the Journal

(Museum) Hotel Aceh

with one comment


Generasi muda Aceh yang lahir tahun 1990 ke atas hampir dapat dipastikan tidak pernah mendengar nama Hotel Aceh ditelinga mereka. Nama hotel ini asing bagi sebagian besar kaum muda Aceh padahal di hotel ini telah terjadi sebuah peristiwa sejarah yang menjadi titik tolak bersatunya Aceh dengan Republik Indonesia serta menjadi salah satu alasan timbulnya pemberontakan Daud Beureueh yang makamnya sekarang seolah tak dipedulikan orang di Beureunun.

Tercatat bahwa pada tahun 1948, Soekarno yang ketika itu menjabat sebagai presiden pertama Republik ini melakukan kunjungan kerja ke daerah Aceh dengan didampingi oleh Muhammad Natsir. Kunjungan kerja itu antara lain untuk bertemu dengan para pemuka Aceh termasuk di dalamnya Daud Beureueh. Pada kesempatan itu, Presiden mengeluhkan tentang keadaan Republik yang sedang kekurangan modal perjuangan. Salah satu ruangan di Hotel Aceh menjadi saksi ketika Presiden memohon bantuan dari para saudagar Aceh yang ikut dalam pertemuan tersebut yang berhasil mengumpulkan dana untuk membeli sebuah pesawat yang kelak bernama RI-001 dan janji untuk membelikan sebuah pesawat lain yang kelak diberi nama RI-002. Peristiwa lain yang juga terjadi di Hotel Aceh adalah sebuah peristiwa fenomenal ketika Presiden Soekarno menangis ketika Daud Beureueh tidak percaya bahwa Indonesia akan berdiri berdasarkan hukum Islam. Rakyat Aceh dari seluruh pelosok berbondong-bondong memberikan harta mereka demi berjalannya roda kegiatan Republik ketika itu. Jumlah seratus rupiah kala itu sangatlah besar. Sebagai gambaran, pada saat itu dengan uang 150 rupiah kita dapat membeli seekor sapi dewasa.

Kejadian-kejadian bersejarah itu saat ini mulai terlupakan ditengah hiruk pikuknya kehidupan kota Banda Aceh yang sedang berbenah dan mempercantik diri. Hotel Aceh yang telah habis terbakar sekitar 10 tahun yang lalu kini menjadi sebuah hamparan tanah kosong di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Pada awal setelah kejadian kebakaran tersebut, sebuah jaringan hotel besar ingin membangun sebuah hotel berskala internasional. Nama Novotel Aceh sudah santer terdengar di penjuru kota, tapi entah mengapa hingga sekarang patok-patok yang telah ditanam tak jua mewujud menjadi sebuah hotel.

Aku masih teringat dengan sebuah kenangan masa kecil. Ketika itu aku sering diajak oleh kakek untuk ikut shalat Subuh di Mesjid Raya, setelah selesai shalat biasanya kami berjalan kaki mengelilingi lapangan Blang Padang untuk kemudian mampir di beranda Hotel Aceh untuk sarapan nasi gurih. Kenangan lain hotel itu adalah ketika aku bermain dengan beberapa teman di paviliun belakang yang sering kebanjiran ketika hujan atau tertutup debu dan daun asam jawa ketika kemarau. Aku yakin banyak kenangan warga kota Banda Aceh terkait dengan Hotel Aceh ini.

Sebuah prasasti bertuliskan “Di lokasi ini pernah bediri Hotel Aceh tempat Presiden Soekarno singgah dalam undangannya ke Aceh pada Juni 1948. Di hotel inilah Soekarno sambil menangis tatkala meminta rakyat Aceh untuk membantu membeli pesawat guna kepentingan diplomatik Indonesia. Kedua pesawat sumbangan rakyat Aceh kemudian diberi nama Seulawah 01 dan Seulawah 02.” dalam bahasa Aceh, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kini menjadi saksi bisu tentang keberadaan Hotel ini.

Untuk mengenang sejarah yang kini mulai terlupakan itu, alangkah baiknya jika pemerintah daerah kembali membangun Hotel Aceh dalam bentuk aslinya dan kemudian menjadikannya sebuah situs sejarah bagi rakyat Aceh dan Indonesia. Sebuah situs sejarah yang akan terus mengingatkan kita bahwa Aceh berperan besar dalam mempertahankan Republik ini. Juga sebuah sejarah bahwa Aceh adalah penyumbang dua buah pesawat sebagai cikal bakal Garuda Indonesia. Situs sejarah tersebut dapat memuat foto-foto dan diorama kejadian pada masa itu, yang aku yakin beberapa orang tua di Aceh masih menyimpannya dan akan memberikan dokumentasi tersebut secara sukarela.

Semoga ini dapat terwujud sehingga peran serta Aceh dalam perjuangan mempertahankan Republik tidak akan dianggap cerita omong kosong bagi para generasi mendatang.

Sumber Gambar:

  1. Kuitansi diambil dari sini
  2. Gambar depan Hotel Aceh diambil dari sini.
  3. Gambar kondisi Hotel Aceh saat ini diambil dari sini.

Written by syahmins

Oktober 12, 2011 pada 21:26

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. benar setidaknya replika bisa kembali menguatkan nilai sejarah yg pernah ada, seperti lubang buaya, dorama PKI, dan lain-lain ini jadi salah satu aset bagi pemerintah dalam menjawab tantangan untuk nilai sejarah dan pariwisata tentunya

    Aulia

    Maret 1, 2012 at 00:15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: