the Journal

Archive for Februari 2012

Blang Padang: Alun-Alun Kota Banda Aceh

with 11 comments


Di bumi kita alun-alun sudah jadi ciri khas kota tradisional. Apalagi untuk kota kabupaten, alun-alun adalah jantung kota. Coba kalian telusuri kota-kota di khatulistiwa ini, pasti yang pertama ditanyakan, “Alun-alun sebelah mana, ya?” Karena di sanalah semua kegiatan terpusat. Mulai dari kantor bupati, kantor pos, bank, mesjid, gereja, dan perkantoran lainnya. Alun-alun juga bisa berfungsi sebagai pusat kebudayaan kota. Setiap hari nasional atau hari besar, alun-alun akan ramai oleh beragam kegiatan. Apalagi Lebaran. Wah, semua orang tumplek ke sana. Lantas kita sholat Ied sambil ngeceng!

– Balada si Roy –

Seperti kutipan novel Balada si Roy, Blang Padang adalah sebuah lapangan yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Lapangan ini dulunya adalah alun-alun kerajaan Aceh Darussalam. Di sini biasanya diadakan latihan baris-berbaris, latihan perang-perangan serta tempat untuk menambatkan gajah kerajaan pada saat itu.

Sebelum tsunami pada tahun 2004, lapangan ini biasanya digunakan warga kota Banda Aceh untuk melakukan kegiatan olah raga seperti joging dan sepak bola selain kegiatan upacara pada hari-hari tertentu. Pada saat itu lapangan masih dalam kondisi apa adanya. Pemeliharaan rutin hanya dilakukan ala kadarnya dengan cara memotong rumput liar yang memanjang.

Pada saat tsunami melanda Banda Aceh, di lapangan ini tengah diadakan acara olah raga mingguan yang rutin diadakan setiap hari minggu pagi. Senam Jantung Sehat dan lari pagi adalah contohnya. Hari itu tempat ini menjadi tempat warga sekitarnya berlari menyelamatkan diri dari kemungkinan bangunan rubuh. Banyak orang yang panik ketika air datang dari beberapa arah sehingga pada saat itu banyak yang meninggal di tempat ini.

Saat ini lapangan Blang Padang masih tetap mempertahankan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau bagi masyarakat kota Banda Aceh. Selain sebagai tempat berolahraga, lapangan ini juga menjadi ajang wisata kuliner khususnya makanan Jawa Barat seperti bubur ayam, siomay dan mie ayam. Tapi jangan mencari makanan berat berupa nasi disini. Kalau cuma sekedar mie dan jajanan ringan bolehlah datang dan duduk disini. Dengan mengusung jajanan ala kaki lima tempat ini layak dipertimbangkan bagi para pemburu kuliner. Murah meriah dengan cita rasa yang lumayan.

Sambil duduk kita bisa menikmati hamparan rumput hijau serta melihat orang yang lalu lalang berolahraga di lapangan. Ini adalah tempat yang tepat untuk sekedar cuci mata dan menghabiskan waktu sambil jajan.

Kita juga bisa berkunjung ke monumen RI – 001 Seulawah yang terletak di salah satu pojok lapangan. Monumen ini sebagai salah satu bentuk penghargaan dan ucapan terima kasih dari pemerintah kepada rakyat Aceh atas bantuan dua buah pesawat ketika zaman mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu kita juga dapat melihat monumen Thanks to the World yang dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada negara-negara yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Ucapan terima kasih ini juga dapat dilihat dari prasasti yang tersebar di sekeliling lapangan di pinggir jogging track. Prasasti ini memuat ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa negara-negara yang terlibat kegiatan tersebut.

Sayangnya tempat ini hanya dibuka dari pagi hingga menjelang maghrib saja. Selepas maghrib tempat ini bagaikan tak ada yang memiliki. Tak ada penerangan yang memadai. Padahal beberapa tahun yang lalu lapangan ini memiliki penerangan yang cukup baik pada malam hari sehingga warga kota dapat duduk menikmati aneka jajanan di dekat monumen RI-001. Mungkin karena kebersihan yang tidak terjaga menjadikan lapangan ini ditutup pada malam hari. Karena gelap inilah beberapa pasangan muda menjadikan tempat ini salah satu tempat favorit untuk pacaran 😀 Padahal jika lampu penerangan dihidupkan lapangan ini bisa jadi tempat alternatif bermain keluarga.

Peralatan listrik tenaga surya bukanlah barang mahal untuk saat ini. Selain menghemat anggaran listrik yang diambil dari masyarakat setiap bulannya,  listrik tenaga surya juga menghemat penggunaan listrik dari PLN sehingga memperkecil defisit listrik pada jam tertentu. Dengan adanya penerangan bertenaga surya, orang-orang yang ingin berolahraga pada malam hari tentunya tidak akan takut dengan masalah keamanan atau tuduhan berkhalwat. Secara otomatis juga akan memperkecil jumlah orang berpacaran pada malam hari. Pacaran ditempat terang tentu tidak semua orang dapat menikmatinya kan 😀 Jangan sampai isu syariat jadi membuat warga kehilangan haknya untuk mendapatkan tempat bersantai yang murah meriah. Jika ada anggaran ada baiknya dipergunakan untuk kemaslahatan warga, daripada hanya dipakai untuk uang sidang dan jalan-jalan pejabat.

Pemko Banda Aceh bisa saja mengutip iuran bagi para pedagang yang berjualan di sekitar atau di dalam lapangan ketika malam serta dari para pengunjung. Uangnya digunakan untuk membayar tenaga kebersihan untuk membersihkan lapangan dari sampah. Selain itu juga dapat dilakukan penyadaran kepada para pedagang untuk membereskan lapak jualan mereka ketika mereka tutup sehingga kerja para tukang sampah tidak terlalu berat kerjanya.

Posisi lapangan ini terletak pada Lat:   5°32’59.95″N Long:  95°18’50.52″E.

Foto-foto bisa diliat disini.

Iklan

Written by syahmins

Februari 29, 2012 at 17:47

ISENG

with one comment


 

Written by syahmins

Februari 20, 2012 at 16:33

Ditulis dalam i s e n g, Kerjaan

Kursus Online Gratis, Mau?

with 3 comments


Bagi beberapa orang kegiatan menambah ilmu dengan cara kursus adalah hal yang sangat istimewa. Waktu dan uang selalu menjadi alasan besar untuk mengelak dari kewajiban menuntut ilmu. Faktor umur dan wajah yang kelihatan tua juga menjadi alasan lainnya yang membuat orang-orang jadi malas belajar.

Pengen sih tapi malu… Sering dengar itu?

Solusi untuk memecahkan rasa ingin tahu tetapi tetap merahasiakan umur adalah dengan mencari ilmu secara online (daring – dalam jaringan). Banyak universitas terkenal berlevel internasional membuka kelas-kelas kursus untuk orang-orang yang ingin menambah ilmu mereka tapi terkendala oleh jarak, waktu dan biaya. Kelas-kelas tersebut berupaya memecahkan semua masalah itu dengan menggunakan internet dan yang lebih hebatnya lagi semua kursus itu diberikan GRATIS 100%.

Berikut ini adalah beberapa kursus gratis yang dapat diikuti secara online, anda hanya bermodalkan Bahasa Inggris dan koneksi Internet untuk dapat mengikuti kursus ini.

  1. Microsoft Virtual Academy berisikan training yang berkaitan dengan teknologi dari Microsoft. Anda harus memiliki akun Windows Live untuk dapat masuk ke website ini.
  2. MIT Open Course Ware. Training untuk bidang sains dan beberapa ilmu sosial.
  3. World Bank Institute.
  4. e-Learning Center.

Untuk daftar lain bisa coba lihat di sini.

Written by syahmins

Februari 15, 2012 at 18:03

Sabil: Prahara di Bumi Rencong

with 3 comments


Sabil adalah sebuah novel yang mengikuti tren baru pernovelan di Indonesia. Mengambil latar belakang sejarah Perang Aceh yang legendaris, novel ini berusaha membangkitkan romantisme jihad perang untuk mempertahankan negara. Novel ini adalah bagian pertama dari dwilogi yang ditujukan untuk menceritakan keperkasaan Cut Nyak Dhien, seorang panglima perang wanita yang berhasil membuat Belanda kocar-kacir pada rentang awal perang Aceh.

Pada awalnya gak ada harapan tertentu ketika memegang buku ini. Cuma berharap buku ini bisa menemani duduk bertapa di pos jaga malam. Apa sih yang bisa diceritakan oleh anak muda saat ini tentang kengerian perang legendaris itu? Apalagi ini cuma novel. Pasti ringan dan banyak berbelok ke hal-hal yang gak relevan. Itu beberapa hal yang melintas dipikiran ketika mengajak novel ini pulang dari tempat penyewaan buku.

Novel setebal sekitar 700 halaman ini habis sekitar 300 halaman sekali duduk di pos ronda 😀

Tokoh utama di novel ini adalah Teuku Nanta Seutia, seorang panglima perang Kerajaan Aceh dan juga ayah dari Cut Nyak Dhien. Beberapa bumbu penyedap diselipkan dengan manis seperti perebutan takhta kerajaan, jilat-menjilat antar pejabat dengan atasan serta hasut-menghasut. Diselipkan juga mengenai beberapa diplomasi yang dilakukan Aceh ke Singapura untuk melobi duta besar Inggris, Amerika dan beberapa negara lain. Pengiriman utusan kerajaan ke Turki untuk meminta bantuan ke Khalifah saat itu juga dibeberkan walaupun tidak detail. Cerita mulai seru setelah lewat dari halaman 300. Aceh yang sedang bersiap menghadapi perang dengan Belanda, tekanan yang dirasakan di Dalam dan juga di seluruh wilayah kerajaan diceritakan dengan apik.

Epic dari novel ini adalah Perang Aceh tahap pertama yang meletus dengan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler. Diceritakan bagaimana pejuang Aceh bertahan dan menangis ketika melihat mesjid kebanggaan mereka hancur, juga diceritakan bagaimana marahnya para pejabat Belanda di Batavia dan Den Haag ketika menerima kabar kekalahan itu.

Walaupun begitu ada beberapa kesalahan pengejaan yang mungkin agak mengganggu untuk orang Aceh sendiri seperti misalnya penulisan Lueng Bata yang menjadi Longbata atau geuchik menjadi keucik. Mungkin bentuk penulisan seperti itu dilakukan untuk  mempermudah para pembaca non Aceh walaupun bagi mereka yang mengerti bahasa Aceh akan menjadi terasa janggal.

Dengan mengabaikan beberapa hal seperti kesalahan pengejaan, novel ini layak untuk dibaca dengan didampingi beberapa buku sejarah jika ingin mengetahui sejarah Perang Aceh dan Cut Nyak Dhien itu sendiri. Bagaimanapun perang ini adalah perang terpanjang di dunia dalam mempertahankan kemerdekaan suatu bangsa. Sejarah juga mencatat Perang Aceh adalah yang terbanyak memakan korban baik nyawa maupun harta dalam upaya menggagalkan niat Belanda mencaplok wilayah ini.

Bacaan lebih lanjut:

  1. Wikipedia: Perang Aceh
  2. Wikipedia: Cut Nyak Dhien
  3. Peran Tengku Arifin dalam Perang Aceh: agen ganda dalam diplomasi

Gambar cover buku diambil dari bukabuku.com

Written by syahmins

Februari 3, 2012 at 15:48