the Journal

Tentang Film Soekarno

leave a comment »


Setelah seminggu lebih film Soekarno tayang di bioskop, akhirnya aku tertarik juga untuk nonton. Jujur aja, awalnya aku sama sekali tidak tertarik untuk nonton film ini. Trailer yang beredar jujur aja sangat tidak menarik minat untuk menonton.

Terlepas dari segala kontroversi yang melibatkan beberapa tokoh dan keluarga Presiden Soekarno, film ini memang layak untuk ditonton bersama keluarga. Apalagi dengan membawa anak kecil agar mereka mendapatkan gambaran mengenai presiden pertama negara ini.

Film ini dimulai dengan sebuah himbauan di layar bioskop agar para penonton berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kaget juga pada awalnya. Ragu apakah ada yang akan berdiri dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan atau tidak. Setelah dipancing dengan satu orang penonton berdiri di barisan paling belakang, perlahan semua penonton mulai bangkit dari duduknya dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana khidmat. Tapi yang terbayang di benakku justru sebuah penggalan cerita dari Balada si Roy yang bercerita tentang pengalamannya nonton di sebuah bioskop di Thailand. Pada cerita tersebut dikisahkan bahwa sebelum film diputar, para penonton diwajibkan untuk berdiri hormat dan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin menarik juga bila ini dibuat di Indonesia, menumbuhkan nasionalisme secara lebih modern.

Jalan cerita film ini sendiri agak datar. Banyak tokoh yang beredar tapi tak ada yang menjadi spesial, bahkan tokoh Soekarno, Inggit, Fatmawati, dan Hatta yang notabene adalah tokoh-tokoh utama di film ini terasa kurang kuat. Tapi kalau ditanya apa yang kurang, aku juga gak bisa jawab😀 Pokoknya aja!

Untuk ukuran film bioskop, film ini berdurasi lumayan panjang. Hampir 3 jam penuh penonton disuguhi dengan jalan cerita mengenai sebagian kecil perjuangan Soekarno hingga ia menjadi salah seorang proklamator kemerdekaan.

Salah satu cerita kontroversial yang berhasil tertangkap adalah ketika Bung Karno berhasil membujuk tetua daerah agar mengizinkan untuk mendatangkan para pelacur dari tanah jawa. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasukan Jepang menculik dan memperkosa para wanita setempat. Salah satu konsep kebijaksanaan awal para pendiri negeri ini😀

Cerita kontoversial lainnya menyangkut poster Bung Karno yang mengajak rakyat untuk ikut serta dalam PUTERA. Rasanya berbeda membaca kekejaman Jepang ketika itu dengan melihat rekonstruksi kejadiannya di film ini. Lebih terasa sadisnya😦

Trus yang lainnya? Nonton segera ke bioskop terdekat mumpung masih diputar. Pastinya akan ada warna lain di film Indonesia yang satu ini daripada hanya menjual tubuh dan hantu😀

Written by syahmins

Desember 24, 2013 pada 12:04

Ditulis dalam i s e n g, Jas Merah

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: