the Journal

Ulee Lheue, Pedagang Kecil dan Wisata Yang Tertutup

with 3 comments


Lama tak mengunjungi dan mengingat salah satu pantai yang ada di seputaran kota Banda Aceh. Selepas peristiwa penutupan pantai tersebut pada pukul enam sore, aku praktis gak pernah lagi ingin menjejakkan kaki ke pantai itu. Selain karena kesibukan, pantai ini relatif tidak menarik untuk dikunjungi pada waktu terang. Eits, jangan berpikir negatif dulu. Ini bukan berarti pantai ini menarik untuk dikunjungi pada saat gelap. Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi pantai ini-menurutku-adalah diwaktu senja ketika matahari akan terbenam. Ngeliat sunset. Kalo kalimat para pelancongnya sih seperti itu😀

Matahari terbenam di pantai Ulee Lheu adalah sebuah momen indah yang dihadiahkan oleh alam kepada penduduk kota Banda Aceh. Sambil makan jagung bakar dan menikmati sebotol minuman ringan di tepi pantai, kita bisa menyaksikan ketika matahari dengan perlahan bersembunyi ke balik gunung di seberang lautan. Sementara beberapa perahu nelayan kelihatan sedang berlayar pulang ke pelabuhan Ulee Lheue. Lepas momen matahari tenggelam, kita bisa langsung bergegas menuju mesjid yang tak jauh letaknya untuk sembahyang magrib.

Sejak pantai itu ditutup untuk umum pada jam 6 sore sampai dengan jam 6 pagi, bisa dipastikan sebuah tempat wisata murah meriah bagi para penduduk kota berkurang. Selain tempat wisata yang berkurang, juga uang yang mengalir ke pundi-pundi para pedagang kecil di sepanjang jalan juga berkurang. Sebelum ditutup, sepanjang jalan ke pelabuhan adalah tempat favorit pedagang untuk menggelar lapak mereka. Beragam dagangan seperti jagung bakar, sate hingga mie aceh tergelar di kaki lima dengan harga terjangkau.

Alasan penutupan ini terdengar aneh di telinga sebagian orang. Hanya dengan alasan bahwa sering terjadi maksiat di tempat gelap maka warga bisa langsung menutup sebuah lokasi wisata. Selain itu pemerintah juga seakan buntu untuk mencarikan jalan keluar. Berbekal alasan bahwa pemerintah telah mengirimkan surat himbauan agar memperbanyak penerangan tapi ternyata tidak diindahkan oleh para pedagang menjadi alasan pamungkas untuk menutup kawasan ini. Padahal ada beberapa cara lain yang saling menguntungkan semua pihak.

Cara pertama adalah dengan memperbanyak penerangan lampu jalan. Penerangan ini dapat menggunakan tenaga surya atau tenaga angin. Cara ini memang mengeluarkan banyak uang pada awalnya tapi pada saat telah berjalan pemerintah akan berhemat dengan tidak lagi membayar uang listrik jalan kepada PLN. Pasang tiang listrik dalam jarak dekat misalnya dalam jarak lima meter sehingga dengan pencahayaan yang cukup akan membuat orang-orang enggan untuk bertingkah aneh.

Cara kedua yaitu menutup daerah tanggul bebatuan yang menjadi benteng pantai. Biasanya tanggul ini sering dimanfaatkan para pemancing untuk menyalurkan hobi mereka. Pada malam hari kawasan tanggul batu ini menjadi tempat rawan karena cahaya lampu jalan tidak sampai kemari. Tutup kawasan tersebut dan juga kawasan pelabuhan ferry dari akses masyarakat ketika jam enam sore sampai jam enam pagi.

Cara ketiga dilakukan dengan memerintahkan para polisi syariat ditemani oleh polisi atau tentara untuk berpatroli disepanjang garis pantai dan tanggul batu. Mereka dapat dibekali dengan senter bercahaya tinggi untuk melihat dengan lebih jelas dan mengusir pasangan yang berduaan di tempat gelap tersebut. Polisi atau tentara berfungsi sebagai cadangan jika ada yang bertindak diluar batas ketika kedapatan sedang berduaan di tempat gelap tersebut. Lagian ngapain juga para polisi syariat itu hanya duduk dan patroli di tengah kota pada siang hari sementara mereka dapat lebih berguna di malam hari?

Kalau ketiga cara tersebut dilakukan maka semua pihak akan merasakan manfaatnya. Pedagang akan dapat menangguk rupiah, warga kota memiliki tempat alternatif untuk hiburan murah meriah dengan keluarga mereka, pemerintah dapat menarik iuran dari pedagang bahkan penduduk sekitar dapat menambah penghasilan dengan menyediakan lahan parkir.

Bandar wisata islami bukan berarti hanya berkunjung dari mesjid ke mesjid tapi juga menikmati keindahan alam sebagai bagian dari tadabbur kepada sang pencipta. Banyak cara untuk tetap menegakkan syariat tanpa harus merugikan yang lain. Hanya pertanyaannya: mau dilakukan atau tidak? Simple

Bacaan lanjutan:

  1. Warga, Pol PP, dan Lapak Ulee Lheue
  2. Wali Kota: Ulee Lheue Tetap Tutup Malam Hari
  3. Pemko Dinilai Tak Punya Konsep Kelola Lokasi Wisata Ulee Lheue
  4. Dewan Minta Pemerintah Kota Banda Aceh Tinjau Ulang Penutupan Pantai Ulee Lheue

Written by syahmins

November 11, 2012 pada 11:11

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nice artikel pak

    Toko Laptop Online

    November 17, 2012 at 18:03

  2. setuju sama agan diatas hehehehhee

    Artikel Komputer

    November 17, 2012 at 18:04

  3. artikelnya bagus gan semoga bermanfaat bagi pembacanya gan

    Artikel teknologi

    November 17, 2012 at 18:04


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: