the Journal

Archive for Desember 2012

Sekali Lagi Tentang Ucapan Selamat Natal

leave a comment »


Boleh atau gak?

Menurut pendapat pribadiku mengucapkan selamat natal atau hari besar keagamaan lainnya bagi yang non muslim adalah mubah. Alasanku adalah ucapan selamat untuk perayaan hari besar keagamaan tidak ada hubungannya dengan anggapan kalau kita juga mengakui dan beriman pada agama mereka.

Sempat dapat beberapa hujatan karena berlawanan dengan arus tapi show must go on ūüôā

Akhirnya hari ini ada yang posting di Facebook mengenai hal ini dengan memberikan link ke situs ini. Intinya adalah: boleh hukumnya mengucapkan selamat natal atau ucapan selamat lainnya selama tidak mengikuti ritual keagamaan mereka. Fatwa ini didukung oleh:

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi
  2. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’
  3. Dr. Wahbah Zuhayli
  4. Dr. M. Quraish Shihab
  5. Fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) dan Buya Hamka
  6. Dr. Din Syamsuddin 
  7. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah
  8. Isi Fatwa MUI 1981 Seperti Dikutip Eramuslim.com

Nah jadi mau ikut yang mana?

Intinya mengucapkan atau tidak tapi yang terpenting adalah tidak anarkis ūüėÄ

Iklan

Written by syahmins

Desember 20, 2012 at 12:06

Ditulis dalam Bacaan, Opini

Tagged with ,

Indonesia Tidak Dijajah Selama 350 Tahun

leave a comment »


Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun! Pikiran itu terus bertengger di otakku yang gak seberapa ini setelah membaca beberapa buku dan literatur di internet. Sedari kecil kita sudah dicuci otak oleh pemerintah dengan mengatakan bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Pelajaran sejarah, PSPB, PMP (kemudian menjadi PPkN) serta beberapa pelajaran lainnya selalu mengatakan bahwa Belanda menjajah sampai 3,5 abad lamanya. Tapi pernahkah kita hitung berapa lama sebenarnya kita dijajah?

Proses kolonialisasi dimulai dengan pendirian VOC atau lebih dikenal sebagai kompeni pada 20 Maret 1602 dengan tujuan “menghancurkan musuh dan memakmurkan bangsa”. Tujuan pendirian ini adalah untuk melakukan pencarian sumber rempah-rempah yang sangat berharga pada saat itu. Setelah melalui pertempuran sengit maka pada tahun 1609 VOC berhasil menguasai kepulauan Banda Neira. Jika tahun ini yang dijadikan pijakan dasar mulainya penjajahan Belanda di Indonesia maka penjajahan Belanda yang selama 350 tahun harusnya berakhir pada 1959. Sedangkan sejarah mencatat bahwa Gubernur Jenderal di Batavia telah menyerah kepada Jepang pada tahun 1942. Jadi antara 1609 sampai dengan 1942 Belanda menjajah “hanya” 333 tahun.

Tapi jika semua wilayah Hindia Belanda secara utuh diakui sebagai wilayah Indonesia utuh maka klaim tersebut terpatahkan.

Faktanya, menurut sejarah Belanda, Aceh adalah daerah terakhir yang mereka taklukkan yaitu pada 10 Januari 1903 yang ditandai dengan menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah. Jadi secara utuh Belanda menguasai Indonesia dari Sabang sampai Merauke hanya selama 42 tahun saja. Tetapi jika kita menggunakan sudut pandang sejarah Indonesia, maka Belanda sama sekali tidak pernah menjajah Indonesia secara utuh. Sebelum Sultan Muhammad Daud Syah menyerah beliau telah menyerahkan kekuasaan kepada Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sama seperti halnya Presiden Sukarno menyerahkan jabatannya kepada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia-PDRI¬†di India dan Sumatera. Tetapi mengenai penyerahan kedaulatan Sultan ini aku belum pernah mendapatkan sumber resminya.¬†Bahkan kenyataannya Sultan Muhammad Daud Syah sendiri tetap mengatur perlawanan dari¬†Kutaraja¬†setelah beliau menyerah hingga akhirnya beliau dibuang ke Ambon. Di Ambon, Sultan tetap mengobarkan perlawanan kepada Belanda dengan cara memberikan dukungan kepada pejuang lokal. Akhirnya Belanda memindahkan beliau ke Batavia hingga akhir hayatnya.¬†Selain itu,¬†Paul van‚Äôt Veer dalam bukunya “The Atjeh Oorlog” menyatakan bahwa Belanda tidak pernah berhasil menguasai Aceh secara utuh. Ada beberapa daerah yang masih bebas dari cengkeraman Belanda dan masih mengakui Kesultanan Aceh Darussalam walaupun Sultan sendiri telah menyerah.¬†Mengenai Aceh yang tidak pernah dijajah secara penuh oleh Belanda telah diakui oleh semua pihak, Pihak Aceh, Kerajaan Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia.

Jadi faktanya, Indonesia tidak pernah dijajah oleh Belanda secara utuh. Kecuali Pemerintah Republik Indonesia ingin menafikan sejarah dengan menghapus kenyataan bahwa Aceh yang diakui sebagai payung republik ternyata tidak pernah menyerah secara penuh kepada Belanda.

Written by syahmins

Desember 10, 2012 at 16:24

Ditulis dalam i s e n g, Jas Merah, Opini, Protes

Makam Teungku Chik di Tiro

leave a comment »


Iseng gak tau kemana lagi di Banda Aceh? Ada satu tempat menarik yang pantas dikunjungi berkaitan dengan keindahan alam dan sejarahnya.

Terletak di tengah persawahan dan dikelilingi benteng alam dari jajaran bukit barisan, makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman merupakan tempat yang sangat pas untuk melepaskan penat. Mata dapat terhibur dengan bentangan hijau sawah dan dikejauhan terlihat jajaran bukit barisan yang seolah mengawal tempat tersebut. Di dalam areal makam sendiri terdapat banyak pohon besar yang berfungsi sebagai peneduh, selain itu juga terdapat beberapa tempat untuk duduk melepaskan lelah serta sebuah meunasah untuk menunaikan shalat. Sebuah warung kopi juga siap menyediakan minuman untuk melepaskan dahaga di sebuah tikungan sebelum makam.

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman adalah salah seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Aceh. Beliau adalah seorang ulama dan juga pejuang yang memimpin rakyatnya untuk melawan Belanda. Dibawah kepemimpinannya, Belanda memperoleh banyak kesulitan. Bahkan Kutaraja (sekarang Banda Aceh) sempat diserbu oleh para pejuang Aceh. Untuk menghentikan perjuangan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman maka Belanda mengirimkan seorang wanita dengan menghidangkan makanan yang telah diberikan racun. Beliau wafat di benteng Aneuk Galong dan dimakamkan disana. Tetapi perang tak lantas selesai, para keturunannya melanjutkan perjuangan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman hingga seluruh anak beliau wafat.

Areal makam ini sebenarnya bukan mutlak milik Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman tetapi telah menjelma menjadi kompleks kuburan keluarga Tiro. Selain Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang dimakamkan di kompleks ini ada beberapa keturunan beliau yang juga ikut dimakamkan disini. Tapi makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sendiri memiliki tempat terhormat di bawah sebuah cungkup bersama dengan seorang keturunannya serta seorang cucu jauh beliau yaitu Hasan Tiro.

Selain makam terdapat sebuah balee yang memajang foto dan penjelasan mengenai Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman dan beberapa keturunan beliau. Selain itu juga terdapat sebuah buku kecil yang berisikan perjuangan keluarga Tiro dalam Perang Aceh. Pengunjung dapat memperoleh satu buah buku dengan mengganti ongkos cetak sebesar sepuluh ribu rupiah. Sayangnya ketika itu tidak ada pengurus atau kuncen yang berjaga disitu sehingga buku tersebut tidak dapat kuperoleh.

Transportasi Menuju Ke Makam

Tidak ada transportasi umum seperti labi-labi (angkot alias angkutan kota) yang menuju ke makam. Sebagai alternatif, pengunjung dapat menggunakan becak atau menggunakan kendaraan pribadi. Dari simpang pasar Indrapuri, kita harus menempuh jarak sekitar enam kilometer dengan jalan sempit yang sudah beraspal. Di banyak tempat, para sapi seakan sedang melakukan razia dengan berdiri di tengah badan jalan sehingga kita harus berhati-hati. Pada umumnya disetiap persimpangan jalan telah diberikan petunjuk yang jelas ke arah mana kita harus menuju tetapi ada beberapa simpang yang tidak ada petunjuknya.

Lain-Lain

Ada dua hal yang sangat mengganggu bagiku.

Pertama: beton yang mengelilingi makam Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman telah dihancurkan pada salah satu sisi dan tidak direhab kembali. Penghancuran dinding ini dilakukan oleh pengikut Hasan Tiro ketika akan menguburkannya. Sangat aneh mengingat keturunan keluarga Tiro yang lain semuanya dimakamkan di luar cungkup tetapi masih di dalam kompleks pemakaman. Jika yang lain bisa tidak merusak makam moyang mereka kenapa Hasan Tiro harus diistimewakan?

Kedua: kuburan Hasan Tiro letaknya lebih tinggi daripada makam¬†Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Secara adab, sangat aneh seorang cucu bisa memiliki kuburan lebih tinggi daripada kakeknya. Berdalih dengan alasan Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe juga tidak tepat. Makam Wali Nanggroe kedelapan lebih tinggi dari Wali Nanggroe Pertama? Tak masuk akal…

Semoga Pemerintah Aceh sekarang ini yang nota bene adalah pengikut Hasan Tiro dapat memperbaiki dinding makam tersebut sehingga tidak mengganggu mata ketika berziarah.

Lokasi:

N 05 24 52.5

E 95 28 29.45

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman di beberapa sumber:

  1. Wikipedia
  2. AcehPedia –¬†Teungku Chik Di Tiro
  3. AcehPedia –¬†Chik Di Tiro

Foto-Foto

Written by syahmins

Desember 3, 2012 at 15:53