the Journal

Buku: Tuhan, Maaf Engkau Ku Madu

leave a comment »


Awal ketertarikan dengan buku ini karena ada embel-embel “sebuah novel sufistik”. Selain itu nama Aguk Irawan yang bukunya pernah ku baca seperti Haji Backpacker dan beberapa tulisannya mengenai petualangan mengarungi beberapa daerah di Timur Tengah. Jadi dengan harapan tinggi akan mendapatkan sebuah cerita berkualitas maka buku itu masuk ke dalam keranjang belanja.

Sayangnya harapan itu pupus justru di beberapa lembar pertama. Kata pengantar yang terlalu panjang is okay lah… soalnya bisa dilewatkan saja. Tapi beberapa salah eja (?) justru menjadikan cerita tersebut menjadi aneh buatku. Sebut saja misalnya ada kata sepeda montor atau rangsel — yaaahhh mungkin aku aja yang terlalu sensitif, karena kenyataannya rangsel masuk ke dalam KBBI Daring walaupun akhirnya dipadankan dengan kata ransel. Selain itu nama seorang tokoh berubah dari Irwan pada awal cerita menjadi Irawan kemudian kembali menjadi Irwan pada akhir cerita.

Selanjutnya yang bikin agak menghilangkan gairah membaca adalah cara bercerita yang terkadang melompat gak tentu arah. Ketika sedang menceritakan tentang seorang pemandu wisata yang menerangkan mengenai tiang-tiang yang ada di Luxor, tiba-tiba saja kata ganti orang pertama tunggal (saya) nyelip. Jadi entah itu masih dalam keterangannya si pemandu wisata atau malah keterangan tambahan dari penulis sendiri. Beberapa kali hal ini terjadi dengan variasi kata ganti (saya atau kami) yang berbeda.

Jalan cerita pada awalnya juga membosankan. Malah terkesan seperti novel cinta pada umumnya. Kemanapun si tokoh utama pergi maka dia akan secara kebetulan menjumpai si tokoh wanita. Terkesan terlalu dipaksakan. Terlalu banyak menggambarkan cerita cinta dan pertemuan mereka secara ala kadar, gak terlalu dapat mengenai apa yang mau dibagi dengan kejadian itu.

Sampai di pertengahan, konflik sudah mulai terlihat. Jalan cerita juga jadi lebih enak diikuti, tidak terlalu berkesan terlalu banyak kebetulan. Mulai banyak kutipan-kutipan sufisme maupun beberapa filsafat. Dialog juga lebih tertata dan urutan waktu jadi lebih runut. Hingga tiba di akhir cerita yang terkesan dibuat misterius dan pembaca harus meraba lagi.

Secara keseluruhan, novel ini layak untuk dibaca dengan kesabaran dan kemampuan untuk melupakan segala masalah yang ku ceritakan tadi. Tapi novel ini gak termasuk daftar buku yang mau aku baca ulang. Bahkan jika gak ada buku lain yang harus dibaca😀

Written by syahmins

Januari 8, 2014 pada 19:42

Ditulis dalam Bacaan, i s e n g, Opini

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: