the Journal

Muhammad – Para Pengeja Hujan

with 2 comments


Buku ini adalah kelanjutan dari buku pertama yang berjudul Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang telah dibahas dipostingan yang ini.

Seperti yang mungkin dirasakan oleh banyak pembaca novel biografi bagian pertama, saya juga penasaran dengan struktur buku pertama yang kisahnya langsung melompat ke bagian ketika Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya. Pertanyaan yang berputar di otak saya kala itu adalah kenapa ceritanya lompat dan gak runut dari kecil hingga dewasa? Mana nih cerita masa kecilnya?

Pertanyaan itu terjawab di novel kedua yang berkisah mulai dari kelahiran seorang anak yatim dan perjuangan ibunya untuk mendapatkan seorang ibu susuan untuk anaknya. Penggambaran karakter dan suasana perkampungan Badui tempat Muhammad kecil bermain dengan para saudara sesusuannya juga digambarkan dengan sangat baik walaupun itu hanya dialog dan suasana fiksi yang diciptakan pengarang.

Pada bagian kedua ini porsi cerita mengenai Muhammad SAW. mendapatkan porsi yang lebih besar daripada kisah petualangan Kashva dalam mencari Maitreya dan Astvat-ereta. Lebih dari setengah buku ini menceritakan tentang kehidupan sang Nabi dan para sahabatnya, mulai dari kisah kelahiran, hijrah dan meninggalnya dikisahkan dengan enak dan mengalir.

Pembaca akan mendapatkan kejelasan mengenai nasib Mashya dan Xerxes juga mendapatkan ending yang menarik dari kisah Kashva yang ternyata menulis sendiri semua surat dari sahabat-sahabatnya.

Ketegangan di balai Tsaqifah ketika jenazah Lelaki Penggenggam Hujan belum dikuburkan juga dikisahkan dengan baik. Sampai disini semuanya masih oke dan berjalan sesuai dengan ingatan-ingatan dari bacaan mengenai Muhammad yang pernah aku baca.

Cerita melompat kebagian ketika Abu Bakar dibaiat secara umum, di buku ini dikisahkan kalau Ali ngotot untuk mempertahankan jabatan khalifah hanya untuk ahlul bait dan tidak akan menyerahkannya kepada orang lain. Kening mulai berkerut. Karena penasaran membacapun dilanjutkan hingga ke kisah Fatimah yang kesal kepada Abu Bakar karena tidak mendapatkan hak warisnya berupa kebun. Hadis yang menyatakan keutamaan Fatimah digelar dan dikemukakan beberapa kali sehingga terkesan Fatimah begitu keras kepala dan ingin sekali mendapatkan warisan dari ayahnya sementara Abu Bakar tetap berpegang pada hadis yang menyatakan bahwa para Nabi tidak memberikan warisan apapun kepada keluarganya.

Cerita dilanjutkan dengan kisah peperangan di untuk mengalahkan Romawi dan Persia yang berhasil ditangani dengan gemilang oleh pasukan Islam. Novel ini ditutup dengan apik pada kisah mengenai kerisauan Umar bin Khattab sebagai penerus kekhalifahan.

Membaca novel kedua ini memaksaku untuk membuka kembali sebuah buku yang sudah lama teronggok di lemari. Buku berjudul Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal versi terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan tahun 1995 segera aku buka untuk mencocokkan detail cerita mengenai perseteruan antara Fatimah dan Ali bin Abu Thalib melawan Abu Bakar untuk mendapatkan hak warisan dan jabatan khalifah. Buku tersebut menjelaskan mengenai keraguan cerita tersebut dari sisi sejarawan dan indikasi adanya penyusupan cerita tersebut dari kalangan yang tidak senang dengan kemajuan Islam pasca kemenangan atas Romawi dan Persia. Penjelasan tersebut menjawab keingintahuanku mengenai kebenaran cerita perseteruan itu.

Kali ini aku sangat merekomendasikan membaca novel Muhammad – Para Pengeja Tuhan didampingi dengan buku Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal untuk mendapatkan gambaran yang (lumayan) utuh mengenai kisah perseteruan antara ahlul bait dan Abu Bakar. Jika tidak memiliki buku tersebut sangat disarankan untuk bertanya kepada orang yang mengerti sejarah Islam mengenai hal tersebut, karena dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi yang salah seperti Abu Bakar yang mengkudeta Ali untuk memperoleh jabatan khalifah atau Abu Bakar yang ingin menyita kebun warisan Nabi kepada Fatimah. Pengecekan itu akan membawa kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Written by syahmins

September 29, 2011 pada 12:45

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. isssss..mantap..udah baca kan bukunya. boleh dipinjam lah yaaa. apa mau tukaran?🙂

    anothersideofme

    Oktober 31, 2011 at 10:16

    • aku nyewa bukan beli😀

      kalo mau beli sedang ada pesta buku tuh di gedung sosial, lumayan juga diskonnya.

      syahmins

      Oktober 31, 2011 at 14:49


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: