Kelenteng Agung Sam Poo Kong


Hari sudah menjelang sore ketika kaki dengan gatalnya ingin diajak jalan. Hasil dari pencarian di Internet, ada beberapa tautan yang menyarankan untuk berjalan ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Hasil pencarian di peta milik Google menunjukkan kalau lokasinya ternyata lumayan jauh untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah malas karena langit sudah gelap dan takutnya kelenteng itu sudah tutup.

Tanya sana-sini dengan petugas hotel dan supir taksi, akhirnya rasa malas itu hilang sendiri ­čśÇ

Kelenteng ini buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul sepuluh malam. Pengunjung yang datang menggunakan kendaraan dapat memarkir kendaraannya di halaman parkir yang luas. Ongkos parkir sebesar Rp. 3000 untuk mobil dan Rp. 1000 untuk sepeda motor dibayarkan ketika membeli tiket masuk sebesar Rp. 3000 perorang.

Kompleks ini sendiri terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian yang bisa diakses oleh umum dengan menggunakan tiket masuk di depan serta bagian altar sembahyang yang dikhususkan bagi para pengunjung yang ingin sembahyang. Pengunjung yang tidak ingin bersembahyang tapi ingin masuk ke bagian altar sembahyang harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp. 20.000.

Masuk ke dalam kita langsung disambut sebatang pohon besar yang menaungi sebuah kios. Di kios tersebut pengunjung dapat menyewa pakaian adat Tiongkok untuk berfoto di seputaran kelenteng. Sebuah lapangan terlihat dengan panggung utama yang sangat besar. Berdiri di tengah lapangan sendirian jadi serasa aneh ­čśÇ

Beberapa objek menarik dan tak boleh terlewatkan di kelenteng ini adalah:

Lapangan Utama

Dari lapangan ini terlihat sebagian besar isi kompleks kelenteng ini. Ada sebuah tribun yang tiangnya dihiasi dengan ukiran-ukiran indah. Selain itu ada enam buah patung yang seolah menjaga tribun di sisi kanan dan kiri.

Patung Laksamana Zheng He

Terletak di dekat pintu keluar di sisi kiri tribun utama, patung ini berdiri tegak menghadap matahari terbit. Patung raksasa ini merepresentasikan sang Laksamana dan di bagian bawah patung terdapat cerita singkat mengenai sang Laksamana.

Dari cerita penjaga aku baru sadar kalau Laksamana Zheng He adalah yang biasa ku kenal dengan nama Laksamana Cheng Ho.

Altar Sembahyang

Ada beberapa altar sembahyang untuk dewa-dewi yang berbeda di kompleks ini. Beberapa yang kuingat adalah Dewa Bumi dan Dewi Laut tapi altar paling besar adalah altar untuk Sam Poo Kong sendiri. Semua altar tersebut berdiri menghadap ke arah timur tempat terbitnya matahari dan secara kebetulan juga menghadap ke arah tribun utama. Untuk masuk ke altar sembahyang ini, pengunjung harus membayar tiket lagi sebesar Rp. 20.000. Jumlah ini sebanding dengan beberapa hal yang bisa dilihat di dalam kompleks altar sembahyang.

Relief Cerita Sam Poo Kong

Pada bagian ini diceritakan mengenai perjalanan Sam Poo Kong. Ada cerita ketika dia mendarat di Malaya, Jawa, Samudera Pasai, dan lainnya. Satu hal yang unik, ada satu bagian relief yang bercerita mengenai ekspedisi tersebut mampir ke Mekah untuk menunaikan haji. Bagian ini hanya tergambar saja tidak tertulis seperti cerita yang lainnya.

Gua Batu

Ada dua gua batu yang baru dan lama. Gua batu baru terletak di bagian atas altar sembahyang diantara relief cerita berisikan sebuah altar dengan beberapa patung se. Menurut cerita dari penjaganya, patung-patung tersebut salah satunya adalah patung Sam Poo Kong alias Laksamana Cheng Ho.

Gua batu lama terletak di bagian bawah. Gua batu lama ini adalah bangunan asli di kompleks ini. Menurut cerita ini adalah tempat pasukan Sam Poo Kong meletakkan altar sembahyang ketika mereka mendarat di daerah Semarang. Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam gua, tetapi bisa mengintip saja melalui jeruji yang ada di pintu masuk.

Replika Perahu dan Pohon Rantai

Replika perahu terletak di bagian bawah di sebelah altar sembahyang utama. Pada bagian ini kita dapat melihat sebuah replika perahu dari beton dengan sebatang pohon di tengahnya. Masih menurut cerita dari penjaga, konon pohon itu adalah pohon paling tua di dalam kompleks kelenteng ini.

Selain pohon tersebut, ada satu lagi pohon unik yang sulurnya menyerupai rantai. Konon sulur itu yang dipakai untuk mengikat tiang di kapal. Daun pohon yang lebat tersebut menaungi sebuah gundukan yang dulunya merupakan tempat untuk membersihkan pusaka kelenteng. Pusaka-pusaka tersebut adalah peninggalan dari ekspedisi Sam Poo Kong di Semarang.

Makam Kiai Jangkar

Terletak pada sebuah cungkup di dekat replika perahu, bagian ini menampilkan sebuah jangkar kapal yang konon adalah jangkar dari salah satu kapal ekspedisi Sam Poo Kong. Jangkar ini dibalut dengan kain berwarna merah serta diberikan kalungan bunga melati untuk memuliakannya.

Di sebelahnya ada satu cungkup lagi yang konon berisikan beberapa benda pusaka peninggalan ekspedisi Sam Poo Kong.

Satu hal yang jelas, untuk mengunjungi kelenteng ini sangat tidak disarankan untuk datang pada malam hari. Anda tidak akan dapat menikmati keindahannya secara tuntas pada malam hari.

Kebanyakan foto-foto di kamera hilang karena memori kamera kebetulan error. Hiks… Tapi beberapa yang berhasil diselamatkan bisa dilihat di bawah ini.

Papan nama kompleks Kelenteng Agung Sam Poo Kong.

Beranda di salah satu pintu masuk, ini adalah satu-satunya bangunan bergaya Jawa di kompleks ini.

Salah satu bangunan kecil yang ada di sisi lapangan utama.
Denah Kompleks kelenteng.
Tribun utama pada malam hari.

Raon ke Pekan Raya Jakarta


Pekan Raya Jakarta atau PRJ adalah ajang tahunan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Jakarta. Ajang ini termasuk ke dalam acara pameran terbesar dan terlama di Indonesia.

Sebagai anak daerah, selama ini aku cuma bisa liat di tivi, baca di koran atau melihat dari internet. Ada rasa ingin tahu dan ingin lihat bagaimana sih sebenarnya keadaan PRJ ini. Tahun lalu karena kesibukan kerja akhirnya gak sempat ikut meramaikan┬ásedangkan┬átahun ini sebenarnya agak malas, tapi karena ajakan beberapa teman kantor maka akhirnya jadi juga ke PRJ…. yiiiihaaaaa

Sejarah PRJ sendiri bisa dibaca di sini.

Hal pertama yang ku perhatikan adalah harga tiket. Harga tiketnya lumayan mahal untuk ukuran orang daerah yaitu antara 20.000 – 30.000 tergantung pada hari kunjungan. Bayangkan aja kalau yang datang serombongan bisa berapa penghasilan panitia… Kemudian yang terbersit dipikiran adalah dengan harga segitu pengunjung bakal mendapatkan apa? Rupanya harga tiket segitu sebanding dengan apa yang didapatkan oleh pengunjung.

Tempat sampah dan petugas kebersihan selalu menjaga di setiap sudut. Dengan demikian, bisa dipastikan kondisi arena pameran relatif bersih dari sampah yang berserakan. Rata-rata pengunjung dengan kesadaran sendiri membuang sampah mereka ke dalam tong sampah yang disediakan.

Tong sampah itu sendiri bukan sebuah benda mahal berbentuk bagus, tetapi tong sampah di arena ini hanya sebuah drum yang di dalamnya dilapisi plastik hitam. Karena tersebar dimana-mana akhirnya pengunjung juga dengan gampangnya membuang sampah pada tempatnya. Salut…

Tapi walaupun begitu, tetap saja ada pengunjung yang bebal dan membuang sampahnya secara sembarangan. Nah untuk mengantisipasi hal inilah para petugas kebersihan selalu siap sedia. Dengan bersenjatakan sebuah sapu lidi mereka dengan sigap akan menyapu sampah yang terlihat di sekitar area kerja mereka.

Jika tong sampah tersebut penuh, maka ada petugas lain lagi yang akan menggantikan plastik di dalam drum untuk selanjutnya mengumpulkan plastik yang sudah penuh dengan sampah itu ke tempat penampungan sementara. Selanjutnya sebuah mobil pick up akan mengangkut kantong-kantong tersebut ke tempat pembuangan yang lebih besar.

Hal selanjutnya yang paling penting dari penyelenggaraan sebuah acara besar adalah toilet. Toilet ini sangat penting karena acara ini sendiri akan dihadiri oleh ribuan orang setiap harinya selama 31 hari. Gak kebayang kalau lagi di arena pameran trus kebelet dan harus keliling jauh untuk cari toilet. Untuk urusan yang satu ini, panitia juga perlu diacungkan jempol. Toilet bertebaran di dalam arena. Walaupun tingkat penggunaan yang cukup tinggi tapi tidak ada satupun toilet yang aku datangi dalam kondisi berantakan. Semuanya dalam kondisi siap pakai.

Selanjutnya adalah mushala, sebuah lokasi untuk menunaikan salat bagi kaum muslim. Fasilitas ini juga tersebar di beberapa tempat. Walaupun berkondisi seadanya tapi mushala ini cukuplah untuk sekedar menunaikan ibadah lima waktu.

Pengunjung yang sangat banyak ini hebatnya tidak membuat masalah keamanan yang berarti. Para pengunjung dapat melakukan transaksi (mengeluarkan dompet) dimana saja di dalam arena pameran. Selain itu mereka juga bisa dengan mudahnya mengeluarkan ponsel untuk berkirim pesan kepada temannya. Tak terlihat rasa takut dicopet atau dirampok karena para petugas keamanan terlihat di setiap pojok arena pameran. Bahkan ketika hujan turun dan pengunjung berdesakan di dalam gedung pameran tetap saja tak ada keributan yang berarti.

Untuk seseorang yang berasal dari daerah, ini adalah pameran terbesar dan terlama yang pernah kudatangi. Tak terbayangkan berapa uang yang berputar serta berapa banyaknya transaksi yang terjadi selama pameran. Dan rekor pribadi untuk kelayapan selama ini terpecahkan, dan sepertinya sulit untuk dilampaui lagi secara pribadi. Bayangkan saja, 12 jam berkeliling dengan jeda buka puasa dan istirahat sejenak. Mungkin secara total ada 10 jam berjalan kaki keliling arena pameran ­čśÇ

Mesjid Di Lombok


Harus diakui, beberapa desain mesjid di daerah┬áLombok – Nusa Tenggara Barat itu memang beda dan sangat berani bermain dengan warna. Beberapa orang yang aku tanyai sambil lalu malah bercerita begini:

Aceh itu terkenal sebagai daerah Serambi Mekah tapi Lombok itu dijuluki sebagai daerah Seribu Mesjid. Ini karena setiap beberapa meter pasti ada mesjid. Orang Lombok malu kalau bangun mesjid itu tidak indah, malu kalau mesjidnya biasa saja. Kalau memang tidak mampu paling hanya membangun semacam surau kecil di lingkungan rumah, itupun hanya untuk keluarga saja bukan untuk umum.

Cerita itu terbukti ketika aku berkeliling pulau Lombok sekedar untuk berjalan-jalan. Berikut beberapa foto mesjid yang sempat diabadikan lewat kamera saku yang tak seberapa. Beberapa foto merupakan pengulangan dari satu mesjid yang sama hanya ingin melihat jika diperbesar akan seperti apa. Karena ini hasil keliling iseng maka nama – nama mesjid tersebut tidak diketahui,

Mesjid di Dekat Hotel Bumi Aditya

Di suatu tempat antara Kota Mataram dan Lembar


Telepon Umum Koin


Salah satu alat komunikasi paling berjasa pada zaman dahulu kala selain surat, telegram dan pager (kalo yang satu ini cuma sempat liat kawan yang pakai). Trus kenapa disebut paling berjasa? Karena hanya dengan modal koin seratus yang putih besar tapi gak tebal (kalo gak salah keluaran 1973) itu kita bisa nelpon selama lima menit. Kalau masih kurang ada cara untuk mencurangi yaitu dengan melubangi koin seratusan itu di bagian atasnya kemudian diikat dengan seutas benang. Perlu sedikit seni untuk mancing dengan menggunakan koin ini, karena salah mengatur timing maka koin tersebut akan lenyap ditelan kotak telepon.

 

Selain sebagai salah satu alat komunikasi, telepon umum koin ini juga merupakan salah satu sumber uang jajan pada masa itu. Salah satu caranya dengan menendang bagian bawah kotak telepon itu sehingga uang yang ada di kotak penyimpanan akan keluar. Untuk mereka yang sudah ahli, bisa mendapatkan sampai seribu rupiah sekali nendang. Jumlah yang lumayan ketika labi-labi alias angkot di Banda Aceh masih bertarif antara dua ratus sampai tiga ratus.

Sayangnya telepon umum model gini sekarang gak terlihat lagi yang masih berfungsi, paling cuma liat di film – film hollywood aja ketika salah satu pemerannya ingin menelpon di pinggir jalan.

Foto ini sendiri diambil di Surabaya pada bulan Mei 2013 ketika sedang berjalan-jalan tugas di sana.

Mengunjungi Makam Tan Malaka


Beberapa waktu belakangan ini heboh soal penemuan makam Tan Malaka di daerah Kediri, Jawa Timur yang merupakan hasil penyelidikan Harry A. Poeze, seorang ahli sejarah Indonesia asal Belanda. Nah menurut beliau, makam ini 90% positif milik Tan Malaka, hanya tinggal menunggu hasil tes DNA dari sebuah rumah sakit.

Berhubung sedang ada tugas dari kantor ke Kota Kediri, maka ada rasa penasaran ingin melihat langsung makam sang Bapak Republik yang terlupakan ini. Beberapa orang yang ditanyai di seputaran Kota Kediri mengaku tidak tahu mengenai lokasi makam tersebut. Berbekal pengetahuan yang minim mengenai lokasi makam tersebut, aku mengambil langkah nekat untuk menyewa sebuah mobil dan mulai berkelana mencarinya. Patokan arah yang kudapatkan dari hasil berkunjung ke beberapa blog adalah mencari desa Selopanggung kemudian mencari makam Mbah Selopanggung. Makam Tan Malaka terletak di sebelah makamnya Mbah Selopanggung.

Bermodalkan patokan arah tersebut akhirnya aku dan sang supir berangkat. Untungnya si om supir yang sedang giat bekerja itu adalah orang yang lahir dan besar di seputaran desa Selopanggung jadi sedikit banyak dia mengerti arah mana yang harus dituju. Tapi dia gak tau mengenai makam Tan Malaka atau makam Mbah Selopanggung. Dengan bermodalkan GPS (Gangguin Penduduk Sekitar) akhirnya kami mendapatkan titik terang mengenai lokasi makam dimaksud.

Untung saja pemandangan sekitar sangat enak dipandang sehingga perasaan bisa sedikit terhibur. Sawah dengan sistem terasering dan beberapa padang rumput juga menemani perjalanan.

Dari jalan utama desa di sebuah simpang tiga, kami berbelok masuk ke sebuah jalan dengan kondisi aspal rusak. Jalanan kecil menurun dengan sebelah kiri jurang dan kanan tebing kecil. Tak seberapa lama kami menjumpai sebuah mesjid tempat banyak anak kecil sedang mengaji. Turun dan bertanya kepada penduduk setempat, mereka langsung memberitahukan tempatnya dengan pasti. Dalam Bahasa Indonesia bercampur Jawa tentunya – yang mana aku sama sekali gak ngerti bahasa Jawa. Setelah beberapa kali bertanya yang mungkin bikin orang yang ditanya itu agak kesal akhirnya aku nekatkan diri lagi untuk maju. Tak jauh dari mesjid tersebut ada sebuah jembatan dengan sungai deras mengalir. Untunglah kami ketemu dengan seorang bapak baik budi yang bersedia mengantarkan kami ke tujuan.┬áDengan ditemani mendung dan sedikit becek, akhirnya sampai juga kami di dekat lokasi.

Oh ya… sangat disarankan untuk menggunakan motor kalau ingin berkunjung kemari. Jalanannya agak tidak layak untuk dilalui mobil. Harus tega mobil kotor dan agak bergores terkena ranting pohon di pinggir jalan. Bahkan di dekat lokasi makam, hanya ada jalan setapak berlumpur sehingga kalau tidak berhati-hati akan menjebak mobil.

Setelah memutar mobil di jalan sempit dan becek, serta berterimakasih dan mendengarkan sedikit cerita dari si Bapak pengantar (dalam bahasa Jawa fasih, aku cuma ikut ketawa kalo dia ketawa ­čśÇ ) kami siap turun ke lokasi makam. Lokasi makam adalah rimbunan pohon seperti di foto pertama dan kedua berikut.

Perjalanan turun tidak terlalu jauh. Tapi jalanan setapak itu licin bukan main karena hujan yang baru turun siang tadi. Kalau gak percaya bisa lihat pada foto ketiga. Dengan menggunakan sandal yang sama licinnya akhirnya aku mulai bersusah payah turun. Lah udah kepalang tanggung. Target sudah di depan mata ­čśÇ .

Beberapa belas meter turun, ada sebuah sungai kecil yang kelihatannya digunakan untuk mengairi sawah yang ada di bawahnya. Sebuah jembatan kecil dari dahan kayu harus diseberangi dengan bermodalkan sandal yang tapaknya sudah aus dan ditambahi dengan lumpur di sepanjang jalan turun tadi.

Akhirnya sampai juga ke tujuan. Setelah mengkhayalkan hal ini selama beberapa hari, akhirnya aku tiba juga di sini. Eh tapi makamnya yang mana ya? Rupanya tempat yang kami tuju itu adalah kompleks pemakaman umum desa Selopanggung. Berdasarkan keterangan dari si Bapak baik budi tadi, makam mbah Selopanggung terletak di bawah cungkup dan makam Tan Malaka ada di dekatnya. Jadi posisi makam Tan Malaka terletak disebelah belakang kiri jika kita berdiri menghadap cungkup Mbah Selopanggung.

Sungguh sederhana. Bahkan cenderung tak terurus. Semoga aja hasil tes DNA segera keluar sehingga makam ini beserta dengan jalan masuk untuk mengaksesnya bisa segera diperbaiki. Aneh rasanya buat sebuah bangsa yang katanya selalu mengingat jasa para pahlawan mereka tapi bisa melupakan salah satu Bapak Republik ini.

Walaupun belum puas mengambil foto-foto, hujan akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan lokasi makam. Berkejaran dengan hujan yang mulai membasahi baju akhirnya kami tiba kembali di atas tebing dan segera berlari ke mobil. Niat untuk mengambil titik GPS (yang ini beneran Global Positioning System) agar bisa menemukan kembali tempat ini agak terhalang karena aku cuma mengandalkan aplikasi Maps dari Android yang membutuhkan internet untuk mengakses petanya. Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya titik koordinat tersebut berhasil didapatkan.

Untuk mengunduh berkas .kmz untuk melihat lokasi di Google Earth bisa klik di sini semoga bisa bermanfaat untuk memandu mereka yang ingin berkunjung ke makam Tan Malaka.