the Journal

Lapak Buku Lapangan Merdeka

leave a comment »


Suntuk setelah seminggu bekerja di kantor, ku ajak temanku untuk pergi ke Lapangan Merdeka. Kali ini bukan untuk makan, kami cuma pengen berburu buku. Dia pengen berburu komik sebagai pelepas suntuk sedangkan aku masih juga belum tau apa yang mau dibeli.

Setelah parkir kereta sepeda motor kami langsung bergerak ke kios buku pertama. Isinya buku pelajaran melulu, tak memuaskan hasrat untuk mampir berlama-lama disitu. Nyebrang lorong langsung kami mulai lagi penjelajahan dari satu kios ke kios lainnya. Hampir rata kios-kios yang ada hanya menjual buku-buku pelajaran anak sekolah. Mampir lagi ke kios yang lain, ada satu buku dengan sampul tebal yang bercerita tentang sejarah Orde Baru. Masih kurang menarik, kami lanjutkan lagi hingga satu blok telah kami jelajahi.

Pada umumnya, di blok yang ada di depan kantor pos Medan hanya berisikan buku-buku pelajaran mulai dari SD hingga kamus untuk anak kuliahan. Kondisi buku tersebut juga bervariasi jika kita pintar memilih bukan mustahil akan mendapatkan buku bekas tapi masih sangat layak pakai. Kalau tidak ingin beli buku bekas bisa juga beli buku baru dengan harga miring.

Dari bisik-bisik tetangga diketahui bahwa banyak buku bajakan yang dijual disini. Tapi jangan berpikir buku bajakan tersebut tidak layak pakai. Buku-buku tersebut juga dicetak dengan rapi bahkan juga dibungkus dengan plastik layaknya buku baru di toko buku resmi. Soal harga tentu saja yang versi bajakan akan jauh lebih miring daripada buku resmi.

Setelah jalan kaki (yup, pengunjung cuma boleh naik taf alias tafak alias berjalan kaki) sekitar satu jam, aku mulai mampir dan memegang salah satu buku dari rangkaian Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Rangkaian buku yang bagi para pengagum Pram didapuk sebagai salah satu mahakarya beliau. Bahkan rangkaian buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Seperti yang sudah kuceritakan, buku-buku yang ada disini adalah buku bekas atau buku bajakan. Nah sepertinya buku Tetralogi Buru ini adalah versi bajakan. Bayangkan saja, harga sebuah bukunya adalah Rp. 40.000 saja. Sedangkan di beberapa web aku dapati harganya berkisar di angka Rp. 90.000 perbuku. Malah sebuah situs menjual Rp. 333.000 untuk sepaket lengkap Tetralogi Buru.

Setelah timbang sana-sini akhirnya jatah uang makan keluar juga🙂

Buku dan uang saling berpindah tangan. Dan kami mulai berjalan lagi.

Di blok kedua mulai banyak kios yang menjajakan buku yang bervariasi. Mulai novel, komik dan majalah bekas. Sang teman akhirnya menemukan komik Donal Bebek di kios pertama di blok kedua ini. Awalnya rada nyesal juga karena terlalu cepat memutuskan untuk beli Tetralogi Buru tapi setelah dipertimbangkan lebih dalam maka penyesalan tidak datang terlambat, bahkan ia tidak datang sama sekali😀

Masih ada setengah lapangan lagi yang belum kujelajahi. Sekarang saatnya membaca Tetralogi Buru untuk beberapa minggu. Setelah ini habis baru akan berburu lagi.

—————

Lokasi di Wikimapia.

Written by syahmins

September 17, 2012 pada 11:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: