the Journal

Jak Tajak U Medan…

leave a comment »


Foto di atas adalah salah satu spanduk yang terpasang di Simpang Surabaya beberapa bulan lalu. Sekilas memang tak ada yang salah dengan spanduk tersebut, hanya memberikan informasi mengenai adanya diskon sebuah hotel di kota Medan jika tamunya mendaftar dengan menggunakan KTP Aceh.

Kalau tak ada yang aneh lalu kenapa dijadikan postingan?

Kalau mau kritis, sebenarnya keanehan justru ada pada fenomena getolnya masyarakat Aceh untuk berlibur ke Medan. Jika mau memperhatikan bisa dilihat pada setiap akhir pekan, masyarakat Aceh berbondong-bondong ke Medan. Baik yang menggunakan jalan darat maupun menggunakan pesawat dengan berbagai keperluan seperti bisnis, keluarga atau hanya untuk berwisata. Sehingga ada candaan bahwa sekarang kota Medan sudah menjadi salah satu kabupaten di Aceh karena ramainya warga Aceh yang main ke Medan pada akhir pekan.

Imbas dari ramainya kunjungan ke Medan sudah tentu membuat hotel-hotel yang ada membuat banyak promosi untuk menggaet para wisatawan ini agar menginap di tempat mereka. Mulai diskon menginap jika memiliki KTP Aceh hingga potongan harga jika berbelanja oleh-oleh di tempat tertentu. Tak ada yang salah dari sisi ini.

Permasalahan terbesar dan sering kali tidak diperdulikan oleh rakyat dan pemerintah Aceh adalah efek ekonomisnya. Dengan banyaknya kunjungan ke Medan untuk urusan wisata maka banyak pula uang yang mengalir ke provinsi tetangga tersebut. Dengan banyaknya uang yang mengalir maka ekonomi di daerah tersebut akan semakin bergairah sedangkan daerah asal uang tersebut akan semakin kering.

Sebenarnya ngapain aja sih kalau ke Medan?

Ada banyak pilihan  hiburan di Medan mulai dari yang hiburan keluarga hingga ke hiburan esek-esek. Untuk urusan yang esek-esek sepertinya masyarakat Aceh sudah diberikan cap jelek bahwa sebagian besar dari mereka suka dengan hiburan lendir ini. Kalau tak percaya, silahkan naik taksi atau becak dan ajak ngobrol dengan menggunakan aksen Aceh yang agak kental. Pasti tak lama kemudian akan ditawari hiburan lendir itu. Kalau mau lebih dikorek lagi maka akan terbuka cerita mengenai kelakuan mayoritas penumpang taksi atau becak yang berasal dari Aceh. Tapi itu bukan bahasan di postingan kali ini, silahkan melakukan investigasi sendiri ke Medan😀

Hiburan keluarga ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi seperti sejumlah bioskop yang sudah pasti tidak ada di Aceh, pusat-pusat perbelanjaan yang diklaim lebih murah daripada harga di Aceh, sejumlah kolam renang, pusat buku bekas, warung jajanan atau warung kopi hingga museum satwa. Itu hanya yang ada di seputaran kota Medan. Kalau mau lebih keluar kota maka akan didapatkan wisata alam Danau Toba, Berastagi, Taman Wisata Iman di Dairi, air terjun Sipiso-piso dan banyak lagi.

Intinya banyak tempat wisata di seputaran Medan serta banyak pula uang yang dikeluarkan untuk menikmatinya. Lalu apakah di Aceh tidak ada tempat wisata yang sama? Sebenarnya hanya ada beberapa saja yang tidak ada di Aceh seperti museum satwa, kebun binatang, pusat buku bekas, serta bioskop. Selebihnya semua ada dan tersedia walaupun fasilitas pendukungnya masih sangat minim.

Tapi bukankah dengan kita berkunjung maka harapannya fasilitas akan semakin lengkap? Selain itu ekonomi masyarakat sekitar tentunya juga akan semakin bergairah. Lalu kenapa kita harus memberikan sumbangan penghasilan kepada provinsi tetangga tapi membiarkan rakyat sendiri hidup susah?

Kiban, Pajan ta jak u Medan?

Written by syahmins

Maret 18, 2015 pada 16:54

Ditulis dalam Foto, i s e n g, Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: