the Journal

Beureunun – Tempat Peristirahatan Pejuang Yang Memberontak

with one comment


Beureunun adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil dari kota Sigli. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kota kecil ini yang pantas untuk disinggahi. Tidak ada makanan khas daerah yang membuat daerah ini jadi tempat persinggahan bagi para pelintas jalan Banda Aceh – Medan.

Tapi dari semua ketidakistimewaan yang ada di kota ini, sebenarnya ada satu keistimewaan yang tersembunyi di dalam komplek mesjid Beureunun dan jarang diketahui oleh masyarakat yang lalu lalang di jalan lintas Banda Aceh – Medan. Sebuah situs sejarah Indonesia yang terlupakan itu berupa sebuah makam yang terletak di sebelah barat mesjid tersebut.

 

 

Makam yang sekilas tidak ada istimewanya itu justru sebenarnya merupakan sebuah makam yang amat sangat istimewa bagi orang-orang yang mengikuti perkembangan sejarah Aceh dan Indonesia pasca kemerdekaan. Sebuah nama yang kerap disandingkan sebagai pahlawan dan pengkhianat negara melekat erat pada sosok yang jasadnya terbujur disini.

Muhammad Daud Beureueh, seorang gubernur militer pertama yang diangkat dari golongan sipil dan diberikan pangkat mayor jenderal tituler oleh pemerintahan Soekarno pada saat itu. Sejarah mencatat ketika Soekarno datang ke daerah Aceh untuk mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia, Daud Beureueh ketika itu termasuk salah seorang yang menyambut sang Presiden dan menjamunya di Hotel Aceh yang terletak di depan Masjid Raya Baiturrahman – Banda Aceh. Dari hasil kunjungan Soekarno ke Aceh dan hasil “merajuk” dengan Daud Beureueh maka Indonesia mendapatkan dua buah pesawat yang dibeli dari uang yang dikumpulkan oleh rakyat Aceh. Kedua pesawat itulah yang dikenal dengan RI-001 Seulawah Agam dan RI-002 Seulawah Inong dan menjadi cikal bakal Garuda Indonesia saat ini. Catatan lain yang sering tercecer adalah komitmen dari Daud Beureueh untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mengirimkan laskar pejuang ke pertempuran Medan Area.

Sejarah juga mencatat bahwa ketika itu presiden Soekarno mengumbar janji manis untuk memberikan status istimewa kepada Aceh untuk menjalankan syariat Islam sehingga semua hal diatas menjadi mungkin. Pesawat dan pejuang mengalir untuk Indonesia. Sebuah ironi ketika janji tersebut dilanggar dan ditagih tetapi tidak dikabulkan, maka Daud Beureueh mengambil inisiatif untuk naik ke gunung dan berjuang dengan cara militer untuk mendapatkan keinginan rakyat saat itu: daerah dengan syariat Islam yang berlaku di dalamnya. DI/TII Aceh diproklamirkan dan digaungkan ke seluruh dunia.

Julukan pengkhianat negara serta merta disematkan kepadanya. Semua jasa yang pernah ditorehkan serasa hilang seperti embun pagi yang terkena matahari. Jadilah ia seorang pengkhianat dan dikucilkan bahkan lama setelah ia turun gunung. Orde Baru juga mengambil peran dengan asumsi ketakutan akan kekalahan Golkar sebagai motor pemerintah saat itu sehingga memaksa Daud Beureueh untuk ikut ke Jakarta. Ia dikucilkan dari rakyatnya dan dijauhi dari para pengikutnya hingga akhir hayatnya.

Pemakaman seorang gubernur militer dan pejabat negara tak pernah sesunyi seperti ketika pemakaman Daud Beureueh pada tahun 1997. Hanya keluarga dan kerabat dekatnya yang hadir pada saat itu. Mengutip pernyataan R. William Liddle seorang pengamat politik yang hadir pada saat itu, meninggalnya Teungku Abu Daud Beureueh adalah “meninggalnya seorang suami dan ayah yang dicintai, seorang alim yang disegani, dan seorang pemimpin masyarakat sekitar yang dihormati. Tidak lebih dari itu.”

Maka tak salah bila kukatakan bila tempat ini jarang diketahui oleh generasi muda Aceh dan Indonesia saat ini.



 

Sumber:

  1. Wikipedia Indonesia: Daud Beureu’eh
  2. Wikipedia Bahasa Inggris: Daud Bereueh
  3. Media Isnet: Teungku Muhammad Daud Beureueh Bapak Darul Islam dan Bapak Orang-orang Aceh
Foto hasil jepretan sendiri.

Written by syahmins

Oktober 3, 2011 pada 15:23

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] perjuangannya Daud Beureueh sang Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo yang dikuburkan di Beureunun, tetapi rupanya persepsiku salah. Buku itu bukan hanya sebuah buku sejarah tapi sebuah novel […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: