the Journal

Berjuang Sampai Akhir – Potret Kehidupan Veteran RI

leave a comment »


Semalam iseng ganti-ganti channel tivi di rumah sampe tiba-tiba liat ada nenek-nenek pake baju veteran sedang diwawancara di TVRI. Wah acara menarik nih untuk memuaskan nafsu mengenai sejarah bangsa ini. Lupa dah sama film “Cat Woman” yang sedang tayang di salah satu tivi swasta.

Jadi singkatnya acara ini (dinamai dengan “Suara Liyan“) mengangkat kehidupan rakyat yang terpinggirkan dan cenderung tidak dianggap selama ini oleh kita semua. Episode semalam mengangkat tema “Berjuang Sampai Akhir” yang selama ini cenderung tidak dianggap ada oleh para pejabat. Mereka hanya menjadi wujud nyata ketika tanggal 17 Agustus untuk meramaikan upacara di Istana Merdeka atau di tempat-tempat lain yang mengingat mereka, selain itu mungkin tanggal 10 November adalah tanggal yang juga akan menampilkan mereka kembali ke hadapan kita.

Walaupun sudah pernah membaca beberapa kali seperti di sini dan di sini serta yang terbaru di sini mengenai nasib para veteran, tapi hal itu berbeda ketika melihat secara langsung gambar bergerak yang bercerita mengenai nasib mereka. Pada acara semalam diceritakan mengenai seorang nenek yang dulunya pernah ikut berjuang tapi sekarang malah harus hidup menumpang di mushala di daerah Cikini bersama dengan anak cucunya. Selain itu juga ada seorang kakek yang bercerita mengenai temannya yang juga pejuang 45, beliau hidup dari memulung sampah! Ada juga cerita para veteran yang gak boleh ziarah ke Taman Makam Pahlawan dan harus melalui perizinan yang sulit hanya untuk ziarah ke makam teman mereka.

Jadi bertanya, apakah begitu susahnya menghapus satu mata anggaran jalan-jalan bagi para pejabat atau anggota DPR/MPR/DPD dan memberikan anggarannya sebagai tunjangan veteran? Juga apakah susah untuk menunda pembangunan gedung baru DPR untuk membangun perumahan veteran? Aku yakin mereka gak minta rumah yang berada di tengah kota, cukup sebuah rumah dan sepetak tanah untuk bercocok tanam atau moda usaha bagi mereka dan anak cucunya.

Mengenai tunjangan atau pensiun juga kayaknya gak begitu aneh untuk memberikan pensiun setara seorang pejabat lokal untuk mereka. Berapa lama lagi sih sebenarnya mereka dan pasangan hidupnya (suami/istri) hidup di dunia? Maaf, bukannya nyumpahin mereka tapi itu kenyataannya. Mereka gak bakalan lama lagi umurnya di dunia ini sementara masa muda mereka telah “terbuang” untuk menjaga merah putih tetap berkibar di bumi pertiwi ini.

Aku yakin mereka juga gak minta banyak dari penyelenggara negara ini. Cuma rumah, sepetak tanah atau sedikit modal usaha untuk meyakinkan anak cucu mereka gak kelaparan ketika mereka tinggalkan. Kalau dulu mereka mau hidup susah demi negara ini mengapa sekarang negara ini tidak mau susah demi mereka?

Kalimat terakhir dari si nenek ketika tayangan berakhir sangat menohok, “dulu kami sudah berjuang masakan untuk rumah saja kami gak bisa dapat? Apalagi sekarang hidup pejabat kan sudah enak ya… naik turun mobil, rumah gedongan. Mbok ya dibantu para veteran untuk mendapatkan rumah” begitulah kira-kira kalimat si nenek yang veteran. Terenyuh…

Bung Karno pernah mengingatkan kita untuk Jas Merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah agar kita ingat kenapa kita mendirikan negara ini. Selain itu Bung Karno juga mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Masihkah kita merasa diri sebagai bangsa yang besar dengan kondisi para pahlawan yang terlantar?

Written by syahmins

Juni 22, 2011 pada 16:45

Ditulis dalam Jas Merah, Protes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: