the Journal

Ranah 3 Warna

with 2 comments


Novel ini menjadi novel utama pilihan untuk menemani libur lebaran yang lalu selain novel Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang udah dibahas dipostingan yang lalu.

Novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara sudah selesai dibaca beberapa bulan yang lalu. Hasil dari pinjam ke teman istriku😀 Novel pertama aku baca dengan malas-malasan, aku udah bosan dengan novel-novel islami yang cenderung terlalu banyak mengumbar bahasa arab pada tempat-tempat yang gak perlu. Terlalu banyak memakai istilah ikhwan dan akhwat yang gak pada tempatnya. Terlalu banyak novel islami yang bernada (sok) menggurui. Pokoknya aku udah gak merasa cocok untuk membaca novel islami.

Tapi novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara mengubah pandanganku. Jalan ceritanya yang ringan membuat novel ini gak terasa menggurui untukku. Beberapa kejadian lucu sanggup membuatku tersenyum. Gaya lugu anak kampung yang kemudian bertransformasi menjadi santri di Pesantren Madani membuat aku penasaran untuk melanjutkan membaca seri kedua buku tersebut: Ranah 3 Warna.

Kembali ke awal postingan, buku ini aku sewa bersama dengan novel yang satunya lagi untuk mengisi libur lebaran yang berlangsung seminggu lamanya. Karena sudah membaca buku pertama maka aku langsung melancarkan serangan ke halaman pertama buat mengikuti sepak terjang Alif yang masih ngotot ingin kuliah di Bandung. Awalnya ingin mengikuti jejak Habibie sang legenda teknologi Indonesia tetapi apa daya, hasil ujian persamaan yang dia ikuti tidak mencukupi dan membuatnya “tobat” untuk melanjutkan kuliah di bidang ilmu pasti sehingga ia merubah arah dengan masuk ke jurusan Hubungan Internasional dengan harapan dapat bekerja di luar negeri.

Novel ini bercerita tentang perjuangan Alif selepas dari Pesantren Madani. Perjuangannya untuk lulus ujian persamaan SMA, perjuangannya untuk lulus UMPTN dan perjuangannya untuk hidup di Bandung dengan berjualan dari pintu ke pintu.

Membaca novel ini kita dibawa untuk merasakan adrenalin yang mengalir ketika ujian demi ujian berlangsung, merasakan kepedihan Alif ketika hasil dagangannya dirampok serta keterpurukannya karena sakit, meninggalnya sang ayah dan pertengkaran dengan sahabat kecilnya. Novel ini juga membawa kita merasakan kebahagiaan Alif ketika lulus ke Kanada dan kegamangan dan kekecewaannya ketika harus “nembak” cewek yang ditaksirnya yang ternyata udah didahului oleh sahabat karib kecilnya😀

Novel yang seru dan banyak pelajaran tanpa kesan menggurui.

Tanpa sadar novel ini selesai dalam satu hari😀

Gambar diambil tanpa minta izin dari sini.

Written by syahmins

September 21, 2011 pada 10:08

Ditulis dalam Bacaan

Tagged with ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah, kalau bisa siap dalam satu hari, berarti gaya bahasa novel itu demikian mengalir dan memikat.
    Ok, jadi pilihan bacaanku berikutnya.
    Terima kasih sharingnya bang.

    HeruLS

    September 22, 2011 at 11:15

    • sama-sama bro.

      kalo soal gaya bahasa mungkin itu tergantung selera pembaca, kalo untuk kasus yang ini bisa selesai dalam satu hari karena kombinasi antara penasaran dengan lanjutan cerita novel pertamanya dan juga kurang kerjaan di rumah waktu mudik😀

      syahmins

      September 23, 2011 at 09:55


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: