the Journal

Archive for Juni 2011

Panduan Instalasi dan Konfigurasi DevInfo Web

leave a comment »


DevInfo adalah sebuah aplikasi gratis yang biasanya digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi sebuah kegiatan. Untuk keterangan lengkap mengenai aplikasi ini bisa dilihat di website mereka.

Aplikasi ini memiliki tiga bagian yang biasa disebut dengan modul yaitu:

  1. Modul Administrasi (administration module)
  2. Modul Pengguna (user module)
  3. Modul internet/intranet (web module)

Modul admin digunakan untuk membuat database dan menyiapkan tampilan dari database yang sudah dikustomisasi, modul pengguna sebagai tampilan dari database di komputer lokal sedangkan modul internet/intranet digunakan untuk fungsi yang sama dengan modul pengguna tetapi berjalan di web.

 

Tutorial ini adalah buku petunjuk yang dibuat oleh tim AcehInfo pada tahun 2010 pada saat pengembangan database AcehInfo 4. Pada tutorial ini akan dijelaskan mengenai cara instalasi aplikasi pada server yang menggunakan sistem operasi Microsoft Windows Server.

 

Silahkan klik di sini untuk mengunduh tutorial.

Written by syahmins

Juni 27, 2011 at 15:17

Berjuang Sampai Akhir – Potret Kehidupan Veteran RI

leave a comment »


Semalam iseng ganti-ganti channel tivi di rumah sampe tiba-tiba liat ada nenek-nenek pake baju veteran sedang diwawancara di TVRI. Wah acara menarik nih untuk memuaskan nafsu mengenai sejarah bangsa ini. Lupa dah sama film “Cat Woman” yang sedang tayang di salah satu tivi swasta.

Jadi singkatnya acara ini (dinamai dengan “Suara Liyan“) mengangkat kehidupan rakyat yang terpinggirkan dan cenderung tidak dianggap selama ini oleh kita semua. Episode semalam mengangkat tema “Berjuang Sampai Akhir” yang selama ini cenderung tidak dianggap ada oleh para pejabat. Mereka hanya menjadi wujud nyata ketika tanggal 17 Agustus untuk meramaikan upacara di Istana Merdeka atau di tempat-tempat lain yang mengingat mereka, selain itu mungkin tanggal 10 November adalah tanggal yang juga akan menampilkan mereka kembali ke hadapan kita.

Walaupun sudah pernah membaca beberapa kali seperti di sini dan di sini serta yang terbaru di sini mengenai nasib para veteran, tapi hal itu berbeda ketika melihat secara langsung gambar bergerak yang bercerita mengenai nasib mereka. Pada acara semalam diceritakan mengenai seorang nenek yang dulunya pernah ikut berjuang tapi sekarang malah harus hidup menumpang di mushala di daerah Cikini bersama dengan anak cucunya. Selain itu juga ada seorang kakek yang bercerita mengenai temannya yang juga pejuang 45, beliau hidup dari memulung sampah! Ada juga cerita para veteran yang gak boleh ziarah ke Taman Makam Pahlawan dan harus melalui perizinan yang sulit hanya untuk ziarah ke makam teman mereka.

Jadi bertanya, apakah begitu susahnya menghapus satu mata anggaran jalan-jalan bagi para pejabat atau anggota DPR/MPR/DPD dan memberikan anggarannya sebagai tunjangan veteran? Juga apakah susah untuk menunda pembangunan gedung baru DPR untuk membangun perumahan veteran? Aku yakin mereka gak minta rumah yang berada di tengah kota, cukup sebuah rumah dan sepetak tanah untuk bercocok tanam atau moda usaha bagi mereka dan anak cucunya.

Mengenai tunjangan atau pensiun juga kayaknya gak begitu aneh untuk memberikan pensiun setara seorang pejabat lokal untuk mereka. Berapa lama lagi sih sebenarnya mereka dan pasangan hidupnya (suami/istri) hidup di dunia? Maaf, bukannya nyumpahin mereka tapi itu kenyataannya. Mereka gak bakalan lama lagi umurnya di dunia ini sementara masa muda mereka telah “terbuang” untuk menjaga merah putih tetap berkibar di bumi pertiwi ini.

Aku yakin mereka juga gak minta banyak dari penyelenggara negara ini. Cuma rumah, sepetak tanah atau sedikit modal usaha untuk meyakinkan anak cucu mereka gak kelaparan ketika mereka tinggalkan. Kalau dulu mereka mau hidup susah demi negara ini mengapa sekarang negara ini tidak mau susah demi mereka?

Kalimat terakhir dari si nenek ketika tayangan berakhir sangat menohok, “dulu kami sudah berjuang masakan untuk rumah saja kami gak bisa dapat? Apalagi sekarang hidup pejabat kan sudah enak ya… naik turun mobil, rumah gedongan. Mbok ya dibantu para veteran untuk mendapatkan rumah” begitulah kira-kira kalimat si nenek yang veteran. Terenyuh…

Bung Karno pernah mengingatkan kita untuk Jas Merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah agar kita ingat kenapa kita mendirikan negara ini. Selain itu Bung Karno juga mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Masihkah kita merasa diri sebagai bangsa yang besar dengan kondisi para pahlawan yang terlantar?

Written by syahmins

Juni 22, 2011 at 16:45

Ditulis dalam Jas Merah, Protes

RI-002 Seulawah Inong Dari Siapa?

with 2 comments


Barusan baca di KoKi Detik mengenai kepahlawanan Robert (Bobby) Earl Freeberg, seorang Amerika yang menjadi pilot pesawat RI-002. Gak ada keberatan sih dengan artikel mengenai keberanian dia yang mau berdiri di pihak Indonesia pada masa perjuangan dulu.

Cuma satu ganjalan dari tulisan tersebut yaitu mengenai asal-usul pesawat Dakota RI-002 seperti yang dicopas dari tulisan tersebut:

Ada kesimpangsiuran informasi yang hingga kini belum terungkap. Menurut berita, pembelian pesawat RI-002 dibeli dengan mengunakan uang tabungan pribadi Bobby Freeberg. Sebagai catatan, pada masa setelah Perang Pasifik, banyak pesawat bekas pakai (war surplus) yan dijual bebas kepada umum. Pesawat-pesawat war surplus ini bisa dibeli dengan pilot atau tanpa pilotnya. Pihak AURI dikabarkan men-charter pesawat yang dipiloti oleh Bobby untuk menembus blokade udara yang dilakukan oleh militer Belanda.

Walaupun disebutkan adanya kesimpangsiuran informasi yang masih belum terungkap, bagian yang ditebalkan di atas adalah hal yang paling mengganggu bagiku. Banyak catatan sejarah masa lalu yang telah dicetak dalam bentuk buku-buku yang menjelaskan dengan jelas bahwa RI-001 dan RI-002 disumbangkan oleh rakyat Aceh sebagai salah satu hasil kunjungan kerja dari Presiden Soekarno.

Dikisahkan dalam banyak catatan ketika itu Presiden Soekarno “merajuk” meminta dukungan dari rakyat Aceh untuk perjuangan Republik, spontan ketika itu terkumpul sejumlah uang yang cukup untuk membeli sebuah pesawat yang kemudian diberi nama RI-001 Seulawah. Pada saat itu juga Gasida (Gabungan Saudagar Aceh) juga menjanjikan sebuah pesawat lagi yang akan diberikan kemudian kepada pemerintah pusat di Jakarta. Soekarno tentu saja menyambut hal itu dengan sangat gembira.

Salah satu sumber online mengenai hal ini dapat dibaca di sini.

Written by syahmins

Juni 18, 2011 at 13:50

Ditulis dalam Jas Merah, Protes

Senja di Pantai Lhoknga

leave a comment »


Written by syahmins

Juni 9, 2011 at 16:06

Ditulis dalam Foto, Tempat Menarik

Mesjid Ulheulheu

leave a comment »


 

Mesjid ini dulunya bernama Mesjid Ulheulheu (baca: Olele :D) tapi sekarang bernama Mesjid Baiturrahim. Masjid ini terletak tepat di pinggir pantai dan merupakan satu-satunya bangunan yang bertahan ketika tsunami datang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.

Ketika itu hampir dapat dikatakan tidak ada kerusakan berat pada mesjid ini, hanya pada lima hari setelah tsunami aku sempat melihat ada sebuah mobil yang sangkut di dinding lantai dua mesjid tersebut di arah laut. Beberapa dinding juga jebol terhantam sampah yang dibawa oleh air tsunami pada saat itu.

Sebuah sumur yang telah ada sebelum tsunami sampai sekarang juga tidak terganggu keberadaannya di halaman mesjid tersebut. Masih menghasilkan air yang dapat digunakan untuk wudhu oleh para jamaah. Shalat maghrib di mesjid ini terasa sangat seru, selesai menikmati sunset yang indah kita dapat shalat sambil mendengar debur ombak yang memecah di tepi pagar mesjid.

Written by syahmins

Juni 1, 2011 at 00:26

Ditulis dalam Foto, Tempat Menarik