the Journal

Banda Aceh Kota Wisata Islami

leave a comment »


Entah kenapa kalau baca urusan wisata di Banda Aceh suka jadi uring-uringan sendiri🙂

Padahal menurut berita yang ada di sini, situ dan sana kota Banda Aceh sudah mengukuhkan dirinya menjadi World Islamic Tourism yang dikukuhkan di Jakarta pada 31 Maret 2015 lalu. Dari segi sejarah dan keinginan tentu saja ini sangat menggembirakan. Inisiatif sebesar ini bisa terwujud dan bahkan dihadiri oleh orang nomor satu di kota Banda Aceh tentu saja patut kita hargai.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah selanjutnya bagaimana? Apakah dengan mengukuhkan diri menjadi kota tujuan wisata islami lantas akan membuat para turis datang? Apa saja pengembangan yang dapat dilakukan di Banda Aceh agar benar-benar pantas menjadi kota tujuan wisata islami dunia?

Ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dikembangkan agar daerah ini benar-benar dapat menjadi tujuan utama wisatawan.

Sarana transportasi umum.

Ini adalah salah satu hal yang paling penting yang tidak diperhatikan oleh pelaku wisata di Banda Aceh. Ambil contoh ketika baru mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda dan ingin menuju ke kota Banda Aceh, alternatif angkutan umum yang tersedia adalah bus Damri yang jam operasionalnya tidak terdata dengan jelas. Tidak ada petunjuk bahwa ada bus Damri yang bisa dijadikan tumpangan untuk menuju pusat kota. Para supir taksi gelap berkerumun di depan pintu kedatangan dan berebut untuk menawarkan jasa mereka dengan tarif yang lumayan. Untuk menuju ke pusat kota Banda Aceh kita harus merogoh kocek antara 85 ribu hingga 100 ribu rupiah. Beberapa supir yang nakal bahkan akan mengambil tarif yang lebih tinggi kepada wisatawan asing.

Jika kita menumpangi bus Damri hingga tiba di depan Mesjid Raya Baiturrahman, tidak ada petunjuk lanjutan bagaimana bisa mencapai tujuan selanjutnya. Tidak ada angkot atau taksi resmi untuk mengantar ke tujuan, hanya ada becak yang tarifnya terkadang suka keterlaluan mahalnya. Padahal sudah ada peraturan walikota yang mengatur besaran ongkos becak berdasarkan kilometer, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh banyak bagi pengendara becak.

Solusi: perbanyak angkutan umum, jika perlu berikan subsidi kepada para pemilik angkutan umum agar mereka bersemangat buat narik dan cari penumpang. Selain memudahkan para wisatawan juga akan membantu mengurai macet yang mulai melanda kota Banda Aceh pada jam-jam tertentu.

Peta/Papan Petunjuk Arah

Kalau mau ke pantai Ulee Lheu dari depan Mesjid Raya Baiturrahman itu lewat mana ya? Kalau tidak membawa orang lokal, tidak menggunakan GPS atau malas nanya maka dipastikan anda akan tiba sangat terlambat ditujuan. Papan penunjuk arah ke beberapa titik wisata memang ada di beberapa pojok jalan, tapi itu sangat kecil dan hanya ke titik wisata tertentu saja. Selebihnya tidak ada dan harus mengandalkan beberapa alat bantu yang tersedia.

Solusi: perbanyak dan perbesar papan penunjuk arah di setiap persimpangan jalan. Di beberapa titik strategis seperti depan Mesjid Raya Baiturrahman, Pantai Ulee Lheu, Musium Tsunami, dan Kapal Apung perlu dipasang baliho peta lokasi wisata, hotel dan tempat kuliner di Banda Aceh.

Hiburan

Setiap akhir pekan ada pentas seni rutin di Taman Putroe Phang, selain itu bagi yang beragama Islam bisa mengikuti zikir akbar yang rutin dilakukan setiap malam jumat di Mesjid Raya Baiturrahman. Selebihnya sepanjang pengetahuan saya tidak ada pentas seni rutin di kota ini.

Kuliner malam hari juga masih terbatas pada beberapa tempat tertentu seperti Rex Peunayong dan banyak warung kopi yang tersebar di seluruh penjuru kota. Tapi tempat duduk dan ngobrol di alam terbuka masih sangat terbatas.

Solusi: Daerah sepanjang pantai Ulee Lheu dapat dikembangkan menjadi wisata kuliner malam untuk menikmati jagung bakar atau ikan bakar sambil mendengar suara ombak. Agar tidak ruwet dan sumpek, kendaraan dapat diparkir di luar lokasi kuliner. Beberapa daerah memiliki satu jalan yang ditutup pada waktu malam hari untuk keperluan wisata kuliner ini, sebut saja misalnya kota Kupang yang memiliki pusat kuliner malam berupa aneka makanan laut segar. Harganya tentu saja harus murah meriah agar dapat dinikmati semua kalangan. Hal terpenting lainnya jika ini terwujud adalah memperbanyak tempat sampah agar tidak ada sampah yang dibuang sembarangan. Kebersihan sebagian dari iman ya kan?

Untuk mengurangi kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat diperbanyak pemasangan lampu jalan sehingga tidak ada daerah gelap lagi sepanjang jalan. Agar biaya pemasangan lampu jalan ini tidak membebani APBD, pemko dapat melakukan pendekatan kepada perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya agar dana CSR dapat dialihkan untuk pengadaan lampu jalan tenaga surya. Lombok sudah melakukan ini disepanjang pantai Senggigi menuju ke arah Lombok Utara dengan menggunakan dana CSR PLN.

Selain itu para WH juga dapat disiagakan untuk berpatroli rutin pada tempat tersebut sehingga bisa lebih mencegah terjadinya pelanggaran syariat.

Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan, tapi yang terutama harus dilakukan adalah mengubah mental warga kota agar dapat lebih ramah melayani pendatang dan memperbanyak pengetahuan warga tentang sejarah kota mereka sendiri.

Written by syahmins

April 9, 2015 pada 16:00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: