the Journal

Mengunjungi Makam Tan Malaka

with 2 comments


Beberapa waktu belakangan ini heboh soal penemuan makam Tan Malaka di daerah Kediri, Jawa Timur yang merupakan hasil penyelidikan Harry A. Poeze, seorang ahli sejarah Indonesia asal Belanda. Nah menurut beliau, makam ini 90% positif milik Tan Malaka, hanya tinggal menunggu hasil tes DNA dari sebuah rumah sakit.

Berhubung sedang ada tugas dari kantor ke Kota Kediri, maka ada rasa penasaran ingin melihat langsung makam sang Bapak Republik yang terlupakan ini. Beberapa orang yang ditanyai di seputaran Kota Kediri mengaku tidak tahu mengenai lokasi makam tersebut. Berbekal pengetahuan yang minim mengenai lokasi makam tersebut, aku mengambil langkah nekat untuk menyewa sebuah mobil dan mulai berkelana mencarinya. Patokan arah yang kudapatkan dari hasil berkunjung ke beberapa blog adalah mencari desa Selopanggung kemudian mencari makam Mbah Selopanggung. Makam Tan Malaka terletak di sebelah makamnya Mbah Selopanggung.

Bermodalkan patokan arah tersebut akhirnya aku dan sang supir berangkat. Untungnya si om supir yang sedang giat bekerja itu adalah orang yang lahir dan besar di seputaran desa Selopanggung jadi sedikit banyak dia mengerti arah mana yang harus dituju. Tapi dia gak tau mengenai makam Tan Malaka atau makam Mbah Selopanggung. Dengan bermodalkan GPS (Gangguin Penduduk Sekitar) akhirnya kami mendapatkan titik terang mengenai lokasi makam dimaksud.

Untung saja pemandangan sekitar sangat enak dipandang sehingga perasaan bisa sedikit terhibur. Sawah dengan sistem terasering dan beberapa padang rumput juga menemani perjalanan.

Dari jalan utama desa di sebuah simpang tiga, kami berbelok masuk ke sebuah jalan dengan kondisi aspal rusak. Jalanan kecil menurun dengan sebelah kiri jurang dan kanan tebing kecil. Tak seberapa lama kami menjumpai sebuah mesjid tempat banyak anak kecil sedang mengaji. Turun dan bertanya kepada penduduk setempat, mereka langsung memberitahukan tempatnya dengan pasti. Dalam Bahasa Indonesia bercampur Jawa tentunya – yang mana aku sama sekali gak ngerti bahasa Jawa. Setelah beberapa kali bertanya yang mungkin bikin orang yang ditanya itu agak kesal akhirnya aku nekatkan diri lagi untuk maju. Tak jauh dari mesjid tersebut ada sebuah jembatan dengan sungai deras mengalir. Untunglah kami ketemu dengan seorang bapak baik budi yang bersedia mengantarkan kami ke tujuan. Dengan ditemani mendung dan sedikit becek, akhirnya sampai juga kami di dekat lokasi.

Oh ya… sangat disarankan untuk menggunakan motor kalau ingin berkunjung kemari. Jalanannya agak tidak layak untuk dilalui mobil. Harus tega mobil kotor dan agak bergores terkena ranting pohon di pinggir jalan. Bahkan di dekat lokasi makam, hanya ada jalan setapak berlumpur sehingga kalau tidak berhati-hati akan menjebak mobil.

Setelah memutar mobil di jalan sempit dan becek, serta berterimakasih dan mendengarkan sedikit cerita dari si Bapak pengantar (dalam bahasa Jawa fasih, aku cuma ikut ketawa kalo dia ketawa😀 ) kami siap turun ke lokasi makam. Lokasi makam adalah rimbunan pohon seperti di foto pertama dan kedua berikut.

Perjalanan turun tidak terlalu jauh. Tapi jalanan setapak itu licin bukan main karena hujan yang baru turun siang tadi. Kalau gak percaya bisa lihat pada foto ketiga. Dengan menggunakan sandal yang sama licinnya akhirnya aku mulai bersusah payah turun. Lah udah kepalang tanggung. Target sudah di depan mata😀 .

Beberapa belas meter turun, ada sebuah sungai kecil yang kelihatannya digunakan untuk mengairi sawah yang ada di bawahnya. Sebuah jembatan kecil dari dahan kayu harus diseberangi dengan bermodalkan sandal yang tapaknya sudah aus dan ditambahi dengan lumpur di sepanjang jalan turun tadi.

Akhirnya sampai juga ke tujuan. Setelah mengkhayalkan hal ini selama beberapa hari, akhirnya aku tiba juga di sini. Eh tapi makamnya yang mana ya? Rupanya tempat yang kami tuju itu adalah kompleks pemakaman umum desa Selopanggung. Berdasarkan keterangan dari si Bapak baik budi tadi, makam mbah Selopanggung terletak di bawah cungkup dan makam Tan Malaka ada di dekatnya. Jadi posisi makam Tan Malaka terletak disebelah belakang kiri jika kita berdiri menghadap cungkup Mbah Selopanggung.

Sungguh sederhana. Bahkan cenderung tak terurus. Semoga aja hasil tes DNA segera keluar sehingga makam ini beserta dengan jalan masuk untuk mengaksesnya bisa segera diperbaiki. Aneh rasanya buat sebuah bangsa yang katanya selalu mengingat jasa para pahlawan mereka tapi bisa melupakan salah satu Bapak Republik ini.

Walaupun belum puas mengambil foto-foto, hujan akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan lokasi makam. Berkejaran dengan hujan yang mulai membasahi baju akhirnya kami tiba kembali di atas tebing dan segera berlari ke mobil. Niat untuk mengambil titik GPS (yang ini beneran Global Positioning System) agar bisa menemukan kembali tempat ini agak terhalang karena aku cuma mengandalkan aplikasi Maps dari Android yang membutuhkan internet untuk mengakses petanya. Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya titik koordinat tersebut berhasil didapatkan.

Untuk mengunduh berkas .kmz untuk melihat lokasi di Google Earth bisa klik di sini semoga bisa bermanfaat untuk memandu mereka yang ingin berkunjung ke makam Tan Malaka.

Written by syahmins

Februari 17, 2014 pada 18:15

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mantap su rantap, pengunjung perdana sebelum makam ini akan ramai oleh pengunjung lainnya🙂

    Aulia

    Februari 18, 2014 at 04:48

  2. hahahahha… sedang ada kesempatan makanya menyempatkan diri. daripada harus menyesal dan penasaran berkepanjangan…

    syahmins

    Februari 18, 2014 at 14:26


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: