the Journal

Menggugat Lambang PMI

leave a comment »


Beberapa hari belakangan ini banyak yang ribut mengenai kunjungan kerja anggota DPR ke Denmark dan Turki. Tujuan mereka berkunjung itu sebenarnya juga bukan hal yang sangat penting, cuma untuk melihat apakah lambang palang merah yang dipakai oleh PMI masih sesuai digunakan di Indonesia ataukah harus diganti dengan lambang bulan sabit merah seperti di Turki.

Alasan mendasar perubahan lambang itu seperti kata anggota Badan Legislasi DPR Honing Sanny adalah “Ada yang mencurigai red cross mewakili kepentingan tertentu, sehingga diganti Bulan Sabit Merah.”

Dari keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan kasar bahwa kalau menggunakan lambang palang merah maka akan terkesan ada gerakan Kristen yang ingin mencampuri urusan kemanusiaan di Indonesia. Hal ini mungkin dikaitkan dengan penggunaan lambang salib dalam agama tersebut. Tapi dia dan juga anggota DPR yang ikut “tur wisata” ke Denmark dan Turki lupa bahwa penggunaan lambang bulan sabit merah juga akan mengesankan bahwa gerakan Islam ingin mencampuri urusan kemanusiaan di Indonesia.

Bukan ingin membela salah satu kelompok, tapi azas yang dianut oleh PMI seperti dituangkan dalam tujuh prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah salah satunya adalah Kenetralan. Bisa dibayangkan jika lambang lembaga ini dikaitkan dengan salah satu kelompok atau aliran tertentu yang ada di Indonesia. Prinsip netral yang dianut akan hilang dan akan timbul kecurigaan antar pengurus. Masing-masing golongan akan merasa lebih superior dari yang lainnya.

Jika masih ngotot untuk mengganti lambang gerakan kemanusiaan ini maka ada baiknya untuk mengganti dengan lambang Kristal Merah (red crystal). Lambang ini telah diakui sebagai salah satu lambang gerakan kemanusiaan dunia oleh ICRC pada tahun 2005. Lambang Kristal Merah akan lebih netral dan dapat berdiri diatas semua golongan. Tapi nantinya perlu dipertegas oleh undang-undang untuk menggunakan hanya satu lambang untuk gerakan kemanusiaan di negara ini. Jangan ada lagi dualisme seperti saat ini dengan adanya Palang Merah Indonesia dan Bulan Sabit Merah Indonesia sehingga prinsip Kesatuan (unity) dan Kesemestaan (universality) akan tercapai.

Trus aku tau darimana kalo ada lambang Kristal Merah? Tanpa perlu ke Denmark atau Turki, aku bisa dapat keterangan lengkap dari Google. Cukup dengan satu klik cerita tentang Kristal Merah terpampang di monitor dan pilihan utama darimana lagi kalau bukan dari ICRC sebagai lembaga kemanusiaan dunia yang mewadahi palang merah, bulan sabit merah serta kristal merah dari seluruh dunia.

Cukup bayar secangkir kopi seharga Rp. 5000 di warung kopi di Aceh dan informasi langsung tersaji :p

Eh tapi kalo pake cara ini nanti gak bisa dapat uang jalan dan plesiran gratis lho😀 Jadi don’t try this at parliament…. karena bisa bikin mereka kurus sebab tak ada uang sidang dan uang pelesiran😀

———————

Update:

  1. Tulisan Jusuf Kalla seputar polemik ini di Kompasiana.
  2. Notes dari seorang Facebooker.
  3. Sejarah lengkap asal-usul lambang bulan sabit.

Written by syahmins

September 11, 2012 pada 11:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: