the Journal

Archive for Agustus 2014

Mesjid Agung Jawa Tengah

with 2 comments


Mesjid Agung Jawa Tengah terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Semarang. Dengan menggunakan mobil kira-kira waktu yang diperlukan adalah 15 menit untuk menuju dari daerah Simpang Lima Semarang.

Masuk ke area mesjid, langsung disambut dengan mesin parkir modern a la pusat-pusat belanja besar. Cukup tekan tombol dan tiket parkir langsung keluar secara otomatis. Praktis dan yang aku senangi adalah adanya kesadaran pengurus mesjid untuk mengkomersialkan area mesjid untuk sesuatu yang bermanfaat sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemakmuran mesjid.

Halaman luas langsung terhampar di depan mata. Banyak pengunjung yang memanfaatkan halaman yang luas ini untuk melakukan rekreasi yang tidak selalu berupa kegiatan keagamaan. Ada yang melakukan olah raga sore, selfie, sekedar duduk sambil menikmati jajanan atau bermain sepatu roda. Bahkan pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh juga ada beberapa warung kecil di dalam kompleks mesjid. Dan mesjidnya itu dari jauh kelihatan luar biasa…

Menara 99 difoto dari arah serambi mesjid

Oleh supir taksi yang mendampingi perjalanan kali ini, aku diceritakan mengenai menara 99 yang berfungsi sebagai menara pandang serta sebuah restoran di atasnya. Melihat pemandangan kota dari atas memang selalu membuat penasaran, apakah bangunan-bangunan yang kita kenal dari bawah masih terlihat sama ketika dilihat dari atas? Atau apakah kita bisa mengenal bangunan-bangunan tersebut jika dilihat dari kejauhan? Itu barangkali beberapa pertanyaan yang terajut di dalam kepala.

Dengan membayar karcis tujuh ribu rupiah kita dapat naik ke menara mesjid tersebut. Sebenarnya ada tiga fungsi utama dari menara tersebut yaitu menara pandang pada tingkat sembilan, restoran putar pada tingkat delapan dan museum pada tingkat tiga. Hanya ketika aku datang, restoran dan museum sudah tutup sehingga hanya dapat naik ke tingkat sembilan saja.

Untuk melihat jarak jauh disediakan beberapa teropong yang dapat dioperasikan dengan menggunakan koin seribu rupiah. Kerennya, ada seorang penjaga resmi yang menyediakan koin tersebut untuk ditukarkan oleh pengunjung. Mantap…

Mesjid dari atas

Karena aku berkunjung dengan dengan waktu magrib maka selain mendapatkan pemandangan kota Semarang dari atas, aku juga mendapatkan bonus berupa pemandangan matahari terbenam. Melihat matahari tenggelam tanda hari mulai malam itu memang selalu memberikan inspirasi *halah sok puitis*

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat dari atas, perjalanan dilanjutkan dengan menjelajahi mesjid dari dekat. Keunikan mesjid ini adalah bentuk pelatarannya yang dihiasi dengan tiang-tiang yang dihubungkan dengan kaligrafi indah.

Dari pelataran halaman dalam mesjid juga bisa terlihat bahwa bangunan mesjid ini didesain dengan sangat indah dan anggun. Salut buat perancangnya.

Tiang di bagian kiri dan kanan pada pelataran halaman dapat dibuka seperti payung sehingga jamaah tidak kehujanan atau kepanasan ketika sedang salat. Perpaduan seni modern yang sangat bagus karena tidak hanya indah tapi juga memberikan fungsi yang bermanfaat kepada jamaah.

Dari serambi belakang mesjid, selain terlihat menara 99 juga terlihat hamparan halaman yang luas.

Sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya…

Masuk ke dalam mesjid, sebuah Quran raksasa menyambut. Quran ini ditulis oleh seorang dosen di Semarang dan kemudian disumbangkan ke mesjid ini. Mungkin karena untuk menjaga keawetan maka Quran ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu dan digembok sehingga tidak semua orang dapat melihatnya secara sembarangan.

Akhirnya karena azan berkumandang maka aku buru-buru pulang agar tidak terbakar berwudhu dan salat magrib.

Menurutku ini adalah salah satu mesjid terindah dan terbaik pengelolaannya di beberapa daerah yang pernah kukunjungi.

Written by syahmins

Agustus 31, 2014 at 13:46

Kelenteng Agung Sam Poo Kong

leave a comment »


Hari sudah menjelang sore ketika kaki dengan gatalnya ingin diajak jalan. Hasil dari pencarian di Internet, ada beberapa tautan yang menyarankan untuk berjalan ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Hasil pencarian di peta milik Google menunjukkan kalau lokasinya ternyata lumayan jauh untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah malas karena langit sudah gelap dan takutnya kelenteng itu sudah tutup.

Tanya sana-sini dengan petugas hotel dan supir taksi, akhirnya rasa malas itu hilang sendiri 😀

Kelenteng ini buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul sepuluh malam. Pengunjung yang datang menggunakan kendaraan dapat memarkir kendaraannya di halaman parkir yang luas. Ongkos parkir sebesar Rp. 3000 untuk mobil dan Rp. 1000 untuk sepeda motor dibayarkan ketika membeli tiket masuk sebesar Rp. 3000 perorang.

Kompleks ini sendiri terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian yang bisa diakses oleh umum dengan menggunakan tiket masuk di depan serta bagian altar sembahyang yang dikhususkan bagi para pengunjung yang ingin sembahyang. Pengunjung yang tidak ingin bersembahyang tapi ingin masuk ke bagian altar sembahyang harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp. 20.000.

Masuk ke dalam kita langsung disambut sebatang pohon besar yang menaungi sebuah kios. Di kios tersebut pengunjung dapat menyewa pakaian adat Tiongkok untuk berfoto di seputaran kelenteng. Sebuah lapangan terlihat dengan panggung utama yang sangat besar. Berdiri di tengah lapangan sendirian jadi serasa aneh 😀

Beberapa objek menarik dan tak boleh terlewatkan di kelenteng ini adalah:

Lapangan Utama

Dari lapangan ini terlihat sebagian besar isi kompleks kelenteng ini. Ada sebuah tribun yang tiangnya dihiasi dengan ukiran-ukiran indah. Selain itu ada enam buah patung yang seolah menjaga tribun di sisi kanan dan kiri.

Patung Laksamana Zheng He

Terletak di dekat pintu keluar di sisi kiri tribun utama, patung ini berdiri tegak menghadap matahari terbit. Patung raksasa ini merepresentasikan sang Laksamana dan di bagian bawah patung terdapat cerita singkat mengenai sang Laksamana.

Dari cerita penjaga aku baru sadar kalau Laksamana Zheng He adalah yang biasa ku kenal dengan nama Laksamana Cheng Ho.

Altar Sembahyang

Ada beberapa altar sembahyang untuk dewa-dewi yang berbeda di kompleks ini. Beberapa yang kuingat adalah Dewa Bumi dan Dewi Laut tapi altar paling besar adalah altar untuk Sam Poo Kong sendiri. Semua altar tersebut berdiri menghadap ke arah timur tempat terbitnya matahari dan secara kebetulan juga menghadap ke arah tribun utama. Untuk masuk ke altar sembahyang ini, pengunjung harus membayar tiket lagi sebesar Rp. 20.000. Jumlah ini sebanding dengan beberapa hal yang bisa dilihat di dalam kompleks altar sembahyang.

Relief Cerita Sam Poo Kong

Pada bagian ini diceritakan mengenai perjalanan Sam Poo Kong. Ada cerita ketika dia mendarat di Malaya, Jawa, Samudera Pasai, dan lainnya. Satu hal yang unik, ada satu bagian relief yang bercerita mengenai ekspedisi tersebut mampir ke Mekah untuk menunaikan haji. Bagian ini hanya tergambar saja tidak tertulis seperti cerita yang lainnya.

Gua Batu

Ada dua gua batu yang baru dan lama. Gua batu baru terletak di bagian atas altar sembahyang diantara relief cerita berisikan sebuah altar dengan beberapa patung se. Menurut cerita dari penjaganya, patung-patung tersebut salah satunya adalah patung Sam Poo Kong alias Laksamana Cheng Ho.

Gua batu lama terletak di bagian bawah. Gua batu lama ini adalah bangunan asli di kompleks ini. Menurut cerita ini adalah tempat pasukan Sam Poo Kong meletakkan altar sembahyang ketika mereka mendarat di daerah Semarang. Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam gua, tetapi bisa mengintip saja melalui jeruji yang ada di pintu masuk.

Replika Perahu dan Pohon Rantai

Replika perahu terletak di bagian bawah di sebelah altar sembahyang utama. Pada bagian ini kita dapat melihat sebuah replika perahu dari beton dengan sebatang pohon di tengahnya. Masih menurut cerita dari penjaga, konon pohon itu adalah pohon paling tua di dalam kompleks kelenteng ini.

Selain pohon tersebut, ada satu lagi pohon unik yang sulurnya menyerupai rantai. Konon sulur itu yang dipakai untuk mengikat tiang di kapal. Daun pohon yang lebat tersebut menaungi sebuah gundukan yang dulunya merupakan tempat untuk membersihkan pusaka kelenteng. Pusaka-pusaka tersebut adalah peninggalan dari ekspedisi Sam Poo Kong di Semarang.

Makam Kiai Jangkar

Terletak pada sebuah cungkup di dekat replika perahu, bagian ini menampilkan sebuah jangkar kapal yang konon adalah jangkar dari salah satu kapal ekspedisi Sam Poo Kong. Jangkar ini dibalut dengan kain berwarna merah serta diberikan kalungan bunga melati untuk memuliakannya.

Di sebelahnya ada satu cungkup lagi yang konon berisikan beberapa benda pusaka peninggalan ekspedisi Sam Poo Kong.

Satu hal yang jelas, untuk mengunjungi kelenteng ini sangat tidak disarankan untuk datang pada malam hari. Anda tidak akan dapat menikmati keindahannya secara tuntas pada malam hari.

Kebanyakan foto-foto di kamera hilang karena memori kamera kebetulan error. Hiks… Tapi beberapa yang berhasil diselamatkan bisa dilihat di bawah ini.

Papan nama kompleks Kelenteng Agung Sam Poo Kong.

Beranda di salah satu pintu masuk, ini adalah satu-satunya bangunan bergaya Jawa di kompleks ini.

Salah satu bangunan kecil yang ada di sisi lapangan utama.

Denah Kompleks kelenteng.

Tribun utama pada malam hari.

Written by syahmins

Agustus 24, 2014 at 10:22