the Journal

Archive for September 2011

Muhammad – Para Pengeja Hujan

with 2 comments


Buku ini adalah kelanjutan dari buku pertama yang berjudul Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang telah dibahas dipostingan yang ini.

Seperti yang mungkin dirasakan oleh banyak pembaca novel biografi bagian pertama, saya juga penasaran dengan struktur buku pertama yang kisahnya langsung melompat ke bagian ketika Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya. Pertanyaan yang berputar di otak saya kala itu adalah kenapa ceritanya lompat dan gak runut dari kecil hingga dewasa? Mana nih cerita masa kecilnya?

Pertanyaan itu terjawab di novel kedua yang berkisah mulai dari kelahiran seorang anak yatim dan perjuangan ibunya untuk mendapatkan seorang ibu susuan untuk anaknya. Penggambaran karakter dan suasana perkampungan Badui tempat Muhammad kecil bermain dengan para saudara sesusuannya juga digambarkan dengan sangat baik walaupun itu hanya dialog dan suasana fiksi yang diciptakan pengarang.

Pada bagian kedua ini porsi cerita mengenai Muhammad SAW. mendapatkan porsi yang lebih besar daripada kisah petualangan Kashva dalam mencari Maitreya dan Astvat-ereta. Lebih dari setengah buku ini menceritakan tentang kehidupan sang Nabi dan para sahabatnya, mulai dari kisah kelahiran, hijrah dan meninggalnya dikisahkan dengan enak dan mengalir.

Pembaca akan mendapatkan kejelasan mengenai nasib Mashya dan Xerxes juga mendapatkan ending yang menarik dari kisah Kashva yang ternyata menulis sendiri semua surat dari sahabat-sahabatnya.

Ketegangan di balai Tsaqifah ketika jenazah Lelaki Penggenggam Hujan belum dikuburkan juga dikisahkan dengan baik. Sampai disini semuanya masih oke dan berjalan sesuai dengan ingatan-ingatan dari bacaan mengenai Muhammad yang pernah aku baca.

Cerita melompat kebagian ketika Abu Bakar dibaiat secara umum, di buku ini dikisahkan kalau Ali ngotot untuk mempertahankan jabatan khalifah hanya untuk ahlul bait dan tidak akan menyerahkannya kepada orang lain. Kening mulai berkerut. Karena penasaran membacapun dilanjutkan hingga ke kisah Fatimah yang kesal kepada Abu Bakar karena tidak mendapatkan hak warisnya berupa kebun. Hadis yang menyatakan keutamaan Fatimah digelar dan dikemukakan beberapa kali sehingga terkesan Fatimah begitu keras kepala dan ingin sekali mendapatkan warisan dari ayahnya sementara Abu Bakar tetap berpegang pada hadis yang menyatakan bahwa para Nabi tidak memberikan warisan apapun kepada keluarganya.

Cerita dilanjutkan dengan kisah peperangan di untuk mengalahkan Romawi dan Persia yang berhasil ditangani dengan gemilang oleh pasukan Islam. Novel ini ditutup dengan apik pada kisah mengenai kerisauan Umar bin Khattab sebagai penerus kekhalifahan.

Membaca novel kedua ini memaksaku untuk membuka kembali sebuah buku yang sudah lama teronggok di lemari. Buku berjudul Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal versi terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan tahun 1995 segera aku buka untuk mencocokkan detail cerita mengenai perseteruan antara Fatimah dan Ali bin Abu Thalib melawan Abu Bakar untuk mendapatkan hak warisan dan jabatan khalifah. Buku tersebut menjelaskan mengenai keraguan cerita tersebut dari sisi sejarawan dan indikasi adanya penyusupan cerita tersebut dari kalangan yang tidak senang dengan kemajuan Islam pasca kemenangan atas Romawi dan Persia. Penjelasan tersebut menjawab keingintahuanku mengenai kebenaran cerita perseteruan itu.

Kali ini aku sangat merekomendasikan membaca novel Muhammad – Para Pengeja Tuhan didampingi dengan buku Abu Bakar As Shiddiq karangan Muhammad Husain Haekal untuk mendapatkan gambaran yang (lumayan) utuh mengenai kisah perseteruan antara ahlul bait dan Abu Bakar. Jika tidak memiliki buku tersebut sangat disarankan untuk bertanya kepada orang yang mengerti sejarah Islam mengenai hal tersebut, karena dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi yang salah seperti Abu Bakar yang mengkudeta Ali untuk memperoleh jabatan khalifah atau Abu Bakar yang ingin menyita kebun warisan Nabi kepada Fatimah. Pengecekan itu akan membawa kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Written by syahmins

September 29, 2011 at 12:45

Ranah 3 Warna

with 2 comments


Novel ini menjadi novel utama pilihan untuk menemani libur lebaran yang lalu selain novel Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan yang udah dibahas dipostingan yang lalu.

Novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara sudah selesai dibaca beberapa bulan yang lalu. Hasil dari pinjam ke teman istriku 😀 Novel pertama aku baca dengan malas-malasan, aku udah bosan dengan novel-novel islami yang cenderung terlalu banyak mengumbar bahasa arab pada tempat-tempat yang gak perlu. Terlalu banyak memakai istilah ikhwan dan akhwat yang gak pada tempatnya. Terlalu banyak novel islami yang bernada (sok) menggurui. Pokoknya aku udah gak merasa cocok untuk membaca novel islami.

Tapi novel pertama yang berjudul Negeri 5 Menara mengubah pandanganku. Jalan ceritanya yang ringan membuat novel ini gak terasa menggurui untukku. Beberapa kejadian lucu sanggup membuatku tersenyum. Gaya lugu anak kampung yang kemudian bertransformasi menjadi santri di Pesantren Madani membuat aku penasaran untuk melanjutkan membaca seri kedua buku tersebut: Ranah 3 Warna.

Kembali ke awal postingan, buku ini aku sewa bersama dengan novel yang satunya lagi untuk mengisi libur lebaran yang berlangsung seminggu lamanya. Karena sudah membaca buku pertama maka aku langsung melancarkan serangan ke halaman pertama buat mengikuti sepak terjang Alif yang masih ngotot ingin kuliah di Bandung. Awalnya ingin mengikuti jejak Habibie sang legenda teknologi Indonesia tetapi apa daya, hasil ujian persamaan yang dia ikuti tidak mencukupi dan membuatnya “tobat” untuk melanjutkan kuliah di bidang ilmu pasti sehingga ia merubah arah dengan masuk ke jurusan Hubungan Internasional dengan harapan dapat bekerja di luar negeri.

Novel ini bercerita tentang perjuangan Alif selepas dari Pesantren Madani. Perjuangannya untuk lulus ujian persamaan SMA, perjuangannya untuk lulus UMPTN dan perjuangannya untuk hidup di Bandung dengan berjualan dari pintu ke pintu.

Membaca novel ini kita dibawa untuk merasakan adrenalin yang mengalir ketika ujian demi ujian berlangsung, merasakan kepedihan Alif ketika hasil dagangannya dirampok serta keterpurukannya karena sakit, meninggalnya sang ayah dan pertengkaran dengan sahabat kecilnya. Novel ini juga membawa kita merasakan kebahagiaan Alif ketika lulus ke Kanada dan kegamangan dan kekecewaannya ketika harus “nembak” cewek yang ditaksirnya yang ternyata udah didahului oleh sahabat karib kecilnya 😀

Novel yang seru dan banyak pelajaran tanpa kesan menggurui.

Tanpa sadar novel ini selesai dalam satu hari 😀

Gambar diambil tanpa minta izin dari sini.

Written by syahmins

September 21, 2011 at 10:08

Ditulis dalam Bacaan

Tagged with ,

Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan

with 2 comments


Awalnya iseng nyari buku di tempat penyewaan novel dan komik langganan. Biasalah… buat bunuh waktu mengisi libur lebaran yang lumayan panjang. Setelah lama menjelajah rak demi rak yang ada maka pilihan terpegang pada dua novel, Ranah 3 Warna dan Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan.

Awalnya gak begitu tertarik sama novel ini, selain nama pengarangnya yang berbau Jepang trus waktu liat foto pengarangnya juga agak aneh dengan kepala botak dan lagi-lagi penampilan ala pelajar Jepang membuat agak ragu untuk mengambil novel yang tebalnya lebih dari 500 halaman ini.

Baca referensi di belakang juga tidak menghilangkan keraguan. Cerita tentang Muhammad bin Abdullah sang Rasul dari tanah Arab. Setelah sekian banyak buku yang nulis tentang Beliau apalagi sih yang bisa didapat dari novel ini, paling juga cuma mengulang hal – hal yang memang sudah banyak diketahui umum. Pikiran itu terus berputar dan berlari keluar masuk bahkan ketika aku membayar biaya sewa novelnya.

Sampai di rumah buku itu juga gak langsung kubaca. Sengaja kusimpan dulu karena minatku yang tidak begitu besar terhadap buku itu. Setelah dua hari dan tidak ada kegiatan lain maka mulailah membaca buku yang tebalnya saingan dengan serial Harry Potter 😀

Bab pertama bercerita tentang Kashva, sang Pemindai Surga. Bercerita tentang pencarian yang dilakukannya bersama dengan seorang tua, pelayan di kuil tempat ia tinggal. Pencarian Himada, Astvat-ereta dan Maitreya yang melibatkan ahli agama Zoroaster di Persia, seorang ahli agama Kristen dari Suriah dan ahli agama Budha dari Tibet. Mengkaji banyak ayat dari kitab – kitab suci ketiga agama membuat aku jadi tertarik.

Cerita kemudian diselingi dengan memasuki ranah cerita Muhammad SAW. seorang lelaki yang menerima wahyu di sebuah gua di bukit pinggiran kota Mekah. Cara bercerita yang tidak menggurui dan penuh dengan detail yang tidak bisa (tidak mau?) ditulis oleh penulis lain menjadikan cerita tentang lelaki yang “diganggu” ketika sedang menyepi itu menjadi mengalir. Detail sejarah bercampur dengan percakapan imajiner mengenai bagaimana Muhammad berlari dengan gemetaran – hingga kakinya lecet – dari gua menuju ke rumahnya dan disambut oleh sang istri.

Bagian – bagian selanjutnya berlari kencang, potongan kejadian silih berganti antara kehidupan di tanah arab pada satu sisi dan kejadian di daerah tetangganya – Persia – pada sisi yang lain. Pertempuran antara Kashva dan Mashya saling berebut tempat di alam imajinasi dengan pertempuran Badar dan Uhud yang sedang berlangsung. Kegembiraan karena pertemuan antara Kashva dan kekasih lamanya Astu juga berbagi tempat dengan kegembiraan atas berimannya Umar bin Khattab.

Dengan cara bercerita sebagai orang kedua, novel ini memberikan warna lain untuk mempelajari kehidupan Muhammad bin Abdullah di awal kehidupan kenabiannya. Untuk pemula mungkin ini bisa jadi bacaan yang sedikit berat jika mereka tidak suka untuk mempelajari agama – agama lain yang “dicampur” dengan apik. Sedangkan untuk orang – orang yang sudah pernah baca biografi Muhammad SAW. sebelumnya dalam format yang lebih berat maka kita akan sibuk mencocokkan detail yang sudah kita ketahui sebelumnya dengan novel ini.

Bagaimanapun ini adalah sebuah terobosan baru tentang cara belajar sejarah yang menyenangkan terutama sejarah Islam yang mulai banyak ditinggalkan oleh orang-orang saat ini.

Gambar diambil tanpa izin dari sini.

Written by syahmins

September 12, 2011 at 09:32

Sekolah Itu Untuk Apa?

leave a comment »


id-Gmail (Milis Sarap)

Sekolah itu untuk belajar cara mengatasi para penggertak dan mengenal cara bersosialisasi

Sekolah itu untuk membuka hubungan dengan teman atau (calon) pacar

Sekolah itu bukan untuk ijazah

Gak penting nilainya berapa yang terpenting adalah pemahaman terhadap suatu materi.

Three Idiots (Film India)

Sekolah itu untuk memperoleh kebahagiaan belajar

Yang terpenting adalah kebahagiaan untuk belajar sesuai dengan minat bukan menuruti apa kemauan orang lain

Kenyataan Lapangan

Sekolah untuk mendapatkan nilai yang bagus

Sekolah untuk mendapatkan ijazah

Sekolah untuk bekal cari kerja

 

Written by syahmins

September 6, 2011 at 16:07

Ditulis dalam Opini

Tagged with ,