the Journal

Bahasa Indonesia Kita

leave a comment »


Hari ini baca berita di Detik yang judulnya Bahasa Indonesia Vs Bahasa Inggris di Persimpangan Jalan yang sebenarnya kelanjutan dari berita sebelumnyamengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal ini mengingatkan aku sama rancangan tulisan ini yang terbengkalai lebih dari tiga bulan lamanya😀 Disadari atau tidak, kecenderungan kita untuk menggunakan bahasa asing lebih banyak daripada menggunakan istilah – istilah Bahasa Indonesia. Jangankan berbahasa indonesia yang baku, bahkan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baku juga malas kita gunakan. Gak usah menyalahkan orang lain, aku juga lebih suka nulis beberapa istilah komputer dalam Bahasa Inggris daripada menggunakan istilah baku Bahasa Indonesia. Sebagai pembenaran aku selalu memakai alasan bahwa untuk bahasa teknis itu gak masalah😀 Kalau mau liat lebih jauh lagi, banyak program dan acara pemerintah yang menggunakan Bahasa Inggris daripada menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak hanya pemerintah daerah tapi juga pemerintah pusat ikut terkena tren ini. Lihat saja beberapa program pemerintah berikut ini:

  1. INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprints Identification System)
  2. NTMC (National Traffic Management Center)
  3. e-KTP (electronic KTP)

Selain itu juga dapat dilihat pada berita-berita yang ditayangkan oleh televisi dan radio serta beberapa situs di internet. Parahnya lagi situs tersebut adalah situs resmi dari sebuah kegiatan pemerintah. Coba lihat gambar berikut:

Gambar tersebut diambil dari sebuah halaman di situs resmi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. Ada dua kata yang mencolok mata yaitu venue dan countdown. Ketika mengecek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Pusat Bahasa Kemendiknas, kedua kata tersebut tidak ditemukan. Hal ini mengandung arti bahwa kata-kata tersebut belum diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Kata venue terutama dipopulerkan oleh televisi ketika ada acara olahraga sebagai pengganti kata tempat pertandingan atau stadion. Kata ini kemudian populer hingga menjadi serapan tak resmi dalam media berita kita. Selain dari media pemberitaan, hal lainnya yang membuat rusak gaya berbahasa kita adalah keinginan para pejabat untuk terlihat pintar di mata rakyatnya. Mereka menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing untuk menjelaskan suatu kebijakan pemerintah. Simak saja berita di Tempo ini.

Pada berita itu disebutkan bahwa Presiden SBY menggunakan istilah Bahasa Inggris sebanyak 24 kali dalam 30 menit atau hampir satu istilah permenit. Sekali lagi, memang ada beberapa istilah yang kalau diterjemahkan jadi jaka sembung naik perahu, tapi gak sampe segitunya… Apalagi ini adalah pidato presiden yang pasti disusun dan diperiksa oleh beberapa orang sebelum diserahkan ke Presiden untuk dibaca.

Dilingkungan sekitarku juga ada beberapa orang yang terlalu memaksakan diri untuk menggunakan istilah asing. Beberapa kali hal ini terasa lucu namun setelah berulangkali jadinya eneg. Untuk istilah-istilah yang telah memiliki padanan yang familiar di telinga aku cenderung untuk memakai padanan di dalam Bahasa Indonesia walaupun itu lebih panjang. Tapi untuk beberapa istilah yang masih terasa sukar dicari padanannya atau padanannya masih terasa asing maka aku menggunakan istilah aslinya. Gak konsisten juga😀

Selain padanan bahasa, sering juga kita jumpai singkatan yang terkesan dipaksakan hanya untuk menghemat tempat. Ambil contoh singkatan cabor yang merupakan kependekan dari cabang olah raga. Singkatan ini awalnya kubaca di koran lokal ketika sedang berlangsung Piala AFF tahun lalu. Setelah membaca berita tersebut secara utuh barulah sadar bahwa cabor adalah cabang olah raga.

Dua masalah diatas kayaknya adalah masalah terbesar dalam penggunaan bahasa kita. Tapi rugi juga kalau harus meninggalkan bahasa ini hanya demi mengejar gengsi gak jelas agar kelihatan intelek😀

Written by syahmins

Mei 2, 2012 pada 09:18

Ditulis dalam i s e n g, Jas Merah, Opini, Protes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: