the Journal

Paniai, Kabupaten Berstatus Merah di Papua

leave a comment »


Paniai adalah sebuah kabupaten yang terletak di tengah pulau Papua. Selain dikenal dengan tingkat kemiskinannya yang tinggi, kabupaten ini juga dikenal sebagai salah satu basis perjuangan OPM beberapa tahun yang lalu. Jangankan orang luar, mereka yang asli Papua saja masih takut untuk datang ke daerah ini. Selain itu kendala transportasi juga membuat orang-orang malas untuk datang ke Paniai.

Perjalanan ke Enarotali ibukota Paniai ditempuh selama 8 jam perjalanan darat dari Nabire sejauh lebih kurang 300 KM. Sebenarnya ada pesawat tapi hanya sampai pertengahan jalan saja dengan sebuah penerbangan perintis menggunakan pesawat kecil satu baling-baling. Perjalanan darat ini dilakukan dengan menggunakan mobil sport seperti Toyota Fortuner atau Ford Ranger (mobil pribadi). Awalnya ku kira ini adalah kendaraan dinas dari Pemda setempat, karena rombongan kami datang atas nama kantor. Penjemput juga bukan orang sembarangan, Kepala Bappeda Kabupaten Paniai langsung datang menjemput ke bandara Nabire. Ketika salah seorang teman membisiki mengenai plat kendaraan yang ku naiki baru aku sadar bahwa ini adalah kendaraan umum darat termewah yang pernah kunaiki. Bayangkan saja, di tempat lain merek ini adalah kendaraan dinas untuk bupati atau walikota tapi disini semua bisa naik asal mampu membayar ongkosnya.

Ongkos untuk naik ke Paniai sebesar Rp. 600.000 perorang tapi anehnya ongkos untuk turun dari Paniai ke Nabire dipangkas sampai setengahnya yaitu Rp. 300.000 saja. Sedangkan jika ingin menyewa satu kendaraan adalah sebesar Rp. 5.000.000 persekali jalan. Ongkos turun yang lebih murah itu rupanya karena mereka tidak ingin tersaingi dengan ongkos pesawat yang hanya setengah jalan itu yaitu sebesar Rp. 500.000.

Awal perjalanan selama 8 jam itu ditempuh dengan lancar. Aspal mulus dan pemandangan khas Papua berupa hutan dan jurang menemani selama sekitar satu jam perjalanan. Sekitar lewat dari satu jam perjalanan maka petualangan dimulai. Petualangan pertama adalah pemalangan jalan oleh suku setempat. Pemalangan ini dikarenakan kemarin ada truk yang menabrak babi milik penduduk setempat. Sang babi mati dan truk melarikan diri. Sialnya, para pengguna jalan lainnya harus membayar denda adat untuk kematian sang babi. Nego berjalan cepat, dari harga Rp. 300.000 yang dipatok oleh penduduk akhirnya hanya dibayar Rp. 50.000 saja permobil. Ketika sedang seru bernegosiasi, lewatlah seekor babi berkulit loreng. Spontan aku terpikir bahwa itu adalah babi militer yang akan ikut berdiskusi untuk menentukan harga nyawa temannya😀

Lokasi pemalangan jalan ini sebenarnya berada di daerah penambangan emas tradisional. Jadi dari dalam mobil kita bisa melihat pondok-pondok tempat penduduk setempat menambang. Konon katanya, aliran sungai tempat mereka menambang itu masih satu aliran dengan Timika tempat Freeport melakukan penambangan bawah tanah. Selain menjadi tempat berteduh para penambang, pondok-pondok itu konon juga menjadi tempat lokalisasi liar di situ. Benar atau tidaknya sih masih harus dibuktikan lagi.

Selesai membayar denda adat maka perjalanan dilanjutkan. Kali ini rupanya tak semulus perjalanan satu jam pertama. Kondisi jalan yang hancur langsung membuat badan bergoyang ke kanan dan ke kiri serta ke atas dan ke bawah. Selain kondisi jalan yang sedang dalam pengerasan, ada juga jalan yang tinggal setengah karena longsor baik longsor ke bawah atau menerima longsoran dari atas. Bahkan ada badan jalan yang tergenang air yang turun dari tebing di sisi jalan.

Tapi itu masih kurang ekstrim hingga mobil berjalan masuk ke sebuah sungai kecil. Jembatan yang ada rupanya belum selesai hingga kendaraan yang lewat harus masuk ke sungai tersebut. Kesempatan itu digunakan untuk meluruskan badan sambil mencuci muka serta foto-foto😀

Karena memburu waktu agar tidak kelamaan di jalan, maka perjalanan kembali dilanjutkan. Selain itu alasan lainnya adalah untuk menikmati segelas kopi Moanemani di daerah Degiyai. Kopi ini berjenis arabica dan sangat terkenal di daerah Papua. Nasib baik rupanya sedang tidak memihak kami karena kopi tersebut rupanya tidak tersedia di beberapa warung kopi yang ada di Degiyai. Alasan sang penjual adalah kopi tahun ini tidak begitu bagus kualitasnya sehingga mereka tidak mau menjual. Terpaksalah kami minum kopi dari daerah lain di Papua.

Untuk menghibur hati, akhirnya kami mencari warung yang menjual kopi bubuk Moanemani. Setelah keluar masuk pasar tradisional, akhirnya ketemu satu warung yang menjual buku kopi yang dimaksud. Entah benar atau tidak tapi sablonan di plastik kemasannya menyatakan demikian. Seumur hidup ini adalah warung paling aneh yang pernah kulihat.

Semen dan bahan bangunan lainnya, sepeda dan bahan makanan berebut tempat di warung tersebut. Entah bagaimana cara penjualannya aku juga tak mengerti😀

Karena beberapa kali berhenti maka perjalanan menjadi lebih lama dari yang kami perkirakan semula. Awalnya kami memperkirakan sekitar jam enam sore sudah masuk ke Enarotali ibukota Paniai tapi perkiraan tersebut meleset. Sang supir yang giat bekerja sudah mulai mencemaskan jika ada penghadangan oleh OPM di sepanjang jalan. Cerita mulai bergeser ke arah kejadian dan penembakan yang dilakukan oleh OTK. Akhirnya pukul delapan malam barulah kami bisa masuk ke Enarotali dengan segenap perasaan lega.

Perjuangan rupanya belum selesai. Udara dingin langsung menerpa ketika membuka pintu mobil. Jaket langsung saja menjadi seragam wajib yang kami kenakan sembari menurunkan barang bawaan masing-masing. Semuanya langsung menghambur ke dalam kamar yang telah disediakan dan mencari selimut untuk menghangatkan badan. Sayangnya ketika selimut telah memberikan kehangatan, hape berdering untuk mengabarkan bahwa makan malam sudah siap dihidangkan di ruangan lain.

Karena cuaca dingin otomatis HIV (Hasrat Ingin Vivis) juga meningkat drastis. Hal ini menyebabkan kami harus berulang kali mampir ke kamar mandi. Air yang sedingin es menyebabkan rasa malas untuk ke kamar mandi, tapi ditahan juga rasanya tak menyenangkan. Belum terbayang bagaimana caranya mandi pagi dengan air es (persis seperti air kulkas) karena di kamar mandi kami tidak ada penghangat airnya. Dugaan terjelek, ini akan jadi salah satu rekor tak mandi selama tiga hari😀

Written by syahmins

Maret 8, 2014 pada 14:45

Ditulis dalam Raon

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: