the Journal

Archive for September 2012

Soto Kesawan Yang Bikin Sawan

with 2 comments


Setelah sekian lama bolak-balik Medan-Banda Aceh akhirnya berhasil juga ngerasain cita rasa Soto Kesawan 🙂

Soto Kesawan ini sebenarnya termasuk salah satu makanan legendaris kota Medan. Buat para pencinta kuliner rasanya gak afdhal pergi ke Medan kalau gak mencicipinya. Setelah tiga bulan bermukim di Medan, barulah aku berhasil ikut mencicipi sang soto legendaris.

Awal diajak, kukira lokasinya ada di daerah Kesawan tempat yang dulu pernah dijadikan pusat jajanan malam di Medan. Biar gak ngeres, jajanan yang dimaksudkan adalah makanan dan minuman khas Medan dan juga khas daerah lainnya. Dulunya ada satu ruas jalan yang ditutup kalau malam sampai pagi. Di jalan itulah para pedagang dan penikmat kuliner kota Medan berkumpul. Rupanya lokasi yang kami tuju siang itu bukan di Jalan Kesawan tetapi di Jalan Sei Batang Hari.

Karena perut lapar dan sebagai orang yang menumpang mobil maka aku ikut aja deh. Mobil diarahkan untuk parkir ke halaman Wisma Hari Kita, salah satu wisma syariah yang ada di Medan. Nyali udah mulai agak menciut karena sebagaimana kita tau, makanan hotel/wisma/penginapan itu jarang yang enak dan harganya juga kurang bersahabat dengan kantong di akhir bulan. Setelah mengutarakan pertanyaan di dalam dada (cuih bahasanya) akhirnya dijelaskan kalau kita cuma numpang parkir aja. Napas lega segera kudengar dari peserta makan siang lain 😀

Turun dari mobil, kami berjalan ke sebelah kiri wisma dan segera terlihat sebuah warung makan. Tapi langkah kaki kembali ragu karena melihat ada yang aneh ditulisan selamat datang di pintu warung. Tertulis Soto Kesawan, Mangat That… Nyan Asli…

Keraguan itu muncul karena dua kalimat dalam bahasa Aceh itu. Mangat that yang artinya enak sekali dan nyan asli yang artinya ini yang asli. Sambil senyum kami menuju ke warung. Dalam bayangan kami sebelumnya, soto kesawan itu yang jual adalah orang cina atau jawa bukan berbahasa Aceh. Sekedar informasi aja, diantara kami udah ada kesepakatan sebelumnya kalau udah sampe Medan akan mengurangi makan di rumah makan Aceh. Bukannya mau lari dari adat, tapi rasanya rugi udah sampe ke kota lain gak mencicipi cita rasa daerah setempat.

Menu

Menu yang ada disini adalah soto dengan berbagai macam varian. Ada soto ayam, daging, udang, paru dan jeroan. Kalau gak selera makan soto disini juga ada yang menjual mie Aceh.

Minuman yang tersedia cukup beragam: air putih, teh, kopi, jus atau minuman botolan serta minuman sachet.

Harga

Soto ayam: Rp. 15.000

Soto Campur Udang, Paru, Hati: Rp. 20.000

Berhubung baru sempat mencicipi dua varian itu maka harga yang bisa diberikan hanya untuk dua itu saja. Harga tersebut telah termasuk satu piring nasi. Minuman dan makanan ringan lainnya diluar harga tersebut.

Lokasi

Seperti pengantar ngaco diatas, lokasi soto ini adalah di Jalan Sei Batang Hari nomor 67. Lokasi di Wikimapia bisa dilihat di sini.

Efek Samping

Efek samping dari makan soto disini adalah ngantuk yang amat sangat. Sebagai orang Aceh maka kami langsung bisa menebak asal-usul dari efek samping ini 😀

Iklan

Written by syahmins

September 24, 2012 at 15:16

Lapak Buku Lapangan Merdeka

leave a comment »


Suntuk setelah seminggu bekerja di kantor, ku ajak temanku untuk pergi ke Lapangan Merdeka. Kali ini bukan untuk makan, kami cuma pengen berburu buku. Dia pengen berburu komik sebagai pelepas suntuk sedangkan aku masih juga belum tau apa yang mau dibeli.

Setelah parkir kereta sepeda motor kami langsung bergerak ke kios buku pertama. Isinya buku pelajaran melulu, tak memuaskan hasrat untuk mampir berlama-lama disitu. Nyebrang lorong langsung kami mulai lagi penjelajahan dari satu kios ke kios lainnya. Hampir rata kios-kios yang ada hanya menjual buku-buku pelajaran anak sekolah. Mampir lagi ke kios yang lain, ada satu buku dengan sampul tebal yang bercerita tentang sejarah Orde Baru. Masih kurang menarik, kami lanjutkan lagi hingga satu blok telah kami jelajahi.

Pada umumnya, di blok yang ada di depan kantor pos Medan hanya berisikan buku-buku pelajaran mulai dari SD hingga kamus untuk anak kuliahan. Kondisi buku tersebut juga bervariasi jika kita pintar memilih bukan mustahil akan mendapatkan buku bekas tapi masih sangat layak pakai. Kalau tidak ingin beli buku bekas bisa juga beli buku baru dengan harga miring.

Dari bisik-bisik tetangga diketahui bahwa banyak buku bajakan yang dijual disini. Tapi jangan berpikir buku bajakan tersebut tidak layak pakai. Buku-buku tersebut juga dicetak dengan rapi bahkan juga dibungkus dengan plastik layaknya buku baru di toko buku resmi. Soal harga tentu saja yang versi bajakan akan jauh lebih miring daripada buku resmi.

Setelah jalan kaki (yup, pengunjung cuma boleh naik taf alias tafak alias berjalan kaki) sekitar satu jam, aku mulai mampir dan memegang salah satu buku dari rangkaian Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Rangkaian buku yang bagi para pengagum Pram didapuk sebagai salah satu mahakarya beliau. Bahkan rangkaian buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Seperti yang sudah kuceritakan, buku-buku yang ada disini adalah buku bekas atau buku bajakan. Nah sepertinya buku Tetralogi Buru ini adalah versi bajakan. Bayangkan saja, harga sebuah bukunya adalah Rp. 40.000 saja. Sedangkan di beberapa web aku dapati harganya berkisar di angka Rp. 90.000 perbuku. Malah sebuah situs menjual Rp. 333.000 untuk sepaket lengkap Tetralogi Buru.

Setelah timbang sana-sini akhirnya jatah uang makan keluar juga 🙂

Buku dan uang saling berpindah tangan. Dan kami mulai berjalan lagi.

Di blok kedua mulai banyak kios yang menjajakan buku yang bervariasi. Mulai novel, komik dan majalah bekas. Sang teman akhirnya menemukan komik Donal Bebek di kios pertama di blok kedua ini. Awalnya rada nyesal juga karena terlalu cepat memutuskan untuk beli Tetralogi Buru tapi setelah dipertimbangkan lebih dalam maka penyesalan tidak datang terlambat, bahkan ia tidak datang sama sekali 😀

Masih ada setengah lapangan lagi yang belum kujelajahi. Sekarang saatnya membaca Tetralogi Buru untuk beberapa minggu. Setelah ini habis baru akan berburu lagi.

—————

Lokasi di Wikimapia.

Written by syahmins

September 17, 2012 at 11:47

Menggugat Lambang PMI

leave a comment »


Beberapa hari belakangan ini banyak yang ribut mengenai kunjungan kerja anggota DPR ke Denmark dan Turki. Tujuan mereka berkunjung itu sebenarnya juga bukan hal yang sangat penting, cuma untuk melihat apakah lambang palang merah yang dipakai oleh PMI masih sesuai digunakan di Indonesia ataukah harus diganti dengan lambang bulan sabit merah seperti di Turki.

Alasan mendasar perubahan lambang itu seperti kata anggota Badan Legislasi DPR Honing Sanny adalah “Ada yang mencurigai red cross mewakili kepentingan tertentu, sehingga diganti Bulan Sabit Merah.”

Dari keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan kasar bahwa kalau menggunakan lambang palang merah maka akan terkesan ada gerakan Kristen yang ingin mencampuri urusan kemanusiaan di Indonesia. Hal ini mungkin dikaitkan dengan penggunaan lambang salib dalam agama tersebut. Tapi dia dan juga anggota DPR yang ikut “tur wisata” ke Denmark dan Turki lupa bahwa penggunaan lambang bulan sabit merah juga akan mengesankan bahwa gerakan Islam ingin mencampuri urusan kemanusiaan di Indonesia.

Bukan ingin membela salah satu kelompok, tapi azas yang dianut oleh PMI seperti dituangkan dalam tujuh prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah salah satunya adalah Kenetralan. Bisa dibayangkan jika lambang lembaga ini dikaitkan dengan salah satu kelompok atau aliran tertentu yang ada di Indonesia. Prinsip netral yang dianut akan hilang dan akan timbul kecurigaan antar pengurus. Masing-masing golongan akan merasa lebih superior dari yang lainnya.

Jika masih ngotot untuk mengganti lambang gerakan kemanusiaan ini maka ada baiknya untuk mengganti dengan lambang Kristal Merah (red crystal). Lambang ini telah diakui sebagai salah satu lambang gerakan kemanusiaan dunia oleh ICRC pada tahun 2005. Lambang Kristal Merah akan lebih netral dan dapat berdiri diatas semua golongan. Tapi nantinya perlu dipertegas oleh undang-undang untuk menggunakan hanya satu lambang untuk gerakan kemanusiaan di negara ini. Jangan ada lagi dualisme seperti saat ini dengan adanya Palang Merah Indonesia dan Bulan Sabit Merah Indonesia sehingga prinsip Kesatuan (unity) dan Kesemestaan (universality) akan tercapai.

Trus aku tau darimana kalo ada lambang Kristal Merah? Tanpa perlu ke Denmark atau Turki, aku bisa dapat keterangan lengkap dari Google. Cukup dengan satu klik cerita tentang Kristal Merah terpampang di monitor dan pilihan utama darimana lagi kalau bukan dari ICRC sebagai lembaga kemanusiaan dunia yang mewadahi palang merah, bulan sabit merah serta kristal merah dari seluruh dunia.

Cukup bayar secangkir kopi seharga Rp. 5000 di warung kopi di Aceh dan informasi langsung tersaji :p

Eh tapi kalo pake cara ini nanti gak bisa dapat uang jalan dan plesiran gratis lho 😀 Jadi don’t try this at parliament…. karena bisa bikin mereka kurus sebab tak ada uang sidang dan uang pelesiran 😀

———————

Update:

  1. Tulisan Jusuf Kalla seputar polemik ini di Kompasiana.
  2. Notes dari seorang Facebooker.
  3. Sejarah lengkap asal-usul lambang bulan sabit.

Written by syahmins

September 11, 2012 at 11:43