the Journal

Museum Negeri Aceh

leave a comment »


Museum Negeri Aceh adalah sebuah kompleks bangunan yang terdiri dari satu Rumoh Aceh, satu gedung pameran utama, satu gedung pameran sementara, dan beberapa gedung lain yang tidak diketahui apa isi dan kegunaannya. Jujur saja, untuk ukuran orang Aceh dan terutama Banda Aceh, museum ini tidak menarik perhatian sedikitpun. Bahkan walaupun kompleks bangunan ini terletak di salah satu jalan utama yang menghubungkan antara Mesjid Raya Baiturahman yang terkenal itu dengan pendopo Gubernur Aceh dan sering dilalui oleh warga kota Banda Aceh.

Hal itu sering jadi pertanyaanku kepada teman-teman yang sering duduk di warung kopi, kapan terakhir ke museum?. Dari seluruh responden (jangan mengira yang ditanya itu banyak ya… namanya juga teman minum kopi) semua menjawab terakhir berkunjung ke museum ketika ada kunjungan wajib dari SD yang mana itu adalah sekitar 15 tahun lalu. Pertanyaan balik dari mereka adalah “memang mau melihat apa di museum?”, yang lain nanya “memang gak ada tempat lain yang lebih menarik? ngapain ke sana?”

Untuk menjawab pertanyaan itu maka aku ajaklah anak-anakku main ke museum ketika mereka libur beberapa bulan yang lalu. Yup ini sebenarnya adalah cerita basi beberapa bulan lalu😀

Sumber: prettyindonesia.com

Perjalanan menjelajah museum dimulai dengan membeli tiket masuk seharga total Rp. 7500 untuk satu orang dewasa dan dua anak-anak. Dengan penuh heran aku membayar sejumlah itu untuk masuk ke ruang pameran utama. Heran karena itu terlalu murah untuk sebuah gedung penyimpan benda-benda bersejarah. Sekedar informasi tiket untuk masuk ke Rumoh Aceh dijual terpisah.

Sekitar 15 tahun lalu ada patung replika manusia purba sebagai salah satu sajian yang dapat dinikmati, kemudian ada replika beberapa peralatan yang biasa digunakan di dalam Rumoh Aceh. Tapi kini tak terlihat tapi sebagai gantinya ada sebuah prasasti yang disebut juga sebagai Prasasti Neusu Aceh. Entah apa tulisan yang ada di prasasti tersebut karena tidak ada penjelasan mengenai isinya, hanya ada nama dan keterangan tempat ditemukan saja. Selain itu juga ada beberapa guci dan senjata tradisional yang dipamerkan di lantai satu. Hanya itu saja. Lalu kemana semua bahan pameran dulu itu? Termasuk replika perkembangan Mesjid Raya Baiturahman dari masa ke masa itu hilang kemana?

Perjalanan singkat di lantai satu kemudian dilanjutkan ke lantai dua. Disini pengunjung dapat melihat sebuah replika makam Ratu Nahrisyah yaitu seorang sultanah pada kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara sekarang ini. Selain itu juga ada beberapa lukisan mengenai wilayah kerajaan Aceh pada zaman dahulu kala.

That’s it…itu saja… dan selesailah kunjungan di ruang pameran utama Museum Aceh.

Terngiang kembali pertanyaan temanku “memangnya mau lihat apa di sana?”

Tur dilanjutkan ke halaman museum. ada beberapa makam Sultan yang pernah memerintah Aceh tergeletak pasrah tak berdaya di halaman. Rumput terlihat baru saja dipangkas tapi tetap saja terlihat kesan tidak terpelihara dengan baik. Tempat ini hanya sebentar dikunjungi, bisa dikatakan hanya sambil lewat saja.

Kunjungan selanjutnya adalah ke sebuah bangunan kecil yang berisikan satu benda saja yaitu lonceng Cakradonya. Konon ini adalah lonceng yang dipasang di kapal Cakradonya, sebuah kapal perang yang sangat megah pada masanya. Kondisi lonceng ini lumayan memprihatinkan. Karat mulai terlihat di beberapa tempat. Tulisan yang konon ada di pinggiran lonceng sudah tidak terlihat sama sekali.

Selanjutnya yang terakhir adalah kolong Rumoh Aceh. Rumoh Aceh sendiri ketika itu ditutup karena petugasnya sedang keluar. Di bawah Rumoh Aceh ini ada sebuah potongan kayu yang konon adalah sisa dari pohon Kohler, yaitu pohon yang diyakini sebagai tempat Jenderal Kohler tertembak oleh salah satu pejuang Aceh ketika hendak merebut Mesjid Raya Baiturahman. Selain itu ada sebuah gerobak dan sebuah alat penumbuk padi.

Hanya itu benda yang dipamerkan…

Memang beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca di harian Serambi Indonesia bahwa museum saat ini sangat minim dana. Dana yang diberikan oleh pemerintah melalui APBD sangat tidak mencukupi. Pertanyaannya apakah kalimat sakti matee aneuk meupat jeurat matee adat pat tamita (mati anak diketahui kuburnya tapi mati adat mau cari kemana) itu sudah tidak relevan lagi sekarang ini? Museum sebagai salah satu instansi yang juga bertugas menjaga peninggalan sejarah sebagai bagian dari adat harusnya mendapatkan porsi anggaran yang cukup besar untuk pemeliharaan koleksi benda-benda bersejarah.

Jadi ngapain ke museum, apa yang mau dilihat di sana?

Written by syahmins

Juni 17, 2014 pada 12:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: