang terkena dampak kenaikan BBM ini, Organda dan pengusaha angkutan lainnya. Bicarakan mengenai solusi kenaikan harga barang yang diakibatkan oleh naiknya ongkos angkut. Dengan begitu situasi masyarakat sedikit banyak bakalan mendingin kan?

Memang itu bukan solusi untuk masalah kenaikan biaya hidup sih, tapi daripada terjadi rusuh dan antrian gak jelas di SPBU dan tempat lainnya yang bisa mengakibatkan situasi jadi gak keruan. Harusnya televisi sebagai kotak yang paling banyak diliat sama manusia di Indonesia ini bisa lebih menggunakan otak mereka untuk menciptakan suasana damai.

Tentang Maaf


Sudah mulai penuh inbox kalian dengan basa-basi-busuk pra-Ramadhan berupa permintaan maaf?

Untuk yang belum menyampahi kerabat dan kolega dengan broadcasted messages penuh kepalsuan, here’s the thought:

Mengapa tak minta maaf pada orang-orang berbeda agama yang nantinya akan membuat tidur mereka terganggu akibat kesupersibukan masjid dan mushola dinihari?

Mengapa tak minta maaf pada para PSK yang harus menganggur di “bulan suci”?

Mengapa tak minta maaf pada para pemilik warung makan yang dilarang jualan siang-siang?

Mengapa tak minta maaf pada para keluarga miskin yang akan kesulitan makan karena harga-harga melambung tinggi?

Mengapa tak minta maaf pada semua pekerja hiburan malam yang juga menganggur padahal sebagian besar juga ikut Lebaran?

Mengapa tak minta maaf pada orang-orang sakit yang ingin ikut puasa tapi dilarang dokter?

Mengapa tak minta maaf pada anak-anak kecil yang (dipaksa) belajar lapar?

Mengapa tak minta maaf pada para gembel musiman yang berharap rejeki dari orang-orang saleh?

Tapi satu hal yang menghantui saya tiap Ramadhan hanya tinggal di ujung jalan:

Mengapa tak minta maaf pada dirimu sendiri yang menahan napsu seharian hanya untuk melepasliarkannya kembali saat adzan maghrib berkumandang? Dan mengapa harus meminta maaf jika kita sama-sama tau kita akan kembali mengulang kesalahan yang sama?

Marhaban ya Ramadhan, satu bulan paling bermasalah diantara sebelas bulan yang lain.

copas dari status Pito di G+

tambahan:

Mengapa tidak minta maaf kepada para siswa sekolah yang dipaksa libur padahal belajar di bulan puasa adalah rahmat?

Berjuang Sampai Akhir – Potret Kehidupan Veteran RI


Semalam iseng ganti-ganti channel tivi di rumah sampe tiba-tiba liat ada nenek-nenek pake baju veteran sedang diwawancara di TVRI. Wah acara menarik nih untuk memuaskan nafsu mengenai sejarah bangsa ini. Lupa dah sama film “Cat Woman” yang sedang tayang di salah satu tivi swasta.

Jadi singkatnya acara ini (dinamai dengan “Suara Liyan“) mengangkat kehidupan rakyat yang terpinggirkan dan cenderung tidak dianggap selama ini oleh kita semua. Episode semalam mengangkat tema “Berjuang Sampai Akhir” yang selama ini cenderung tidak dianggap ada oleh para pejabat. Mereka hanya menjadi wujud nyata ketika tanggal 17 Agustus untuk meramaikan upacara di Istana Merdeka atau di tempat-tempat lain yang mengingat mereka, selain itu mungkin tanggal 10 November adalah tanggal yang juga akan menampilkan mereka kembali ke hadapan kita.

Walaupun sudah pernah membaca beberapa kali seperti di sini dan di sini serta yang terbaru di sini mengenai nasib para veteran, tapi hal itu berbeda ketika melihat secara langsung gambar bergerak yang bercerita mengenai nasib mereka. Pada acara semalam diceritakan mengenai seorang nenek yang dulunya pernah ikut berjuang tapi sekarang malah harus hidup menumpang di mushala di daerah Cikini bersama dengan anak cucunya. Selain itu juga ada seorang kakek yang bercerita mengenai temannya yang juga pejuang 45, beliau hidup dari memulung sampah! Ada juga cerita para veteran yang gak boleh ziarah ke Taman Makam Pahlawan dan harus melalui perizinan yang sulit hanya untuk ziarah ke makam teman mereka.

Jadi bertanya, apakah begitu susahnya menghapus satu mata anggaran jalan-jalan bagi para pejabat atau anggota DPR/MPR/DPD dan memberikan anggarannya sebagai tunjangan veteran? Juga apakah susah untuk menunda pembangunan gedung baru DPR untuk membangun perumahan veteran? Aku yakin mereka gak minta rumah yang berada di tengah kota, cukup sebuah rumah dan sepetak tanah untuk bercocok tanam atau moda usaha bagi mereka dan anak cucunya.

Mengenai tunjangan atau pensiun juga kayaknya gak begitu aneh untuk memberikan pensiun setara seorang pejabat lokal untuk mereka. Berapa lama lagi sih sebenarnya mereka dan pasangan hidupnya (suami/istri) hidup di dunia? Maaf, bukannya nyumpahin mereka tapi itu kenyataannya. Mereka gak bakalan lama lagi umurnya di dunia ini sementara masa muda mereka telah “terbuang” untuk menjaga merah putih tetap berkibar di bumi pertiwi ini.

Aku yakin mereka juga gak minta banyak dari penyelenggara negara ini. Cuma rumah, sepetak tanah atau sedikit modal usaha untuk meyakinkan anak cucu mereka gak kelaparan ketika mereka tinggalkan. Kalau dulu mereka mau hidup susah demi negara ini mengapa sekarang negara ini tidak mau susah demi mereka?

Kalimat terakhir dari si nenek ketika tayangan berakhir sangat menohok, “dulu kami sudah berjuang masakan untuk rumah saja kami gak bisa dapat? Apalagi sekarang hidup pejabat kan sudah enak ya… naik turun mobil, rumah gedongan. Mbok ya dibantu para veteran untuk mendapatkan rumah” begitulah kira-kira kalimat si nenek yang veteran. Terenyuh…

Bung Karno pernah mengingatkan kita untuk Jas Merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah agar kita ingat kenapa kita mendirikan negara ini. Selain itu Bung Karno juga mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Masihkah kita merasa diri sebagai bangsa yang besar dengan kondisi para pahlawan yang terlantar?

RI-002 Seulawah Inong Dari Siapa?


Barusan baca di KoKi Detik mengenai kepahlawanan Robert (Bobby) Earl Freeberg, seorang Amerika yang menjadi pilot pesawat RI-002. Gak ada keberatan sih dengan artikel mengenai keberanian dia yang mau berdiri di pihak Indonesia pada masa perjuangan dulu.

Cuma satu ganjalan dari tulisan tersebut yaitu mengenai asal-usul pesawat Dakota RI-002 seperti yang dicopas dari tulisan tersebut:

Ada kesimpangsiuran informasi yang hingga kini belum terungkap. Menurut berita, pembelian pesawat RI-002 dibeli dengan mengunakan uang tabungan pribadi Bobby Freeberg. Sebagai catatan, pada masa setelah Perang Pasifik, banyak pesawat bekas pakai (war surplus) yan dijual bebas kepada umum. Pesawat-pesawat war surplus ini bisa dibeli dengan pilot atau tanpa pilotnya. Pihak AURI dikabarkan men-charter pesawat yang dipiloti oleh Bobby untuk menembus blokade udara yang dilakukan oleh militer Belanda.

Walaupun disebutkan adanya kesimpangsiuran informasi yang masih belum terungkap, bagian yang ditebalkan di atas adalah hal yang paling mengganggu bagiku. Banyak catatan sejarah masa lalu yang telah dicetak dalam bentuk buku-buku yang menjelaskan dengan jelas bahwa RI-001 dan RI-002 disumbangkan oleh rakyat Aceh sebagai salah satu hasil kunjungan kerja dari Presiden Soekarno.

Dikisahkan dalam banyak catatan ketika itu Presiden Soekarno “merajuk” meminta dukungan dari rakyat Aceh untuk perjuangan Republik, spontan ketika itu terkumpul sejumlah uang yang cukup untuk membeli sebuah pesawat yang kemudian diberi nama RI-001 Seulawah. Pada saat itu juga Gasida (Gabungan Saudagar Aceh) juga menjanjikan sebuah pesawat lagi yang akan diberikan kemudian kepada pemerintah pusat di Jakarta. Soekarno tentu saja menyambut hal itu dengan sangat gembira.

Salah satu sumber online mengenai hal ini dapat dibaca di sini.