the Journal

Satu Lokasi Beribu Cerita

leave a comment »


Indonesia memang negara yang unik. Saking uniknya, untuk satu kegiatan aja ada beberapa lembaga yang menangani.

Tulisan kali ini mengenai sistem pemetaan yang ada di republik kita tercinta🙂

Buat masyarakat awam masalah pemetaan ini bukanlah masalah yang penting. Kalau perlu peta suatu wilayah maka mereka tinggal menuju toko buku terdekat untuk membeli peta. Tapi hal itu tentu gak bisa dilakukan jika berhubungan dengan pekerjaan. Ambil contoh ketika kantorku mengadakan kegiatan Sekolah Lapang (Field School) untuk para petani. Untuk kepentingan pelaporan kepada donor maka kami perlu membuat sebuah peta untuk menggambarkan posisi kebun si petani. Perlu diketahui bahwa donor pada saat itu memberikan peraturan ketat bahwa petani yang dilatih tidak boleh yang kebunnya berada di kawasan hutan lindung.

Sekilas kelihatannya gampang. Tinggal ambil peta administrasi wilayah kemudian digabungkan dengan peta kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan. Masukkan koordinat posisi kebun yang telah diambil dengan GPS dan selesai. Tapi kenyataannya ternyata jauh panggang dari api. Ketika konsultasi ke teman yang bekerja di Aceh Geospatial Data Center (AGDC) barulah aku ngerti bagaimana ruwetnya sistem pemetaan negeri ini. Untuk data pemetaan administrasi wilayah bisa menggunakan peta dari AGDC dengan mencantumkan sumber. Ketika pembicaraan sampai kepada masalah peta kehutanan maka aku mulai dibuat bingung. Ada lebih dari satu lembaga yang mengklaim bahwa merekalah pemegang hak untuk menerbitkan peta hutan Aceh. Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL).

Masing-masing lembaga memiliki dasar hukum yang mereka jadikan pegangan sendiri. Anehnya peta mereka satu sama lain tidak cocok. Ada beberapa wilayah yang diklaim sebagai zona aman oleh Kemenhut tetapi oleh kedua lembaga lainnya diklaim sebagai hutan lindung. Kemudian ada juga yang diklaim sebagai hutan lindung oleh Kemenhut dan BPKEL tapi oleh TNGL itu termasuk zona aman. Pusing bin bingung🙂

Itu masih gambaran diatas kertas. Ketika berkunjung ke lapangan maka ada masalah lain lagi yang menanti. Oleh masyarakat setempat, peta-peta tersebut diklaim salah. Masyarakat telah menghuni wilayah tersebut sejak jaman nenek mereka. Mereka menunjukkan komplek pemakaman yang nisannya bertanggal tua. Para sesepuh kampung juga membenarkan cerita tersebut. Bahkan yang anehnya di kawasan tersebut telah terdapat sebuah sekolah, kantor kelurahan (geuchik) serta di aspal dengan aspal beton. Tidak terlihat ada indikasi hutan di daerah tersebut.

Diluar permasalahan kawasan hutan, batas administrasi wilayah juga merupakan masalah lain yang dihadapi. Ada beberapa versi batas wilayah administrasi yang diklaim benar oleh beberapa lembaga. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Bappeda setempat dan BPS adalah lembaga-lembaga yang berkaitan erat dengan urusan kewilayahan. Sebagai contoh: ada nama desa di daftar wilayah yang dikeluarkan oleh Kemendagri tetapi oleh BPS desa tersebut tidak dimasukkan dengan alasan desa tersebut sudah tidak eksis lagi karena konflik atau bencana alam. Selain itu ada kemungkinan wilayah tersebut sudah dilebur ke desa tetangga sehingga secara administrasi desa yang dimaksud sudah dihapus. Ada juga kasus sebuah desa dipecah menjadi dua tetapi masih tercatat sebagai satu desa. Lebih sakit lagi kalau kita perlu peta administrasi wilayah level desa maka peta tersebut 85% tidak valid😦

Lalu bagaimana caranya agar data-data dan peta-peta tersebut jadi akurat?

Selain harus ada kemauan kuat dari pada pengambil keputusan, harus juga ada keikhlasan dari mereka untuk mengikhlaskan satu wilayah lepas dari area mereka. Tapi itu tentu saja susah karena berkaitan dengan Pendapatan Asli Daerah dan masalah administrasi lainnya.

Written by syahmins

Januari 4, 2013 pada 17:59

Ditulis dalam i s e n g, Kerjaan, Opini, Protes

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: