Riwayat Ringkas Tentang Penangkapan Tgk. Muhammad Arif Lam Gut


Sedikit sulit untuk melacak jejak Teungku Muhammad Arif. Tidak banyak literatur Aceh modern yang menyinggung nama beliau. Menurut artikel yang diterbitkan oleh tentara Belanda, beliau adalah salah satu pejuang yang meneruskan perang Aceh setelah semua keturunan Tgk. Chik di Tiro wafat.

Menurut catatan tersebut, Tgk. Muhammad Arif berjuang di daerah Lam Meulo  sekarang ini bernama Kota Bakti yang berada di wilayah Sigli hingga akhirnya ia ditangkap oleh pasukan Belanda dan dipenjara.

Catatan riwayat perang ini kudapat dari salah satu notes di Facebook. Aku hanya mengubah dari ejaan lama ke EYD biar gampang membacanya.

Sekedar mengingatkan, beliau tidak ada hubungan darah dengan Teuku Nyak Arief yang menjadi residen Aceh pasca kemerdekaan 1945.

Silahkan unduh catatan perang tersebut disini.

Lapak Buku Lapangan Merdeka


Suntuk setelah seminggu bekerja di kantor, ku ajak temanku untuk pergi ke Lapangan Merdeka. Kali ini bukan untuk makan, kami cuma pengen berburu buku. Dia pengen berburu komik sebagai pelepas suntuk sedangkan aku masih juga belum tau apa yang mau dibeli.

Setelah parkir kereta sepeda motor kami langsung bergerak ke kios buku pertama. Isinya buku pelajaran melulu, tak memuaskan hasrat untuk mampir berlama-lama disitu. Nyebrang lorong langsung kami mulai lagi penjelajahan dari satu kios ke kios lainnya. Hampir rata kios-kios yang ada hanya menjual buku-buku pelajaran anak sekolah. Mampir lagi ke kios yang lain, ada satu buku dengan sampul tebal yang bercerita tentang sejarah Orde Baru. Masih kurang menarik, kami lanjutkan lagi hingga satu blok telah kami jelajahi.

Pada umumnya, di blok yang ada di depan kantor pos Medan hanya berisikan buku-buku pelajaran mulai dari SD hingga kamus untuk anak kuliahan. Kondisi buku tersebut juga bervariasi jika kita pintar memilih bukan mustahil akan mendapatkan buku bekas tapi masih sangat layak pakai. Kalau tidak ingin beli buku bekas bisa juga beli buku baru dengan harga miring.

Dari bisik-bisik tetangga diketahui bahwa banyak buku bajakan yang dijual disini. Tapi jangan berpikir buku bajakan tersebut tidak layak pakai. Buku-buku tersebut juga dicetak dengan rapi bahkan juga dibungkus dengan plastik layaknya buku baru di toko buku resmi. Soal harga tentu saja yang versi bajakan akan jauh lebih miring daripada buku resmi.

Setelah jalan kaki (yup, pengunjung cuma boleh naik taf alias tafak alias berjalan kaki) sekitar satu jam, aku mulai mampir dan memegang salah satu buku dari rangkaian Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Rangkaian buku yang bagi para pengagum Pram didapuk sebagai salah satu mahakarya beliau. Bahkan rangkaian buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Seperti yang sudah kuceritakan, buku-buku yang ada disini adalah buku bekas atau buku bajakan. Nah sepertinya buku Tetralogi Buru ini adalah versi bajakan. Bayangkan saja, harga sebuah bukunya adalah Rp. 40.000 saja. Sedangkan di beberapa web aku dapati harganya berkisar di angka Rp. 90.000 perbuku. Malah sebuah situs menjual Rp. 333.000 untuk sepaket lengkap Tetralogi Buru.

Setelah timbang sana-sini akhirnya jatah uang makan keluar juga 🙂

Buku dan uang saling berpindah tangan. Dan kami mulai berjalan lagi.

Di blok kedua mulai banyak kios yang menjajakan buku yang bervariasi. Mulai novel, komik dan majalah bekas. Sang teman akhirnya menemukan komik Donal Bebek di kios pertama di blok kedua ini. Awalnya rada nyesal juga karena terlalu cepat memutuskan untuk beli Tetralogi Buru tapi setelah dipertimbangkan lebih dalam maka penyesalan tidak datang terlambat, bahkan ia tidak datang sama sekali 😀

Masih ada setengah lapangan lagi yang belum kujelajahi. Sekarang saatnya membaca Tetralogi Buru untuk beberapa minggu. Setelah ini habis baru akan berburu lagi.

—————

Lokasi di Wikimapia.

SITREP Gempa Sumatera, April 2012


Sore ini Kawasan Sumatera terutama daerah barat Sumatera dilanda gempa berkekuatan 8.6 (USGS) pada skala richter. Gempa terasa hingga ke Malaysia dan Thailand. Sempat timbul kecemasan akan tsunami seperti pada 26 Desember 2004 tetapi hal itu segera tertepis dengan beberapa pernyataan dari BMKG dan beberapa berita lainnya.

Beberapa pernyataan tersebut menyatakan bahwa jenis gempa sore tadi berbeda dengan jenis gempa yang mengakibatkan tsunami pada tahun 2004 lalu. Perbedaan tersebut adalah jenis gempa ini tidak naik turun sedangkan gempa pada tahun 2004 bersifat naik turun.

Pada laporan situasi (Situation Report – Sitrep) yang dikeluarkan oleh Karina dinyatakan bahwa sementara ini keadaan masih terkendali. Belum dapat diidentifikasi mengenai kerusakan dan kebutuhan logistik serta bantuan lainnya. Sementara itu pemerintah setempat masih bersiaga untuk segala kemungkinan. Untuk selengkapnya silahkan mengunduh di sini. Hal yang sama juga tertuang dalam laporan situasi yang dikeluarkan oleh Humanitarian Forum Indonesia yang dapat diunduh di sini.

Satu hal yang harus diperhatikan ketika gempa besar adalah TIDAK PANIK. Jika kepanikan melanda maka kemungkinan kecelakaan akan menjadi lebih besar. Arahkan keluarga ke tempat aman. Aku ingat salah satu prinsip SAR yang dulu sempat kupelajari di Pramuka yaitu selamatkan diri sendiri terlebih dahulu. Jika telah yakin keadaan kita dan keluarga aman maka ketika kita membantu untuk menyelamatkan yang lain akan terasa lebih nyaman. Tidak ada rasa khawatir terhadap keluarga kita.

Adapun ciri gempa yang dapat mengakibatkan tsunami diantaranya adalah:

  1. Kedalaman gempa: kurang dari 70 km
  2. Pusat gempa: di dasar laut
  3. Besaran gempa: lebih dari 7 SR
  4. Patahan: patahan lempeng naik-turun atau vertikal

Walaupun begitu, berhati-hati adalah hal yang mutlak diperlukan.

Sumber laporan situasi diambil dari milis bencana.

Update:

Press rilis dari TDMRC bisa diunduh di sini.

Sabil: Prahara di Bumi Rencong


Sabil adalah sebuah novel yang mengikuti tren baru pernovelan di Indonesia. Mengambil latar belakang sejarah Perang Aceh yang legendaris, novel ini berusaha membangkitkan romantisme jihad perang untuk mempertahankan negara. Novel ini adalah bagian pertama dari dwilogi yang ditujukan untuk menceritakan keperkasaan Cut Nyak Dhien, seorang panglima perang wanita yang berhasil membuat Belanda kocar-kacir pada rentang awal perang Aceh.

Pada awalnya gak ada harapan tertentu ketika memegang buku ini. Cuma berharap buku ini bisa menemani duduk bertapa di pos jaga malam. Apa sih yang bisa diceritakan oleh anak muda saat ini tentang kengerian perang legendaris itu? Apalagi ini cuma novel. Pasti ringan dan banyak berbelok ke hal-hal yang gak relevan. Itu beberapa hal yang melintas dipikiran ketika mengajak novel ini pulang dari tempat penyewaan buku.

Novel setebal sekitar 700 halaman ini habis sekitar 300 halaman sekali duduk di pos ronda 😀

Tokoh utama di novel ini adalah Teuku Nanta Seutia, seorang panglima perang Kerajaan Aceh dan juga ayah dari Cut Nyak Dhien. Beberapa bumbu penyedap diselipkan dengan manis seperti perebutan takhta kerajaan, jilat-menjilat antar pejabat dengan atasan serta hasut-menghasut. Diselipkan juga mengenai beberapa diplomasi yang dilakukan Aceh ke Singapura untuk melobi duta besar Inggris, Amerika dan beberapa negara lain. Pengiriman utusan kerajaan ke Turki untuk meminta bantuan ke Khalifah saat itu juga dibeberkan walaupun tidak detail. Cerita mulai seru setelah lewat dari halaman 300. Aceh yang sedang bersiap menghadapi perang dengan Belanda, tekanan yang dirasakan di Dalam dan juga di seluruh wilayah kerajaan diceritakan dengan apik.

Epic dari novel ini adalah Perang Aceh tahap pertama yang meletus dengan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler. Diceritakan bagaimana pejuang Aceh bertahan dan menangis ketika melihat mesjid kebanggaan mereka hancur, juga diceritakan bagaimana marahnya para pejabat Belanda di Batavia dan Den Haag ketika menerima kabar kekalahan itu.

Walaupun begitu ada beberapa kesalahan pengejaan yang mungkin agak mengganggu untuk orang Aceh sendiri seperti misalnya penulisan Lueng Bata yang menjadi Longbata atau geuchik menjadi keucik. Mungkin bentuk penulisan seperti itu dilakukan untuk  mempermudah para pembaca non Aceh walaupun bagi mereka yang mengerti bahasa Aceh akan menjadi terasa janggal.

Dengan mengabaikan beberapa hal seperti kesalahan pengejaan, novel ini layak untuk dibaca dengan didampingi beberapa buku sejarah jika ingin mengetahui sejarah Perang Aceh dan Cut Nyak Dhien itu sendiri. Bagaimanapun perang ini adalah perang terpanjang di dunia dalam mempertahankan kemerdekaan suatu bangsa. Sejarah juga mencatat Perang Aceh adalah yang terbanyak memakan korban baik nyawa maupun harta dalam upaya menggagalkan niat Belanda mencaplok wilayah ini.

Bacaan lebih lanjut:

  1. Wikipedia: Perang Aceh
  2. Wikipedia: Cut Nyak Dhien
  3. Peran Tengku Arifin dalam Perang Aceh: agen ganda dalam diplomasi

Gambar cover buku diambil dari bukabuku.com

Bersama Mas Pram


Bersama Mas Pram adalah sebuah buku yang kubeli waktu Pesta Buku bulan lalu di Banda Aceh. Waktu itu ada 10 buku yang berhasil kudapatkan dengan berdesakan diantara orang-orang yang juga berebut buku-buku lainnya.

Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2008. Basbang memang tapi tetap aja menarik untuk mencari tahu mengenai sepak terjang Pram yang digembar-gemborkan sebagai salah satu tokoh Lekra.

Seperti ringkasan di bagian belakang buku yang mengatakan buku ini menceritakan tentang sosok Pramoedya Ananta Toer dari muda hingga akhir hayat. Tapi ada beberapa kejutan di dalam buku ini seperti cerita bagaimana Pram yang “marah” dengan pelayanan dari rumah sakit ketika bapaknya sakit keras menjelang ajal. Pram muda langsung memboyong sang bapak pulang setelah sebelumnya memerintahkan para adiknya untuk membersihkan rumah dengan karbol dan mensterilkan ruang tidur sang bapak.

Sisi humanis Pram juga terlihat ketika ia memerintahkan salah seorang adik perempuannya untuk ke Jakarta guna mengobati TBC yang diderita sang adik. Walaupun sang adik akhirnya gak tahan dengan berbagai perlakuan “istimewa” dan pulang ke Blora, tapi tetap saja Pram telah berusaha.

Sisi lain yang sangat menyentuh tentu saja tentang perjuangan keluarga Toer yang cerai berai karena para lelakinya ditahan. Cerita tentang kebebasan mereka terenggut hanya karena menyandang nama Toer sebagai nama keluarga dan juga mengenai perjuangan mereka selepas dari tahanan dengan status ET (ex tahanan) yang melekat di diri mereka.

Gaya bahasa yang ringan dan terbagi ke dalam banyak bab membuat kita seakan membaca cerpen. Masing-masing bab memang dapat dibaca secara mandiri tanpa harus runut dari awal sampai akhir.

 

Sumber gambar:

Penerbit KPG

Muhammad – Para Pengeja Hujan


Buku ini adalah kelanjutan dari buku pertama yang berjudul Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang telah dibahas dipostingan yang ini.

Seperti yang mungkin dirasakan oleh banyak pembaca novel biografi bagian pertama, saya juga penasaran dengan struktur buku pertama yang kisahnya langsung melompat ke bagian ketika Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya. Pertanyaan yang berputar di otak saya kala itu adalah kenapa ceritanya lompat dan gak runut dari kecil hingga dewasa? Mana nih cerita masa kecilnya?

Pertanyaan itu terjawab di novel kedua yang berkisah mulai dari kelahiran seorang anak yatim dan perjuangan ibunya untuk mendapatkan seorang ibu susuan untuk anaknya. Penggambaran karakter dan suasana perkampungan Badui tempat Muhammad kecil bermain dengan para saudara sesusuannya juga digambarkan dengan sangat baik walaupun itu hanya dialog dan suasana fiksi yang diciptakan pengarang.

Pada bagian kedua ini porsi cerita mengenai Muhammad SAW. mendapatkan porsi yang lebih besar daripada kisah petualangan Kashva dalam mencari Maitreya dan Astvat-ereta. Lebih dari setengah buku ini menceritakan tentang kehidupan sang Nabi dan para sahabatnya, mulai dari kisah kelahiran, hijrah dan meninggalnya dikisahkan dengan enak dan mengalir.

Pembaca akan mendapatkan kejelasan mengenai nasib Mashya dan Xerxes juga mendapatkan ending yang menarik dari kisah Kashva yang ternyata menulis sendiri semua surat dari sahabat-sahabatnya.

Ketegangan di balai Tsaqifah ketika jenazah Lelaki Penggenggam Hujan belum dikuburkan juga dikisahkan dengan baik. Sampai disini semuanya masih oke dan berjalan sesuai dengan ingatan-ingatan dari bacaan mengenai Muhammad yang pernah aku baca.

Cerita melompat kebagian ketika Abu Bakar dibaiat secara umum, di buku ini dikisahkan kalau Ali ngotot untuk mempertahankan jabatan khalifah hanya untuk ahlul bait dan tidak akan menyerahkannya kepada orang lain. Kening mulai berkerut. Karena penasaran membacapun dilanjutkan hingga ke kisah Fatimah yang kesal kepada Abu Bakar karena tidak mendapatkan hak warisnya berupa kebun. Hadis yang menyatakan keutamaan Fatimah digelar dan dikemukakan beberapa kali sehingga terkesan Fatimah begitu keras kepala dan ingin sekali mendapatkan warisan dari ayahnya sementara Abu Bakar tetap berpegang pada hadis yang menyatakan bahwa para Nabi tidak memberikan warisan apapun kepada keluarganya.

Cerita dilanjutkan dengan kisah peperangan di untuk mengalahkan Romawi dan Persia yang berhasil ditangani dengan gemilang oleh pasukan Islam. Novel ini ditutup dengan apik pada kisah mengenai kerisauan Umar bin Khattab sebagai penerus kekhalifahan.

Membaca novel kedua ini memaksaku untuk membuka kembali sebuah buku yang sudah lama teronggok di lemari. Buku berjudul Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal versi terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan tahun 1995 segera aku buka untuk mencocokkan detail cerita mengenai perseteruan antara Fatimah dan Ali bin Abu Thalib melawan Abu Bakar untuk mendapatkan hak warisan dan jabatan khalifah. Buku tersebut menjelaskan mengenai keraguan cerita tersebut dari sisi sejarawan dan indikasi adanya penyusupan cerita tersebut dari kalangan yang tidak senang dengan kemajuan Islam pasca kemenangan atas Romawi dan Persia. Penjelasan tersebut menjawab keingintahuanku mengenai kebenaran cerita perseteruan itu.

Kali ini aku sangat merekomendasikan membaca novel Muhammad – Para Pengeja Tuhan didampingi dengan buku Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal untuk mendapatkan gambaran yang (lumayan) utuh mengenai kisah perseteruan antara ahlul bait dan Abu Bakar. Jika tidak memiliki buku tersebut sangat disarankan untuk bertanya kepada orang yang mengerti sejarah Islam mengenai hal tersebut, karena dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi yang salah seperti Abu Bakar yang mengkudeta Ali untuk memperoleh jabatan khalifah atau Abu Bakar yang ingin menyita kebun warisan Nabi kepada Fatimah. Pengecekan itu akan membawa kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Ranah 3 Warna


Novel ini menjadi novel utama pilihan untuk menemani libur lebaran yang lalu selain novel Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang udah dibahas dipostingan yang lalu.

Novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara sudah selesai dibaca beberapa bulan yang lalu. Hasil dari pinjam ke teman istriku 😀 Novel pertama aku baca dengan malas-malasan, aku udah bosan dengan novel-novel islami yang cenderung terlalu banyak mengumbar bahasa arab pada tempat-tempat yang gak perlu. Terlalu banyak memakai istilah ikhwan dan akhwat yang gak pada tempatnya. Terlalu banyak novel islami yang bernada (sok) menggurui. Pokoknya aku udah gak merasa cocok untuk membaca novel islami.

Tapi novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara mengubah pandanganku. Jalan ceritanya yang ringan membuat novel ini gak terasa menggurui untukku. Beberapa kejadian lucu sanggup membuatku tersenyum. Gaya lugu anak kampung yang kemudian bertransformasi menjadi santri di Pesantren Madani membuat aku penasaran untuk melanjutkan membaca seri kedua buku tersebut: Ranah 3 Warna.

Kembali ke awal postingan, buku ini aku sewa bersama dengan novel yang satunya lagi untuk mengisi libur lebaran yang berlangsung seminggu lamanya. Karena sudah membaca buku pertama maka aku langsung melancarkan serangan ke halaman pertama buat mengikuti sepak terjang Alif yang masih ngotot ingin kuliah di Bandung. Awalnya ingin mengikuti jejak Habibie sang legenda teknologi Indonesia tetapi apa daya, hasil ujian persamaan yang dia ikuti tidak mencukupi dan membuatnya “tobat” untuk melanjutkan kuliah di bidang ilmu pasti sehingga ia merubah arah dengan masuk ke jurusan Hubungan Internasional dengan harapan dapat bekerja di luar negeri.

Novel ini bercerita tentang perjuangan Alif selepas dari Pesantren Madani. Perjuangannya untuk lulus ujian persamaan SMA, perjuangannya untuk lulus UMPTN dan perjuangannya untuk hidup di Bandung dengan berjualan dari pintu ke pintu.

Membaca novel ini kita dibawa untuk merasakan adrenalin yang mengalir ketika ujian demi ujian berlangsung, merasakan kepedihan Alif ketika hasil dagangannya dirampok serta keterpurukannya karena sakit, meninggalnya sang ayah dan pertengkaran dengan sahabat kecilnya. Novel ini juga membawa kita merasakan kebahagiaan Alif ketika lulus ke Kanada dan kegamangan dan kekecewaannya ketika harus “nembak” cewek yang ditaksirnya yang ternyata udah didahului oleh sahabat karib kecilnya 😀

Novel yang seru dan banyak pelajaran tanpa kesan menggurui.

Tanpa sadar novel ini selesai dalam satu hari 😀

Gambar diambil tanpa minta izin dari sini.